Pilpres Amerika: Kepala Pemilu Rusia Beberkan Banyak Celah Pemalsuan Suara

Kompas.com - 09/11/2020, 18:02 WIB
Foto tertanggal 3 November 2020 menunjukkan petugas TPS menyortir surat suara pemilu AS di gedung Kenosha Municipal pada hari pemilihan. AP PHOTO/WONG MAYE-EFoto tertanggal 3 November 2020 menunjukkan petugas TPS menyortir surat suara pemilu AS di gedung Kenosha Municipal pada hari pemilihan.

MOSKWA, KOMPAS.com - Kepala pemilu Rusia pada Senin (9/11/2020) berkata, pemungutan suara di pilpres AS (pemilihan presiden Amerika Serikat) melalui kiriman surat memiliki banyak celah untuk penipuan suara besar-besaran.

Pernyataan itu sependapat dengan yang disebut Donald Trump, saat menolak metode mail-in ballots di pemilu AS.

Ella Pamfilova kepala komisi pemilihan Rusia berujar, dia sudah mempelajari dengan cermat pemungutan suara melalui surat di Amerika Serikat, dan menemukan prosesnya rawan terjadi penipuan.

Baca juga: Kemenangan Joe Biden di Pilpres AS Belum Diakui China, Kenapa?

"Bagi saya kesimpulannya jelas: anakronisme dalam bentuk Amerika ini menciptakan ruang yang sangat besar untuk kemungkinan pemalsuan," ujarnya kepada kantor berita pemerintah Rusia TASS, dikutip Kompas.com dari AFP.

Dia menyebut adanya kemungkinan pemungutan suara ulang, hilangnya surat suara yang tak terduga dan tak dapat dijelaskan, pengambilan suara dari orang-orang yang sudah meninggal, dan kurangnya kontrol sistemik atas seluruh proses pemungutan suara.

Trump telah menolak mengakui kekalahan dari presiden terpilih AS Joe Biden, dan mencoba menebar keraguannya tentang hasil pemilu tapi tanpa memberi bukti.

Baca juga: Trump Kalah Pilpres AS, Hak Istimewanya di Twitter Bakal Hilang

Kritik dari Presiden ke-45 AS itu menyoroti lonjakan surat suara tahun ini di pilpres Amerika Serikat dan sangat condong ke Demokrat.

Sebelumnya Rusia sempat dituduh ikut campur dalam pemilu Amerika Serikat 2016 untuk membantu Trump terpilih, dengan harapan dia akan bersikap lebih lembut ke Moskwa.

Biden sebaliknya diperkirakan akan bersikap lebih keras, dan selama kampanye mengecam Trump karena merangkul banyak otokrat di dunia, dimulai dengan (Presiden Rusia) Vladimir Putin.

Putin sendiri adalah satu dari segelintir kepala negara yang belum memberi selamat ke kemenangan Biden di pilpres Amerika 2020.

Baca juga: Trump Kalah Pemilu AS, Tim Kampanyenya Siapkan Gugatan di Berbagai Negara Bagian


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Krisis Mereda, Raja Jordania dan Pangeran Hamzah Ziarah Bersama

Krisis Mereda, Raja Jordania dan Pangeran Hamzah Ziarah Bersama

Global
Jaga-jaga Perang Lawan China, Taiwan Modernisasi Alutsista

Jaga-jaga Perang Lawan China, Taiwan Modernisasi Alutsista

Global
PBB Takut Konflik di Myanmar Akan Seperti Perang Saudara di Suriah

PBB Takut Konflik di Myanmar Akan Seperti Perang Saudara di Suriah

Global
Menteri Kesehatan Austria Mundur karena Lelah Tangani Wabah Covid-19

Menteri Kesehatan Austria Mundur karena Lelah Tangani Wabah Covid-19

Global
Netizen Indonesia Disebut Tak Sopan se-Asia Tenggara, Ini 5 'Serangan' Mereka

Netizen Indonesia Disebut Tak Sopan se-Asia Tenggara, Ini 5 "Serangan" Mereka

Global
Jatuh Cinta, Seorang Pastor di Italia Mengundurkan Diri

Jatuh Cinta, Seorang Pastor di Italia Mengundurkan Diri

Global
Ramadhan 2021, KBRI Roma Adakan Beragam Acara Virtual, Ini Jadwalnya

Ramadhan 2021, KBRI Roma Adakan Beragam Acara Virtual, Ini Jadwalnya

Global
Pengantin Gay Thailand Tuntut Netizen Indonesia di Jalur Hukum Usai Diancam Mati

Pengantin Gay Thailand Tuntut Netizen Indonesia di Jalur Hukum Usai Diancam Mati

Global
Nasib Para Mantan Juara Tinju Kenya, Hidup dalam Kemiskinan dan Depresi

Nasib Para Mantan Juara Tinju Kenya, Hidup dalam Kemiskinan dan Depresi

Internasional
Inilah Para Korban Penembakan Maut Aparat Myanmar, dari Penyuka TikTok hingga Tukang Ojek

Inilah Para Korban Penembakan Maut Aparat Myanmar, dari Penyuka TikTok hingga Tukang Ojek

Global
Kelinci Terbesar di Dunia Hilang, Imbalan Rp 20 Juta bagi yang Menemukan

Kelinci Terbesar di Dunia Hilang, Imbalan Rp 20 Juta bagi yang Menemukan

Global
Duterte Siap Lepas Jatah Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya...

Duterte Siap Lepas Jatah Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya...

Global
Istri Kerja Diduga Selingkuh, Suami Membunuhnya di Tengah Jalan dan Dibiarkan Warga

Istri Kerja Diduga Selingkuh, Suami Membunuhnya di Tengah Jalan dan Dibiarkan Warga

Global
Ingin Cium Bau Sepatu Wanita, Pria Ini Nekat Lakukan Pencurian

Ingin Cium Bau Sepatu Wanita, Pria Ini Nekat Lakukan Pencurian

Global
Aligator 3,6 Meter Ini Ditangkap dan Dibedah, Misteri Selama 20 Tahun Terpecahkan

Aligator 3,6 Meter Ini Ditangkap dan Dibedah, Misteri Selama 20 Tahun Terpecahkan

Global
komentar
Close Ads X