Suriah Digempur Serangan Udara Rusia, 78 Pemberontak Tewas

Kompas.com - 27/10/2020, 07:09 WIB
Gambar yang diambil pada 1 Februari 2020 menunjukkan kendaraan militer Turki di pos observasi kota Saraqeb, timur Idlib, Suriah, di mana jalurnya mengarah ke persimpangan dekat kota tetangga Aleppo. AFP/OMAR HAJ KADOURGambar yang diambil pada 1 Februari 2020 menunjukkan kendaraan militer Turki di pos observasi kota Saraqeb, timur Idlib, Suriah, di mana jalurnya mengarah ke persimpangan dekat kota tetangga Aleppo.

IDLIB, KOMPAS.com - Serangan udara Rusia yang merupakan sekutu rezim Damaskus, menewaskan 78 pemberontak yang didukung Turki di Suriah barat laut pada Senin (26/10/2020).

Sementara itu lebih dari 90 lainnya terluka saat pesawat tempur Rusia menargetkan kamp pelatihan faksi Faylaq Al Sham di daerah Jabal Duwayli di kota Idlib, kata Observatorium HAM Suriah yang dikutip AFP.

Serangan besar sebelumnya terjadi pada Desember yang menewaskan lebih dari 500 warga sipil dan membuat lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Baca juga: Saat Makan Malam Para Pemimpin Milisi di Suriah Tewas Diserang Pesawat Tak Berawak AS

Kepala Observatorium Rami Abdel Rahman menggambarkan serangan pada Senin di dekat perbatasan Turki sebagai "yang paling mematikan sejak gencatan senjata berlaku".

Dia juga menerangkan, itu adalah serangan udara Rusia yang korbannya terbanyak, terhadap pemberontak dalam satu hari sejak intervensi militer Moskwa di Suriah pada 2015.

Di Idlib seorang jurnalis AFP melihat puluhan warga menghadiri permakaman beberapa prajurit. Kepala mereka menunduk dengan tangan tergenggam dan berbaris rapi di depan peti mati.

Baca juga: Mufti Damaskus Suriah Syekh Adnan Al Afyouni Tewas dalam Ledakan Bom Mobil

Front Pembebasan Nasional (NLF) mengatakan kepada AFP, serangan Rusia kemarin menghantam salah satu posnya dan memakan korban, tapi tidak membeberkan angka korban tewas.

Juru bicara NLF Sayf Raad mengecam "pesawat Rusia dan pasukan rezim terus menerus melanggar kesepakatan Turki-Rusia dengan menargetkan pos-pos militer, desa, dan kota."

Gencatan senjata Maret sebagian besar masih berlangsung, meski beberapa pengeboman silih berganti terjadi.

Baca juga: Pemenggal Kepala Guru di Perancis Memiliki Kontak dengan Milisi di Suriah

Serangan udara Rusia dari waktu ke waktu menargetkan pos-pos militer, termasuk kelopmpok yang didukung Turki, kata Abdel Rahman.

Sejumlah analis menilai serangan kemarin adalah peringatan bagi Ankara, karena Turki mengirim proksi Suriahnya untuk berperang dalam konflik di Nagorno-Karabakh dan Libya.

Baca juga: Suriah Minta Tukar Sandera dengan Keringanan Sanksi dan Penarikan Pasukan AS


Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X