Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Kompas.com - 26/10/2020, 09:34 WIB
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin AP PHOTO/VINCENT THIANPerdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com – Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dilaporkan oleh sejumlah media lokal mempertimbangkan mundur, setelah permohonannya mendeklarasikan darurat nasional ditolak oleh Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah.

Muhyiddin yang baru berkuasa 8 bulan merasa putus asa telah kehilangan mandat untuk memerintah setelah penolakan dari raja.

Akan tetapi politisi berusia 73 tahun itu akhirnya mengurungkan niatnya setelah dibujuk untuk bertahan oleh menteri-menteri kabinetnya yang berurai air mata, lapor The Vibes pada Minggu malam (25/10/2020).

Dia kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintahannya menghormati keputusan Sultan Abdullah.

Baca juga: Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Tidak perlu darurat nasional

Setelah menggelar pertemuan darurat dengan sultan-sultan dari negara bagian lainnya, Sultan Abdullah memutuskan Malaysia tidak memerlukan darurat nasional.

Sultan dari negara bagian Pahang itu menilai pemerintahan Muhyiddin telah menangani penyebaran pandemi Covid-19 dengan baik.

Namun Sultan Abdullah juga menyampaikan kecemasan akan melesatnya kembali kasus virus corona di Malaysia.

Dia menekankan pentingnya anggaran belanja negara yang akan diajukan ke parlemen bulan depan.

Baca juga: Di Umur 95 Tahun, Mahathir Mohamad Kembali Calonkan Diri sebagai PM Malaysia

Anggaran ini krusial untuk memerangi gelombang kedua Covid-19 yang sedang mendera "Negeri Jiran", serta menggerakkan kembali ekonomi yang masih terguncang.

Raja berusia 61 tahun itu meminta politisi untuk berhenti bermanuver berebut kekuasaan yang mengancam stabilitas pemerintahan.

Dia pun menambahkan dalam pernyataannya agar politisi bekerja sama kembali dengan menepikan perbedaan untuk menangani krisis kesehatan ini.

Goyahnya pemerintahan Muhyiddin

Muhyiddin mengajukan proposal rencana deklarasi darurat dan pembekuan atau pembubaran parlemen kepada Sultan Abdullah, Jumat pekan lalu (23/10/2020).

Rencana yang menggemparkan Malaysia ini akan memberikan kekuasaan tidak terbatas kepada Muhyiddin untuk memerintah, di mana dia tidak memerlukan persetujuan parlemen guna mengeksekusi kebijakannya.

Baca juga: Dikepung UMNO, Anwar dan Mahathir, Apakah Muhyiddin Bertahan Jadi PM Malaysia?

Keadaan darurat ditujukan untuk menanggulangi penyebaran pandemi Covid-19 serta mengakhiri kemelut politik perebutan kekuasaan, antara pemerintahan aliansi Perikatan Nasional pimpinan Muhyiddin dan aliansi oposisi Pakatan Harapan pimpinan Anwar Ibrahim.

Kebijakan yang khususnya dimaksud adalah anggaran belanja negara 2021 yang akan di-voting 6 November mendatang.

Anggaran ini kemungkinan besar tidak lolos di parlemen, karena mayoritas sangat tipis yang dikontrol Muhyiddin yaitu 113 dari 222 kursi Dewan Rakyat.

Konflik internal antara Partai Bersatu pimpinan Muhyiddin dan mitra koalisi Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), memunculkan kekhawatiran anggaran itu akan ditolak oleh parlementarian dari UMNO.

Baca juga: Pengamat Tak Yakin Mahathir Bakal Dapat Dukungan untuk Jadi PM Malaysia Ketiga Kalinya

Jika anggaran ditolak, pemerintahan Muhyiddin kehilangan kepercayaan parlemen dan otomatis jatuh. Jika ini terjadi Muhyiddin dapat mengajukan usul pembubaran parlemen untuk menggelar pemilu dini kepada Sultan Abdullah.

Namun ide menggelar pemilu dini sangat berisiko tinggi di tengah tingginya kasus virus corona di Malaysia. Apalagi meningkatnya kasus itu ditengarai karena pemilu di negara bagian Sabah akhir September lalu.

