Demonstran Thailand Minta Jerman Selidiki Raja Maha Vajiralongkorn

Kompas.com - 27/10/2020, 21:28 WIB
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn. Via IndependentRaja Thailand Maha Vajiralongkorn.

BANGKOK, KOMPAS.com - Demonstran di Thailand meperlebar aksi mereka, di mana mereka menuntut Jerman untuk menyelidiki Raja Maha Vajiralongkorn.

Dalam aksi mereka di depan Kedutaan Besar Jerman, massa meminta agar Berlin menyelidiki dugaan sang raja memerintah selama mengungsi di Bavaria.

Demonstrasi itu dilakukan sembari mereka tetap mengecam parlemen mereka, yang melakukan sidang darurat selama dua hari sejak Senin (26/10/2020).

Baca juga: Oposisi kepada PM Thailand: Tolong Mundurlah

Sidang istimwa itu dihelat menyikapi krisis di mana pengunjuk rasa ingin Perdana Menteri Prayut Chan-o-Cha mundur, reformasi monarki dan konstitusi.

Massa meyakini Raja Thailand sejak 2016 itu memegang kekuasaan yang terlampau besar, dalam sistem pemerintahan monarki konstitusional.

Dilaporkan jurnalis Associated Press, massa yang berjumlah sekitar 5.000 sampai 10.000 orang itu bergerak menuju Kedutaan Jerman.

Mengabaikan peringatan polisi bahwa aksi mereka ilegal, demonstran meminta agar "Negeri Bir" menyelidiki momen selama Raja Maha Vajiralongkorn berada di sana.

Adapun sepetti diberitakan Channel News Asia Selasa (27/10/2020), sang raja saat ini berada di Thailand untuk urusan seremonial.

Perwakilan kelompok itu menyatakan, mereka sudah mengirim surat ke staf kedutaan, yang isinya meminta agar Jerman menggelar penyelidikan.

Baca juga: Pengawalnya Positif Covid-19, Raja Thailand Dilarikan ke Rumah Sakit

Mereka ingin mengetahui apakah selama berada di "Negeri Bir", raja berusia 68 tahun itu mengatur politik Thailand dari sana atau tidak.

Kegiatan pemerintahan itu bisa dipandang melanggar kedaulatan Jerman, dan meminta Berlin untuk memulangkan sang raja agar memulihkan kondisi.

Sebagai tambahan, massa juga menyerukan poin demi poin mengapa mereka berani untuk mengkritik raja berjuk Rama X tersebut.

Berlin sendiri sebenarnya sudah membahas isu itu pada awal Oktober, ketika Menteri Luar Negeri Heiko Maas merepons pertanyaan anggota parlemen.

Pada Senin, Maas berbicara lagi di mana dia menuturkan pemerintahan Kanselir Angela Merkel paham akan situasi politik "Negeri Gajah Putih".

Baca juga: Viral Video Raja Thailand Vajiralongkorn Ucapkan Terima Kasih kepada Pendukungnya

Maas juga memastikan bahwa mereka tahu mengenai tuntutan pengunjuk rasa, sekaligus menyatakan sudah mengamati gerak-gerik Raja Vajiralongkorn.

"Kami mengamatinya sudah lama, tak hanya dalam beberapa pekan terakhir. Jika dirasa kegiatannya menyimpang, maka kami harus mengambil langkah tegas," kata dia.

Selama masih berstatus putra mahkota, Raja Maha Vajiralongkorn sudah tinggal di Jerman. Tapi tindakannya jadi sorotan sejak menggantikan ayahnya, mendiang Raja Bhumibol Adulyadej.

Raja Bhumibol, yang memerintah selama 70 tahun sebelum wafat pada 2016, memang sering bepergian saat awal kekuasaannya.

Namun selepas dekade 1960-an, dia baru sekali meninggalkan Thailand. Itu pun karena dia memutuskan untuk menginap di negara tetangga Laos.

Keputusan Raja Vajiralongkorn tinggal di luar negeri membuatnya tidak perlu menunjuk wakil selama di luar kerajaan, berdasarkan konstitusi baru.

Baca juga: Sederet Skandal Raja Thailand Maha Vajiralongkorn


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Trump “Obral” Hak Prerogatif, Rencana Beri 100 Grasi Sekaligus di Hari Terakhir Kepresidenan

Trump “Obral” Hak Prerogatif, Rencana Beri 100 Grasi Sekaligus di Hari Terakhir Kepresidenan

Global
Kelompok Bersenjata Serang Kamp Pengungsi di Sudan, 80 Orang Tewas

Kelompok Bersenjata Serang Kamp Pengungsi di Sudan, 80 Orang Tewas

Global
Khawatir Ancaman dari Dalam, Personel Garda Nasional Diperiksa FBI

Khawatir Ancaman dari Dalam, Personel Garda Nasional Diperiksa FBI

Global
Partai Republik Serukan Persatuan meski Enggan Akui Biden Menang secara Adil

Partai Republik Serukan Persatuan meski Enggan Akui Biden Menang secara Adil

Global
Para Pemohon Grasi Dikabarkan Bayar Sekutu Trump untuk Lobi Presiden AS

Para Pemohon Grasi Dikabarkan Bayar Sekutu Trump untuk Lobi Presiden AS

Global
Kronologi Tewasnya Pramugari Christine Dacera, CCTV Rekam Belasan Pria Keluar Masuk Kamarnya

Kronologi Tewasnya Pramugari Christine Dacera, CCTV Rekam Belasan Pria Keluar Masuk Kamarnya

Global
Kerusuhan Remaja di Tunisia, Tandai 10 Tahun Sejak Pengunduran Diri Ben Ali

Kerusuhan Remaja di Tunisia, Tandai 10 Tahun Sejak Pengunduran Diri Ben Ali

Global
Turki Dituduh “Korbankan” Muslim Uighur demi Vaksin Covid-19

Turki Dituduh “Korbankan” Muslim Uighur demi Vaksin Covid-19

Global
10 Pendaki Nepal Ukir Sejarah dengan Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Dunia

10 Pendaki Nepal Ukir Sejarah dengan Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Dunia

Global
3 Negara Kepung Rusia, Kecam Penangkapan Alexei Navalny

3 Negara Kepung Rusia, Kecam Penangkapan Alexei Navalny

Global
Terjadi Kematian Driver Ojek Online Makanan di China Selama Pandemi Covid-19, Perusahaan Disalahkan

Terjadi Kematian Driver Ojek Online Makanan di China Selama Pandemi Covid-19, Perusahaan Disalahkan

Global
Mesir Temukan Kuil Ratu Neit dan Kertas Berisi Mantra dari 'Dunia Bawah'

Mesir Temukan Kuil Ratu Neit dan Kertas Berisi Mantra dari 'Dunia Bawah'

Global
Tahanan Palestina Dapat Vaksin Covid-19 di Penjara Israel

Tahanan Palestina Dapat Vaksin Covid-19 di Penjara Israel

Global
Australia Batal Bunuh Joe, Merpati yang Sempat Diduga Terbang dari AS

Australia Batal Bunuh Joe, Merpati yang Sempat Diduga Terbang dari AS

Global
Pekerja Malaysia Bagikan Kisah Pengalaman Vaksinasi di Singapura

Pekerja Malaysia Bagikan Kisah Pengalaman Vaksinasi di Singapura

Global
komentar
Close Ads X