Duterte Respons Tudingan Perang Lawan Narkoba di Filipina Tewaskan Ribuan Orang

Kompas.com - 07/10/2020, 16:10 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte ketika berbicara selepas kunjungan dari Israel di Bandara Internasional Davao City, Davao, pada 8 September 2018. REUTERS PHOTO/Lean Daval JrPresiden Filipina Rodrigo Duterte ketika berbicara selepas kunjungan dari Israel di Bandara Internasional Davao City, Davao, pada 8 September 2018.

MANILA, KOMPAS.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte merespons tudingan perang melawan narkoba yang dijalankannya membunuh ribuan orang.

Dalam pidato yang disiarkan pada Senin malam waktu setempat (5/10/2020), dia tak membantah telah terjadi kematian brutal di negaranya.

Presiden yang akrab disapa Digong itu mengaku dia segera memerintahkan jajarannya mencari tahu mengenai kebearan tudingan itu.

Baca juga: Untuk Pertama Kalinya Presiden Duterte Kritik China di Sidang Umum PBB

Namun, Duterte membantah tewasnya ribuan orang di Filipina terjadi karena operasi penumpasan narkoba yang selama ini sudah dilakukannya.

Dilansir VOA Indonesia Selasa (6/10/2020), presiden 75 tahun itu mengatakan dia diberi tahu sejumlah pengedar tewas karena beberapa hal.

Antara lain karena persaingan di antara sindikat maupun pencurian uang hasil transaksi jual beli barang haram, dan berujung pembunuhan.

Sejak presiden berjuluk The Punisher itu menjabat pada 2016, sekitar 5.800 orang pengedar narkoba tewas dan 256.000 lainnya tertangkap.

Kelompok pembela hak asasi manusia menuding, kebanyakan dari korban tewas sebagai akibat dari pembunuhan yang disengaja.

Namun, Duterte dan kepolisian di Filipina bersikukuh pengedar yang terbunuh umumnya terjadi karena melawan ketika berusaha ditangkap.

Negara Barat sudah menyerukan agar penyelidikan independen atas pembunuhan yang terus terjadi, bahkan di tengah pandemi virus corona.

Mantan Wali Kota Davao tersebut dengan tegas menolaknya. Bahkan menyebut seruan itu merupakan bentuk intervensi terhadap negaranya.

Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) menuturkan, mereka sedang mengevaluasi gugatan mengenai kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Tetapi, sampai saat ini mereka belum memutuskan apakah sudah ada cukup bukti untuk segera memulai penyelidikan resmi.

Baca juga: Diminta Membayar Vaksin Corona Sebelum Diproduksi, Duterte: Anda Gila


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X