Jika Terpilih Jadi Presiden, Joe Biden Akan Berjumpa dengan Kim Jong Un

Kompas.com - 11/10/2020, 19:15 WIB
Democratic presidential candidate and former Vice President Joe Biden speaks about climate change and wildfires affecting western states, Monday, Sept. 14, 2020, in Wilmington, Del. (AP Photo/Patrick Semansky) Patrick SemanskyDemocratic presidential candidate and former Vice President Joe Biden speaks about climate change and wildfires affecting western states, Monday, Sept. 14, 2020, in Wilmington, Del. (AP Photo/Patrick Semansky)

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden akan berjumpa dengan Kim Jong Un, Pemimpin Tertinggi Korea Utara jika memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS).

Sputnik News melaporkan dari kantor berita Yonhap Minggu, (11/10/2020) bahwa penasihat Joe Biden, Brian McKeon menyebut rencana pertemuan itu sebagai upaya memfasilitasi denuklirisasi di Korea Utara.

"Pertemuan apapun harus didului oleh beberapa pekerjaan diplomatik yang serius di tingkat yang lebih rendah daripada sekadar bertemu antara pemimpin karena seperti yang diketahui, setiap negosiasi rumit seperti soal nuklir Korea Utara tidak bisa diharapkan sekadar pertemuan puncak satu atu dua jam saja," ujar McKeon.

Baca juga: Debat Kedua Capres AS Trump dan Joe Biden Dibatalkan

McKeon yang saat ini sedang cuti dari posisinya sebagai Direktur Senior di Penn Biden Center for Diplomacy and Global Engagement menekankan bahwa pendekatan antara mantan wakil presiden Joe Biden terhadap Korut akan berbeda dari pendekatan yang dilakukan presiden AS Donald Trump.

Menurut McKeon juga, pertemuan antara Joe Biden dengan Kim Jong Un akan menjadi mungkin terlaksana apabila ada sinyal-sinyal kemajuan yang signifikan.

"Saya pikir, dia (Biden) akan berkenan berjumpa dengan Kim jika itu adalah bagian dari strategi aktual yang mampu menggerakkan tujuan denuklirisasi," ungkap McKeon pada Kamis (8/10/2020).

Baca juga: Trump yang Positif Covid-19, Tolak Model Virtual untuk Debat Kedua dengan Joe Biden

McKeon mengecam Trump karena telah melakukan "pertemuan antar pemimpin" dengan Korut tanpa terlebih dahulu memetakan strategi "untuk mencapai tujuan bersama".

Presiden Trump sering membanggakan "hubungan hebat" dengan pemimpin Korea Utara, sambil menggembar-gemborkan manfaat ekonomi dari denuklirisasi bagi negara komunis tersebut.

Sementara, pihak Korea Utara membuat sikap sebaliknya.

Baca juga: Usai Debat dan Terinfeksi Covid-19, Trump Makin Tercecer Jauh dari Joe Biden di Survei Pilpres AS

Seperti diwartakan Kompas.com sebelumnya, Korea Utara ( Korut) melontarkan kecaman kepada AS, di peringatan dua tahun pertemuan perdana Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un.

Serangan itu merupakan penghinaan bagi Presiden AS, yang selalu menggemborkan hubungannya dengan Pyongyang sebagai kunci sukses pemerintahannya.

Baik Trump dan Kim Jong Un pertama kali bertemu di Singapura pada Juni 2018, dengan total mereka sudah melangsungkan tiga pertemuan.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X