Tawarkan Hubungan Damai kepada Pakistan, Afghanistan: Sudahi Retorika Basi dan Teori Konspirasi

Kompas.com - 29/09/2020, 20:07 WIB
Dalam foto ini disediakan oleh Kementerian Luar Negeri Pakistan, Abdullah Abdullah (kiri) ketua Dewan Tinggi Rekonsiliasi Nasional Afghanistan, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi, saat bertemu, di Islamabad, Pakistan, pada Senin, 28 September 2020. Pejabat tertinggi Afghanistan dalam negosiasi dengan Taliban tiba di ibu kota Pakistan pada Senin dalam perjalanan 3 hari, di mana ia akan bertemu dengan perdana menteri negara itu dan pejabat pemerintah lainnya. Ministry of Foreign Affairs via APDalam foto ini disediakan oleh Kementerian Luar Negeri Pakistan, Abdullah Abdullah (kiri) ketua Dewan Tinggi Rekonsiliasi Nasional Afghanistan, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi, saat bertemu, di Islamabad, Pakistan, pada Senin, 28 September 2020. Pejabat tertinggi Afghanistan dalam negosiasi dengan Taliban tiba di ibu kota Pakistan pada Senin dalam perjalanan 3 hari, di mana ia akan bertemu dengan perdana menteri negara itu dan pejabat pemerintah lainnya.

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Kepala tim negosiasi perdamaian Afghanistan, Abdullah Abdullah dalam kunjungannya pada Selasa (29/9/2020) ke Pakistan mengatakan bahwa saat ini adalah waktunya untuk Afghanistan dan Pakistan membangun hubungan damai.

Kedua negara harus saling menghindari kecurigaan, " retorika basi" dan teori yang melelahkan, yang telah membuntuti negara bertetangga ini di masa lalu, kata Abdullah.

Abdullah berada di Pakistan untuk pertama kalinya setelah 12 tahun tahun, membawa misi membangun hubungan yang dimaksudkan untuk memperbaiki ketidakpercayaan yang mengakar antara kedua negara, seperti yang dilansir Associated Press pada Selasa (29/9/2020). 

Abdullah mengatakan kepada Institute of Strategic Studies di ibu kota federal Islamabad, bahwa kedua negara bertetangga ini sedangan berada dalam permulaan hubungan baru, yang ditandai dengan "saling menghormati, kerja sama yang tulus, dan kemakmuran bersama".

Baca juga: Perjanjian Damai Taliban-Afghanistan, Ini Tuntutan Paling Pelik

"Saya sangat yakin bahwa setelah bertahun-tahun yang penuh masalah, kita sekarang harus sudahi retorika basi dan teori konspirasi bayangan yang telah menahan kita," kata Abdullah.

Ia melanjutkan dnegan berkata, “Kami tidak dapat menjalankan usaha seperti biasa. Kami membutuhkan pendekatan baru dan masyarakat kami menuntutnya. Lebih mendesak dari sebelumnya untuk melihat kawasan kami sebagai satu kawasan.”

Pernyataan Abdullah muncul menjelang pertemuannya dengan kekuatan panglima militer dan perdana menteri Pakistan, pada Selasa malam.

Pada saat yang sama di tempat terpisah, Afghanistan juga tengah menghadapi peristiwa genting bersejarah, yaitu negosiasi perdamaian perang dengan Taliban, di Qatar.

Baca juga: Pasukan Taliban Kembali Perangi Pasukan Afghanistan Setelah Dibebaskan

Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri, Imran Khan, Pakistan telah mengadvokasi untuk mengakhiri politik perang Afghanistan. Bahkan sebelum berkuasa pada 2018, Imran Khan telah mengupayakan jalur damai.

Ia telah menjadi kritikus kuat atas apa yang disebut Washington perang melawan teror, namun hal itu telah menyebabkan puluhan ribu orang Pakistan dan Afghanistan tewas.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X