Biden Unggul Jauh dari Trump di Polling, Jaminan Menang Pilpres AS?

Kompas.com - 18/10/2020, 14:07 WIB
Calon Presiden Partai Republik Presiden Petahana Donald Trump berdebat dengan Calon Presiden Partai Demokrat mantan Wakil Presiden Joe Biden di kampus Universitas Case Western Reserve, Cleveland, Ohio, Selasa malam (29/09/2020)  AFP via GETTY IMAGESCalon Presiden Partai Republik Presiden Petahana Donald Trump berdebat dengan Calon Presiden Partai Demokrat mantan Wakil Presiden Joe Biden di kampus Universitas Case Western Reserve, Cleveland, Ohio, Selasa malam (29/09/2020)

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Calon presiden Amerika Serikat ( AS) dari Partai Demokrat Joe Biden masih mempertahankan keunggulan telaknya atas Presiden Donald Trump, dalam polling pemilihan presiden (pilpres) AS.

Dengan 16 hari tersisa sebelum pemilihan pada 3 November, Biden unggul 9 poin persentase secara nasional dari Trump, menurut rata-rata jajak pendapat dari situs RealClearPolitics.

Namun kemenangan Trump di pilpres 2016 menimbulkan pertanyaan, apakah benar hasil polling akan mencerminkan hasil akhir pemilihan kali ini?

Baca juga: Trump: Penjarakan Biden, Penjarakan Keluarga Korup

1. Kunci di Electoral College

Di AS capres tidak bisa melenggang ke Gedung Putih hanya bermodalkan suara pemilihan dari rakyat saja, tapi ditentukan oleh Electoral College.

Pada 2016 Trump kalah suara dari Hillary Clinton di pemilihan, tetapi memenangkan cukup banyak negara bagian di Electoral College.

Tahun ini enam negara bagian dipandang sebagai kunci untuk melenggang ke Gedung Putih, yaitu Florida, North Carolina, Arizona, Wisconsin, Pennsylvania, dan Michigan.

Baca juga: Biden Satu Pesawat dengan Orang Positif Covid-19, Harris Tunda Kampanye

2. Di mana titik balik 2016?

Saat itu polling di malam pemungutan suara dengan tepat memprediksi sedikit keunggulan nasional untuk Clinton, "tempat di mana kesalahan pemungutan suara terjadi di beberapa negara bagian Midwestern" yang akhirnya dimenangkan Trump, kata Chris Jackson dari Ipsos Public Affairs kepada AFP.

Dia menerangkan, kurangnya perwakilan dalam sampel polling penduduk kulit putih tanpa gelar sarjana yang memilih Trump adalah salah satu penyebabnya.

Mayoritas lembaga polling mengatakan, mereka telah memperbaiki metodenya untuk mencegah kesalahan serupa terulang lagi.

Di luar itu lembaga-lembaga polling juga mencatat konsistensi. Sejak musim semi Biden unggul dengan rata-rata tidak pernah turun di bawah empat poin persentase.

Baca juga: Trump Protes Facebook dan Twitter karena Berusaha Tutupi Kasus Joe Biden dan Putranya

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Italia Tawarkan Vaksinasi Covid-19 Gratis Dimulai dari Dokter dan Penghuni Panti Jompo

Italia Tawarkan Vaksinasi Covid-19 Gratis Dimulai dari Dokter dan Penghuni Panti Jompo

Global
PM Thailand Menangkan Pertarungan Hukum dan Tetap Menjabat

PM Thailand Menangkan Pertarungan Hukum dan Tetap Menjabat

Global
Lebih dari 900 Tentara Bayaran Suriah Pro-Turki Dipulangkan Usai Perang Azerbaijan-Armenia

Lebih dari 900 Tentara Bayaran Suriah Pro-Turki Dipulangkan Usai Perang Azerbaijan-Armenia

Global
Pria di India Diarak Telanjang karena Tuduh Saudara-saudaranya Berbuat Kriminal di Facebook Live

Pria di India Diarak Telanjang karena Tuduh Saudara-saudaranya Berbuat Kriminal di Facebook Live

Global
Iran Ancam Akan Serang UEA, Jika Diserang AS Lewat Negara Teluk Itu

Iran Ancam Akan Serang UEA, Jika Diserang AS Lewat Negara Teluk Itu

Global
Selir Thailand Sineenat Terancam Digulingkan Lagi Pasca Ratusan Foto Seksual Beredar

Selir Thailand Sineenat Terancam Digulingkan Lagi Pasca Ratusan Foto Seksual Beredar

Global
Inggris Jadi Negara Pertama yang Setuju Penggunaan Vaksin Pfizer-BioNTech

Inggris Jadi Negara Pertama yang Setuju Penggunaan Vaksin Pfizer-BioNTech

Global
[POPULER GLOBAL] Curhat Pramugari Korban PHK Jualan Elpiji untuk Sambung Hidup | Sebelum Zanziman Ellie Lahir, Ibunya Minta Ini kepada Tuhan

[POPULER GLOBAL] Curhat Pramugari Korban PHK Jualan Elpiji untuk Sambung Hidup | Sebelum Zanziman Ellie Lahir, Ibunya Minta Ini kepada Tuhan

Global
Interpol Peringatkan Kampanye Vaksinasi Terancam Disusupi Kelompok Kriminal

Interpol Peringatkan Kampanye Vaksinasi Terancam Disusupi Kelompok Kriminal

Global
Model Semi-Telanjang Berjoget di Piramida Mesir, Langsung Diciduk Polisi

Model Semi-Telanjang Berjoget di Piramida Mesir, Langsung Diciduk Polisi

Global
Uni Eropa Alokasikan Dana Rp 341 Miliar Lebih untuk Program Baru ASEAN Atasi Covid-19

Uni Eropa Alokasikan Dana Rp 341 Miliar Lebih untuk Program Baru ASEAN Atasi Covid-19

Global
Paus Fransiskus Kunjungi dan Cium Tangan Eks Paus Benediktus XVI

Paus Fransiskus Kunjungi dan Cium Tangan Eks Paus Benediktus XVI

Global
Putin Puji Keberanian PM Armenia yang Tandatangani Kesepakatan Damai Nagorno-Karabakh

Putin Puji Keberanian PM Armenia yang Tandatangani Kesepakatan Damai Nagorno-Karabakh

Global
Lawan China, Sejumlah Politisi Dunia Ajak Publik Minum Wine Australia

Lawan China, Sejumlah Politisi Dunia Ajak Publik Minum Wine Australia

Global
Trump Ancam Veto Anggaran Belanja Militer, Ada Apa?

Trump Ancam Veto Anggaran Belanja Militer, Ada Apa?

Global
komentar
Close Ads X