Pengunduran Diri 'Putra Mahkota' Turki ‘Lukai’ Presiden Erdogan

Kompas.com - 11/11/2020, 10:42 WIB
Berat Albayrak (belakang) mendampingi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, saat menjamu Presiden Iran, Hassan Rouhani, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kepresiden di Ankara, April 2018. DW IndonesiaBerat Albayrak (belakang) mendampingi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, saat menjamu Presiden Iran, Hassan Rouhani, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kepresiden di Ankara, April 2018.

KOMPAS.com - Sebagai menteri keuangan, Berat Albayrak meniti dua tahun penuh ketidakpastian ekonomi, menyusul perlambatan pertumbuhan, pandemi Covid-19 dan anjloknya mata uang Lira sebanyak 45 persen.

Melansir Associated Press (AP), pengunduran diri Albayrak yang mendadak dan disampaikan dengan cara yang tak lazim pada Minggu (8/11/2020) malam waktu setempat melalui Instagram, mengejutkan pemerintah.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sering diklaim ingin menjadikan menantunya yang berusia 42 tahun itu sebagai putra mahkota yang kelak menggantikannya di pucuk kepemimpinan partai.

Baca juga: Erdogan hingga Kim Jong Un, Deretan Pemimpin Ini Belum Ucapkan Selamat ke Biden

Albayrak mengundurkan diri hanya satu hari setelah Presiden Erdogan memecat gubernur Bank Sentral, dan mengabaikan usulan menantunya terkait siapa yang akan mengisi posisi kunci tersebut.

Albayrak mengklaim unggahan di Instagram tidak dialamatkan kepada Erdogan, “tetapi buat masyarakat,” katanya. Dia mengaku keputusan itu diambil lantaran masalah kesehatan.

Unggahan Albayrak diikuti sikap diam pemerintah yang membutuhkan hingga 24 jam untuk merespons pernyataan tersebut.

Baca juga: Perancis: Erdogan Mengumumkan Kekerasan

 

Malam itu pula Erdogan sebenarnya dijadwalkan berpidato di Provinsi Kocaeli dalam Kongres AKP. Dia dikabarkan datang terlambat setelah dua jam.

Presiden Erdogan, begitu tertulis dalam keterangan pers pemerintah, menerima pengunduran diri Albayrak.

Pada Selasa pagi (10/11/2020 ) pemerintah Turki mengumumkan bekas Wakil Perdana Menteri, Lutfi Elvan, akan mengisi posisi kunci di pucuk Kementerian Keuangan.

Baca juga: Dituding Bersekutu dengan Erdogan, Perancis Larang Kelompok Ini Beraktivitas

Pengorbanan politik demi penerus tahta

Perkembangan teranyar di Ankara itu dinilai partai oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP), sebagai pertanda berkecamuknya “krisis negara”.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X