Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Digambarkan secara Cabul, Erdogan Sebut Charlie Hebdo Brengsek

Kompas.com - 28/10/2020, 21:43 WIB
Ardi Priyatno Utomo

Penulis

Sumber AFP

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut majalah satir Perancis Charlie Hebdo "brengsek", setelah dia digambarkan secara cabul.

Tak hanya itu. Ankara juga berencana untuk mengajukan "aksi diplomatik maupun hukum" setelah karikatur sang presiden yabg dipajang di halaman depan.

Dalam kartun di bagian depan itu, mantan Wali Kota Istanbul itu digambarkan hanya memakai pakaian dalam dengan membawa sekaleng bir.

Baca juga: Charlie Hebdo Dianggap Hina Erdogan, Turki Murka

Publikasi cabul yang dilakukan Charlie Hebdo itu tak pelak makin memperuncing ketegangan antara dua negara anggota NATO itu.

Erdogan menyatakan, dia tidak pernah melihat gambar majalah satir itu. Sebab, dia merasa tidak perlu memberi "kredit atas perilaku amoral".

"Saya tak perlu mengatakan apa pun kepada si brengsek yang sudah menghina nabi saya seperti itu," tegasnya dalam pidato di parlemen.

Dia menyatakan sedih dan frustrasi bukan karena dia menjadi sasaran dari majalah itu. Melainkan kartun Nabi Muhammad yang menuai kontroversi.

"Jahat dan jelek"

Turki, meski merupakan negara sekuler, mayoritas penduduknya beragama Islam. Negara itu menjadi lebih konservatif dan nasionalis sejak Erdogan memerintah.

Baca juga: Presiden Perancis dan Kontroversi Kartun Nabi Muhammad

Kebijakan yang dibawa mantan Perdana Menteri Turki itu membuat mereka berseberangan dengan Perancis yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron.

Macron sendiri sudah menegaskan dia tidak akan menurunkan kartun Nabi Muhammad sejak kasus guru Sejarah yang dipenggal oleh remaja Chechen berusia 18 tahun.

Dilansir AFP Rabu (28/10/2020), Erdogan menuding "Macron dan yang sejiwa dengannya" melakukan "kebijakan jahat, jelek, dan provokatif untuk menebar kebencian".

Karena gambar cabul yang dibuat oleh Charlie Hebdo itu, jaksa penuntut Ankara menyatakan bahwa mereka bakal menggelar penyelidikan.

Baca juga: Kontroversi Kartun Nabi Muhammad di Perancis, Tagar #IStandWithFrance Viral di India

Erdogan sendiri sebelumnya sudah menyerukan kepada publik untuk memboikot produk "Negeri Anggur", setelah Macron menolak menurunkan kartun Nabi Muhammad.

Bahkan, presiden berusia 66 tahun tersebut menyindir Emmanuel Macron untuk melakukan "periksa mental" karena sikapnya terhadap Islam radikal.

Paris langsung merespons dengan memanggil pulang duta besarnya di Ankara. Charlie Hebdo sendiri sudah pernah menjadi sasaran kemarahan pada 2015.

Saat itu, 12 orang stafnya tewas oleh dua bersaudara Cherif dan Said Kouachi, setelah sebelumnya mereka mengunggah gambar kontroversi itu.

Baca juga: Disebut Teroris, Erdogan Gugat Politisi Sayap Kanan Belanda Geert Wilders

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com