Jaga Perdamaian di Nagorno-Karabakh, Rusia Terjunkan Pasukan Penjaga Perdamaian

Kompas.com - 11/11/2020, 08:40 WIB
Tak kurang dari 11.000 prajurit dan berbagai peralatan tempur militer Rusia dipamerkan dalam peringatan 69 tahun kemenangan atas Nazi Jerman di Lapangan Merah, Moskwa, Jumat (9/5/2014). Rusia hingga kini merupakan negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di seluruh dunia. KIRILL KUDRYAVTSEV / AFPTak kurang dari 11.000 prajurit dan berbagai peralatan tempur militer Rusia dipamerkan dalam peringatan 69 tahun kemenangan atas Nazi Jerman di Lapangan Merah, Moskwa, Jumat (9/5/2014). Rusia hingga kini merupakan negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di seluruh dunia.

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia mulai mengerahkan hampir 2.000 personel peacekeepers alias pasukan penjaga perdamaian ke wilayah sengketa Nagorno-Karabakh pada Selasa (10/11/2020).

Pengerahan pasukan tersebut dilakukan setelah Armenia dan Azerbaijan menandatangani pakta untuk mengakhiri pertempuran di wilayah tersebut.

Pasukan yang dikirim Rusia tersebut rinciannya adalah1.960 personel peacekeepers, 90 kendaran pengangkut personel lapis baja, dan 380 kendaraan ke wilayah tersebut.

Di Nagorno-Karabakh, Azerbaijan memperoleh keuntungan teritorial besar dalam pertempuran sengit selama satu setengah bulan terakhir.

Perjanjian tersebut memicu kegembiraan dan perayaan di Azerbaijan dan sebaliknya memicu kemarahan di Armenia sebagaimana dilansir dari Deutsche Welle.

Baca juga: Poin-poin Utama Kesepakatan Gencatan Senjata Armenia-Azerbaijan

Massa di Armenia turun ke jalan, menyerbu gedung-gedung pemerintah, dan mengecam para pemimpin mereka atas kerugian di wilayah tersebut.

Armenia dan Azerbaijan mulai berselisih ihwal wilayah Nagorno-Karabakh sejak Uni Soviet runtuh pada awal dekade 1990-an.

Setelah pakta tersebut ditandatangani, Azerbaijan akan mempertahankan kendali atas daerah-daerah yang direbut dalam pertempuran, termasuk kota utama Shusha.

Di sisi lain, Armenia menyetujui kerangka waktu untuk mundur dari sebagian besar wilayah Nagorno-Karabakh.

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menyebut perjanjian itu menyakitkan baginya dan bagi rakyatnya.

Baca juga: Menang Perang di Nagorno-Karabakh, Begini Taktik Azerbaijan Lawan Armenia

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X