Opsi lain yang dapat diambil raja adalah menunjuk perdana menteri baru.

Rencana darurat Muhyiddin dikritik pedas oleh publik Malaysia termasuk dari politisi UMNO, dan terutama dari kubu oposisi yang khawatir demokrasi Malaysia akan terancam.

Oposisi menuduh Muhyiddin menyadari dia telah kehilangan mayoritasnya dan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan menggunakan opsi darurat nasional.

Malaysia terakhir kali mengumumkan keadaan darurat pada 1969 karena kerusuhan rasial. Ketika itu konstitusi dan parlemen dibekukan.

Baca juga: Pemilu Sabah Jadi Ujian Besar Muhyiddin, Bagaimana Peluangnya?


Sumber The Vibes
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

2,1 Juta Vaksin Covid-19 Pfizer Akan Tersedia untuk Lebanon

2,1 Juta Vaksin Covid-19 Pfizer Akan Tersedia untuk Lebanon

Global
Belum Resmi Pindah Rumah, Kedatangan Trump Sudah Ditolak Tetangga

Belum Resmi Pindah Rumah, Kedatangan Trump Sudah Ditolak Tetangga

Global
Trump “Obral” Hak Prerogatif, Rencana Beri 100 Grasi Sekaligus di Hari Terakhir Kepresidenan

Trump “Obral” Hak Prerogatif, Rencana Beri 100 Grasi Sekaligus di Hari Terakhir Kepresidenan

Global
Kelompok Bersenjata Serang Kamp Pengungsi di Sudan, 80 Orang Tewas

Kelompok Bersenjata Serang Kamp Pengungsi di Sudan, 80 Orang Tewas

Global
Khawatir Ancaman dari Dalam, Personel Garda Nasional Diperiksa FBI

Khawatir Ancaman dari Dalam, Personel Garda Nasional Diperiksa FBI

Global
Partai Republik Serukan Persatuan meski Enggan Akui Biden Menang secara Adil

Partai Republik Serukan Persatuan meski Enggan Akui Biden Menang secara Adil

Global
Para Pemohon Grasi Dikabarkan Bayar Sekutu Trump untuk Lobi Presiden AS

Para Pemohon Grasi Dikabarkan Bayar Sekutu Trump untuk Lobi Presiden AS

Global
Kronologi Tewasnya Pramugari Christine Dacera, CCTV Rekam Belasan Pria Keluar Masuk Kamarnya

Kronologi Tewasnya Pramugari Christine Dacera, CCTV Rekam Belasan Pria Keluar Masuk Kamarnya

Global
Kerusuhan Remaja di Tunisia, Tandai 10 Tahun Sejak Pengunduran Diri Ben Ali

Kerusuhan Remaja di Tunisia, Tandai 10 Tahun Sejak Pengunduran Diri Ben Ali

Global
Turki Dituduh “Korbankan” Muslim Uighur demi Vaksin Covid-19

Turki Dituduh “Korbankan” Muslim Uighur demi Vaksin Covid-19

Global
10 Pendaki Nepal Ukir Sejarah dengan Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Dunia

10 Pendaki Nepal Ukir Sejarah dengan Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Dunia

Global
3 Negara Kepung Rusia, Kecam Penangkapan Alexei Navalny

3 Negara Kepung Rusia, Kecam Penangkapan Alexei Navalny

Global
Terjadi Kematian Driver Ojek Online Makanan di China Selama Pandemi Covid-19, Perusahaan Disalahkan

Terjadi Kematian Driver Ojek Online Makanan di China Selama Pandemi Covid-19, Perusahaan Disalahkan

Global
Mesir Temukan Kuil Ratu Neit dan Kertas Berisi Mantra dari 'Dunia Bawah'

Mesir Temukan Kuil Ratu Neit dan Kertas Berisi Mantra dari 'Dunia Bawah'

Global
Tahanan Palestina Dapat Vaksin Covid-19 di Penjara Israel

Tahanan Palestina Dapat Vaksin Covid-19 di Penjara Israel

Global
komentar
Close Ads X