Joe Biden dan Lima Alasan di Balik Kemenangan dalam Pemilu Amerika Serikat

Kompas.com - 08/11/2020, 15:02 WIB
Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden bersama istrinya, Dr Jill Biden, melambaikan tangan ke arah suporter setelah memberikan pidato dari Chase Center di Wilmington, Delaware, pada 7 November 2020. Setelah empat hari dengan tensi tinggi di Pilpres AS, Biden terpilih sebagai pemenang mengalahkan petahana Donald Trump. AFP PHOTO/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/Andrew Harnik/POOLPresiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden bersama istrinya, Dr Jill Biden, melambaikan tangan ke arah suporter setelah memberikan pidato dari Chase Center di Wilmington, Delaware, pada 7 November 2020. Setelah empat hari dengan tensi tinggi di Pilpres AS, Biden terpilih sebagai pemenang mengalahkan petahana Donald Trump.

WILMINGTON, KOMPAS.com - Setelah hampir 50 tahun memegang jabatan publik, dan ambisi seumur hidup untuk menjadi presiden, Joe Biden telah memenangkan Gedung Putih.

Ini bukanlah kampanye yang diprediksi siapa pun. Dan terjadi di tengah pandemi sekali-dalam-satu abad serta kerusuhan sosial yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia mencalonkan diri melawan petahana yang tidak konvensional dan menentang preseden.

Tetapi dalam ikhtiar ketiganya untuk menjadi presiden, Biden dan timnya menemukan cara untuk melalui berbagai rintangan politik dan meraih kemenangan yang, meskipun tipis dalam penghitungan suara elektoral, diproyeksikan melampaui perolehan suara nasional Trump hingga jutaan suara.

Baca juga: Pilpres AS: Pesan Persatuan Para Pemimpin Dunia kepada Joe Biden dan Kamala Harris

Inilah lima alasan putra seorang penjual mobil asal Delaware ini akhirnya meraih kursi kepresidenan.

1. Covid, Covid, Covid

Barangkali alasan terbesar Biden memenangkan kursi kepresidenan adalah satu hal yang sepenuhnya di luar kendalinya.

Pandemi virus corona, selain merenggut lebih dari 230.000 nyawa, juga telah mengubah kehidupan dan politik Amerika pada tahun 2020. Dan pada hari-hari terakhir kampanye pemilu, Donald Trump sepertinya juga mengakui hal tersebut.

"Dengan beredarnya berita palsu, semuanya adalah Covid, Covid, Covid, Covid," kata presiden pada pawai pekan lalu di Wisconsin, tempat kasus Covid-19 telah melonjak dalam beberapa hari terakhir.

Bagaimanapun, fokus media pada Covid-19 lebih merupakan cerminan daripada pendorong kekhawatiran publik tentang pandemi - terlihat dalam hasil jajak pendapat tentang penanganan krisis yang tidak menguntungkan sang presiden.

Sebuah jajak pendapat bulan lalu oleh Pew Research menunjukkan Biden mendapat 17 poin persentase lebih unggul dari Trump dalam hal kepercayaan atas cara mereka menangani wabah Covid.

Baca juga: Akankah Kemenangan Biden di Pilpres AS 2020 Mengakhiri Tren Politik Identitas?

Pandemi, dan kemerosotan ekonomi yang menyusulnya, membuat Trump harus melepas pesan kampanye pilihannya tentang pertumbuhan dan kemakmuran. Ia juga menyoroti kekhawatiran banyak rakyat Amerika atas kepresidenannya, atas kurangnya fokus, kecenderungan untuk mempertanyakan sains, kesembronoan dalam menangani kebijakan-kebijakan besar maupun kecil, dan prioritas untuk politik partisan.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Warga Heboh Ada Makhluk Aneh di Pohon sampai Telepon Polisi, Ternyata...

Warga Heboh Ada Makhluk Aneh di Pohon sampai Telepon Polisi, Ternyata...

Global
Warga Korea Utara Rayakan Ulang Tahun Kakek Kim Jong Un

Warga Korea Utara Rayakan Ulang Tahun Kakek Kim Jong Un

Global
Tegang dengan Ukraina, Rusia Tank Catnya dengan 'Garis Invasi'

Tegang dengan Ukraina, Rusia Tank Catnya dengan "Garis Invasi"

Global
1.000 Orang Mandi Massal di Sungai Gangga Positif Covid-19, Panitia: Kami Percaya 'Ibu' Akan Menyelamatkan

1.000 Orang Mandi Massal di Sungai Gangga Positif Covid-19, Panitia: Kami Percaya "Ibu" Akan Menyelamatkan

Global
Entesar Al-Hammadi Ditahan Houthi, Pemerintah Yaman Serukan PBB Turun Tangan

Entesar Al-Hammadi Ditahan Houthi, Pemerintah Yaman Serukan PBB Turun Tangan

Global
Olimpiade Tokyo Tanpa Ragu-ragu Harus Dibatalkan jika Covid-19 Jepang Semakin Parah

Olimpiade Tokyo Tanpa Ragu-ragu Harus Dibatalkan jika Covid-19 Jepang Semakin Parah

Global
Digigit Ular Beludak Afrika Tanpa Penawar, Ini Gejala yang Bisa Dialami Petugas San Diego Zoo

Digigit Ular Beludak Afrika Tanpa Penawar, Ini Gejala yang Bisa Dialami Petugas San Diego Zoo

Global
Entesar Al-Hammadi Diculik dan Dituduh Melakukan Tindakan Kriminal oleh Houthi

Entesar Al-Hammadi Diculik dan Dituduh Melakukan Tindakan Kriminal oleh Houthi

Global
AS Tarik Pasukan dari Afghanistan, Taliban: Kami Menang Perang

AS Tarik Pasukan dari Afghanistan, Taliban: Kami Menang Perang

Global
Kirim Pesan Cabul ke Anak Buahnya, Bos Ini Dipukul Kain Pel

Kirim Pesan Cabul ke Anak Buahnya, Bos Ini Dipukul Kain Pel

Global
Perancis Imbau Semua Warganya Tinggalkan Pakistan, Ada Apa?

Perancis Imbau Semua Warganya Tinggalkan Pakistan, Ada Apa?

Global
Ratu Elizabeth Larang Seragam Militer di Pemakaman Pangeran Philip, Demi Harry...

Ratu Elizabeth Larang Seragam Militer di Pemakaman Pangeran Philip, Demi Harry...

Global
AS Bakal Sanksi Rusia atas Tuduhan Peretasan dan Intervensi Pilpres

AS Bakal Sanksi Rusia atas Tuduhan Peretasan dan Intervensi Pilpres

Global
6 Tokoh Sejarah di Balik Kisah Pembunuhan Sadis

6 Tokoh Sejarah di Balik Kisah Pembunuhan Sadis

Internasional
Jalankan Puasa, 2 Satpam di Malaysia Ini Disiksa Majikan

Jalankan Puasa, 2 Satpam di Malaysia Ini Disiksa Majikan

Global
komentar
Close Ads X