Pemilu Kirgistan Kacau dan Ricuh, Akankah Berujung Revolusi?

Kompas.com - 06/10/2020, 17:23 WIB
Seorang demonstran di Bishkek, Kirgizstan, lari dari kejaran aparat keamanan, 5 Oktober 2020. SPUTNIK/TABYLDY KADYRBEKOV via DW INDONESIASeorang demonstran di Bishkek, Kirgizstan, lari dari kejaran aparat keamanan, 5 Oktober 2020.

BISHKEK, KOMPAS.com - Presiden Kirgistan Sooronbai Jeenbekov menerangkan, dia masih memegang kendali di negara itu dan sudah memerintahkan aparat agar tidak melepaskan tembakan kepada demonstan.

Situasi saat ini masih kacau dan simpang siur, setelah aksi massa yang pecah jadi kerusuhan melanda kota-kota besar.

Ribuan orang menggelar protes Senin (5/10/2020) setelah dua partai mapan, salah satunya dekat dengan Presiden Sooronbai Jeenbekov, menurut hasil sementara menyapu kemenangan besar pada pemilu parlemen Minggu (4/10/2020).

Baca juga: Sempat Umumkan Pensiun, Mahathir akan Kembali Maju pada Pemilu Berikutnya

Para pengunjuk rasa menuntut hasil pemilu harus dibatalkan. Media lokal melaporkan Selasa (6/10/2020), Komisi Pemilu menyatakan akan mempertimbangkan permintaan mereka.

Kantor berita Rusia RIA mengutip juru bicara Presiden Sooronbai Jeenbekov yang mengatakan bahwa dia juga tidak menutup kemungkinan untuk membatalkan hasil pemilu yang jadi sengketa.

Massa menerobos gedung pemerintahan di Bishkek, Kirgizstan, 5 Oktober 2020.REUTERS/VLADIMIR PIROGOV via DW INDONESIA Massa menerobos gedung pemerintahan di Bishkek, Kirgizstan, 5 Oktober 2020.
Aksi massa pasca-pemilu berubah jadi kerusuhan

Polisi dilaporkan berusaha membubarkan protes di ibu kota Bishkek Senin malam. Tetapi pengunjuk rasa kembali ke alun-alun di pusat kota beberapa jam kemudian dan menerobos masuk ke gedung pemerintahan, kata situs web lokal.

Bangunan yang dikenal publik sebagai sebagai Gedung Putih sempat terbakar pada Selasa pagi, tetapi kobaran api segera dipadamkan.

Para pengunjuk rasa kemudian masuk ke markas besar Keamanan Nasional dan membebaskan mantan presiden Almazbek Atambayev, yang dijatuhi hukuman penjara lima tahun atas tuduhan korupsi setelah berselisih dengan penggantinya, Sooronbai Jeenbekov.

Baca juga: 13 Fakta Sejarah Pemilu AS di Masa Kolonial yang Sangat Berbeda

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X