Perancis: Erdogan "Mengumumkan Kekerasan"

Kompas.com - 05/11/2020, 19:58 WIB
Dalam foto yang diambil pada 5 Januari 2018, Presiden Perancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjalan selama konferensi pers di Champs Elysee di Paris. AFP/POOL/LUDOVIC MARINDalam foto yang diambil pada 5 Januari 2018, Presiden Perancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjalan selama konferensi pers di Champs Elysee di Paris.

PARIS, KOMPAS.com - Perancis mengecam Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang mereka anggap sudah "mengumumkan kekerasan" dan mempertimbangkan menjatuhkan sanksi.

Dalam beberapa bulan terakhir, Erdogan terlibat ketegangan dengan Presiden Emmanuel Macron akan beberapa isu geopolitik.

Mereka bersitegang mulai dari Libya, Suriah, Mediterania, hingga yang terbaru adalah upaya "Negeri Anggur" dalam memerangi radikalisme.

Baca juga: Dituding Bersekutu dengan Erdogan, Perancis Larang Kelompok Ini Beraktivitas

"Saat ini terdapat deklarasi kekerasan, bahkan kebencian, yang sudah dikumandangkan Presiden Erdogan dan tak bisa kami terima," kata Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian.

Pada Rabu (4/11/2020), Turki sudah menyatakan mereka bakal membalas "setegas mungkin" setelah Perancis melarang grup ultra-nasionalis Grey Wolves.

Kepada radio Europe1, Le Drian mengatakan tidak hanya Perancis yang menjadi sasaran Erdogan. Tetapi juga solidaritas yang ditunjukkan Eropa.

"Kami meminta Turki untuk segera melepaskan logika seperti itu," keluh Le Drian sebagaimana diberitakan kantor berita AFP Kamis (5/11/2020).

Dewan Eropa, kata Le Drian, sudah memutuskan untuk mengambil sikap kepada Ankara. Dia menasihati Ankara untuk menghindarinya.

"Hal ini berarti tekanan. Terdapat agenda untuk menjatuhkan sanksi," jelas diplomat yang menjadi menteri luar negeri sejak 2017.

Pada ketegangan terbaru, Erdogan menyerukan kepada warganya untuk memboikot produk Perancis buntut pernyataan Emmanuel Macron.

Dia merujuk kepada ucapan Macron yang menolak untuk menurunkan kartun Nabi Muhammad pasca-kasus seorang guru dipenggal pada Oktober lalu.

Si guru bernama Samuel Paty dipenggal oleh remaja Chechen berusia 18 tahun, setelah dia menunjukkan kartun itu kepada muridnya sebagai bagian dari kebebasan berekspresi.

Baca juga: Presiden Perancis Sebut Erdogan Harus Tunjukkan Hormat dan Tak Boleh Bohong


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pada Hari Pelantikan, Biden Akan Ubah Aturan Trump Soal Larangan Masuk bagi Beberapa Negara Muslim

Pada Hari Pelantikan, Biden Akan Ubah Aturan Trump Soal Larangan Masuk bagi Beberapa Negara Muslim

Global
Setelah Vaksinasi, Apakah Manusia Sudah Tidak Dapat Menularkan Covid-19?

Setelah Vaksinasi, Apakah Manusia Sudah Tidak Dapat Menularkan Covid-19?

Global
Pecahkan Rekor, Lukisan Kartun Tintin Terjual Rp 66 Miliar

Pecahkan Rekor, Lukisan Kartun Tintin Terjual Rp 66 Miliar

Global
Perancis Tuduh Iran Kembangkan Senjata Nuklir, Ini Jawaban Teheran

Perancis Tuduh Iran Kembangkan Senjata Nuklir, Ini Jawaban Teheran

Global
Menteri Keuangan Portugal Dinyatakan Positif Covid-19 Setelah Bertemu Pejabat UE

Menteri Keuangan Portugal Dinyatakan Positif Covid-19 Setelah Bertemu Pejabat UE

Global
Biden Akan Cabut Beberapa Kebijakan Trump di Hari Pertama sebagai Presiden AS

Biden Akan Cabut Beberapa Kebijakan Trump di Hari Pertama sebagai Presiden AS

Global
Paus Fransiskus Doakan Korban Jatuhnya Sriwijaya Air dan Gempa Sulbar

Paus Fransiskus Doakan Korban Jatuhnya Sriwijaya Air dan Gempa Sulbar

Global
Hanya 5 Hari, China Bangun RS Khusus Covid-19 dengan 1.500 Kamar

Hanya 5 Hari, China Bangun RS Khusus Covid-19 dengan 1.500 Kamar

Global
Trump Akan Balas Dendam ke 10 Republikan yang Memakzulkannya

Trump Akan Balas Dendam ke 10 Republikan yang Memakzulkannya

Global
Seorang Remaja Selamatkan Keluarga yang Kehilangan Indra Penciuman karena Covid-19 dari Lalapan Api

Seorang Remaja Selamatkan Keluarga yang Kehilangan Indra Penciuman karena Covid-19 dari Lalapan Api

Global
2 Pesawat Pengebom AS Dikabarkan Menuju Teluk Persia

2 Pesawat Pengebom AS Dikabarkan Menuju Teluk Persia

Global
5 Perang Terlama dalam Sejarah Dunia, Ada yang Sampai 781 Tahun

5 Perang Terlama dalam Sejarah Dunia, Ada yang Sampai 781 Tahun

Global
Bangkai Kapal Inggris Zaman Penjajahan Muncul Usai Banjir Surut, tapi Rusak Dipreteli Warga

Bangkai Kapal Inggris Zaman Penjajahan Muncul Usai Banjir Surut, tapi Rusak Dipreteli Warga

Global
Tak Mampu Bayar Perawatan, Gadis dengan Gangguan Mental Dikurung Keluarganya di Kandang

Tak Mampu Bayar Perawatan, Gadis dengan Gangguan Mental Dikurung Keluarganya di Kandang

Global
Polisi Akhirnya Pecahkan Kasus Pemerkosa Berantai yang Teror Perkumpulan Mahasiswa Kulit Hitam Selama Satu Dekade

Polisi Akhirnya Pecahkan Kasus Pemerkosa Berantai yang Teror Perkumpulan Mahasiswa Kulit Hitam Selama Satu Dekade

Global
komentar
Close Ads X