Pangeran Bahrain Khalifa bin Salman, Pemimpin Terlama di Dunia, Tutup Usia

Kompas.com - 11/11/2020, 18:41 WIB
Dalam file foto 10 November 2016 ini, Perdana Menteri Bahrain Khalifa bin Salman Al Khalifa menyapa Pangeran Charles dari Inggris di Manama, Bahrain. Pangeran Bahrain, Khalifa bin Salman Al Khalifa tutup usia pada Rabu (11/11/2020). AP/Jon GambrellDalam file foto 10 November 2016 ini, Perdana Menteri Bahrain Khalifa bin Salman Al Khalifa menyapa Pangeran Charles dari Inggris di Manama, Bahrain. Pangeran Bahrain, Khalifa bin Salman Al Khalifa tutup usia pada Rabu (11/11/2020).

MANAMA, KOMPAS.com - Pangeran Khalif bin Salman Al Khalifa, perdana manteri terlama di dunia yang menjabat sejak kemerdekaan negara Bahrain tahun 1971, wafat pada Rabu (11/11/2020) di usia 84 tahun.

Melansir AFP, Pangeran Khalifa adalah sosok kontroversial yang telah menjabat sebagai perdana menteri di Bahrain, sosok Sunni yang memerintah negara dengan populasi muslim Syiah mayoritas.

Pangeran Khalifa wafat di Mayo Clinic Hospital di Amerika Serikat (AS) menurut keterangan kantor berita resmi Bahrain.

Baca juga: Bahrain-Israel Damai: Mesir Gembira, Turki dan Iran Murka

Upacara pemakaman akan dilakukan setelah jasad mendiang Pangeran Khalifa dipulangkan ke negaranya dan karena adanya aturan batasan di tengah wabah virus corona, hanya keluarga terdekat saja yang boleh mengikuti proses pemakaman.

Bahrain akan mengadakan masa berkabung selama satu pekan di mana bendera negara akan dikibarkan setengah tiang. Kementerian dan Departemen Pemerintah juga akan tutup selama 3 hari.

Khalifa bin Salman Al Khalifa telah memegang posisi penting dalam urusan politik dan ekonomi Bahrain selama lebih dari 3 dekade.

Baca juga: Bahrain dan Israel Tanda Tangani Kerja Sama Bilateral di Manama

Sekilas tentang Pangeran Khalifa bin Salman Al Khalifa

Pangeran Khalifa lahir pada 24 November 1935. Bersama kakak laki-lakinya, Pangeran Issa, mereka mulai menghadiri perhelatan istana ayah mereka pada usia 7 tahun.

Pada tahun 1970, Khalifa bin Salman diangkat sebagai kepala dewan negara, cabang eksekutif pemerintahan yang menjadi dewan menteri setelah merdeka dari Inggris.

Dia juga melakukan negosiasi yang alot dengan Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi sebelum kemerdekaan atas klaim Syiah Iran atas negara kepulauan itu.

Sebuah referendum untuk menentukan masa depan Bahrain menghasilkan suara yang luar biasa untuk mendukung kemerdekaan di bawah pemerintahan dinasti Sunni Al Khalifa, meskipun jumlah penduduk Syiahnya cukup besar.

Setelah kemerdekaan, pemerintahan Khalifa menghadapi protes keras dari kelompok politik kiri, yang menuntut legalisasi serikat buruh dan mengakibatkan penangkapan besar-besaran.

Baca juga: Tandatangani Kesepakatan Damai, Menlu Bahrain dan UEA Tiba di Gedung Putih

Pangeran Khalifa berjuang selama bertahun-tahun untuk membangun Bahrain sebagai pusat keuangan regional. Tidak seperti negara Teluk lainnya, kerajaan Bahrain hanya memiliki sumber daya minyak yang sedikit.

Bekerja sama dengan saudaranya, mendiang Emir Syekh Issa bin Salman Al Khalifa, mereka menyukai hubungan yang kuat dengan Washington.

Hubungan antar dua negara sejak itu terus tumbuh, dengan Bahrain sekarang menjadi tuan rumah Armada Kelima Angkatan Laut AS sebagai salah satu sekutu paling tepercaya Washington di wilayah tersebut.


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

WHO: Dunia di Ambang 'Bencana Moral' dalam Distribusi Vaksin Covid-19

WHO: Dunia di Ambang "Bencana Moral" dalam Distribusi Vaksin Covid-19

Global
Tingkatkan Kemampuan, Sniper Rusia Latihan di Suhu Minus 35 Derajat Celsius

Tingkatkan Kemampuan, Sniper Rusia Latihan di Suhu Minus 35 Derajat Celsius

Global
Diduga Diperkosa Kakeknya, Bocah 11 Tahun Meninggal karena Komplikasi Kehamilan

Diduga Diperkosa Kakeknya, Bocah 11 Tahun Meninggal karena Komplikasi Kehamilan

Global
 Nenek 70 Tahun Tertangkap Kamera Racuni Suami dengan Zat Pembunuh Serangga

Nenek 70 Tahun Tertangkap Kamera Racuni Suami dengan Zat Pembunuh Serangga

Global
Tempuh 2.000 Km demi Gadis yang Ditemui secara Online, Pria Ini Diciduk Polisi

Tempuh 2.000 Km demi Gadis yang Ditemui secara Online, Pria Ini Diciduk Polisi

Global
Bayi Trump yang Jadi Simbol Protes Dimuseumkan di London

Bayi Trump yang Jadi Simbol Protes Dimuseumkan di London

Global
Pekerja Tambang Emas China yang Terjebak Kirim Catatan Sepekan Kemudian, Apa Isinya?

Pekerja Tambang Emas China yang Terjebak Kirim Catatan Sepekan Kemudian, Apa Isinya?

Global
Jalan Kaki ke AS Melalui Guatemala, Migran Honduras Bentrok dengan Aparat

Jalan Kaki ke AS Melalui Guatemala, Migran Honduras Bentrok dengan Aparat

Global
Setelah Biden Dilantik, Korea Selatan Ingin AS Lanjutkan Pembicaraan dengan Korea Utara

Setelah Biden Dilantik, Korea Selatan Ingin AS Lanjutkan Pembicaraan dengan Korea Utara

Global
Intelijen AS Sebut Peneliti Lab Wuhan Alami Gejala Covid-19 di Musim Gugur 2019

Intelijen AS Sebut Peneliti Lab Wuhan Alami Gejala Covid-19 di Musim Gugur 2019

Global
Tantangan Mi Instan Beku Viral pada Musim Dingin di Rusia

Tantangan Mi Instan Beku Viral pada Musim Dingin di Rusia

Global
AS Kirim Pengebom B-52 ke Timur Tengah, Iran Beri Kritik Pedas

AS Kirim Pengebom B-52 ke Timur Tengah, Iran Beri Kritik Pedas

Global
Seorang Pramugari Bagikan Informasi tentang Apa yang Seharusnya Tidak Pernah Dikonsumsi di Pesawat

Seorang Pramugari Bagikan Informasi tentang Apa yang Seharusnya Tidak Pernah Dikonsumsi di Pesawat

Global
Maling Kaget Ada Anak Kecil di Mobil Curiannya, Balik Lagi lalu Ceramahi Ibunya

Maling Kaget Ada Anak Kecil di Mobil Curiannya, Balik Lagi lalu Ceramahi Ibunya

Global
10 'Kejahatan' yang Bisa Membuat Donald Trump Dijebloskan ke Penjara

10 "Kejahatan" yang Bisa Membuat Donald Trump Dijebloskan ke Penjara

Global
komentar
Close Ads X