Pengunjuk Rasa Thailand Marah, Parlemen Tunda Keputusan Reformasi Konstitusi

Kompas.com - 25/09/2020, 10:46 WIB
Para demonstran pro-demokrasi mengibarkan bendera nasional di lapangan Sanam Luang, saat berdemo di Bangkok, Thailand, Sabtu (19/9/2020). Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan hari itu untuk mendukung para mahasiswa yang berunjuk rasa mendesak digelarnya pemilu baru dan merombak sistem kerajaan. AP PHOTO/WASON WANICHAKORNPara demonstran pro-demokrasi mengibarkan bendera nasional di lapangan Sanam Luang, saat berdemo di Bangkok, Thailand, Sabtu (19/9/2020). Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan hari itu untuk mendukung para mahasiswa yang berunjuk rasa mendesak digelarnya pemilu baru dan merombak sistem kerajaan.

BANGKOK, KOMPAS.com - Anggota parlemen menunda keputusan tentang reformasi konstitusi pada Kamis (24/9/2020), yang memicu kemarahan di antara pengunjuk rasa di luar parlemen yang menuntut perubahan isi piagam militer kerajaan dan reformasi monarki yang tidak dapat disangkal.

Melansir AFP pada Kamis (24/9/2020), anggota parlemen diharapkan memberikan suara untuk membentuk sebuah komite rancangan reformasi sebagai tanggapan atas gerakan pro-demokrasi yang sedang berkembang, yang memobilisasi 30.000 demonstran pada pekan lalu.

Demonstrasi tersebut merupakan kekuatan terbesar dari massa terhadap kerajaan sejak kudeta 2014.

Namun, langkah pembentukan komite rancangan reformasi tersebut ditunda ketika partai yang berkuasa mengusulkan komite parlemen untuk mempelajari lebih lanjut 6 amandemen yang diusulkan massa.

Baca juga: Mulai Berani Pertanyakan Raja Thailand, Anak Muda Ini Jadi Sorotan

Di antara lebih dari 1.000 pengunjuk rasa di luar parlemen, salah seorang demonstran Tattep "Ford" Ruangprapaikitseree mengatakan bahwa pemerintah berusaha "mengulur waktu" dengan langkah penundaan tersebut.

"Itu menunjukkan ketidaktulusan mereka terhadap rakyat Thailand. Kami tidak bisa menerimanya," kata Ruangprapaikitseree kepada AFP. 

Para pengunjuk rasa berdiri di atas pagar untuk memasang stiker pro-demokrasi tinggi di gerbang yang ditutup di parlemen saat penjaga mengawasi.

Pengunjuk rasa yang lain kemudian menyemprotkan garis stensil pada sebuah plakat, yang telah dipasang selama aksi protes akhir pekan lalu di taman Sanam Luang yang bersejarah.

Baca juga: Plakat Menantang Raja Thailand Dicopot, Demonstran Bersumpah Akan Balas

Apa yang disebut "Plakat Rakyat" itu, lalu dihapus oleh polisi.

Raja Maha Vajiralongkorn duduk di puncak kekuasaan Thailand, didukung oleh militer kerajaan dan klan miliarder kerajaan.

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X