Taiwan Desak China Mundur: Kembali ke Standar Internasional yang Beradab

Kompas.com - 23/09/2020, 07:10 WIB
Lima helikopter jenis AH1W melintas ketika digelar latihan perang Han Kuang, yang mensimulasikan invasi China di Taichung, Taiwan, pada 16 Juli 2020. REUTERS PHOTO/ANN WANGLima helikopter jenis AH1W melintas ketika digelar latihan perang Han Kuang, yang mensimulasikan invasi China di Taichung, Taiwan, pada 16 Juli 2020.

TAIPEI, KOMPAS.com - Taiwan menuntut China agar "mundur" dan menuduhnya mengancam perdamaian.

Pernyataan itu dikeluarkan Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu pada Selasa (22/9/2020) setelah seorang pejabat Beijing menolak perbatasan laut yang dihormati antara Taiwan dan China.

Wu mendesak Beijing untuk "kembali ke standar internasional yang beradab" setelah seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan tidak ada yang disebut garis tengah di Selat Taiwan.

Dia menyebut garis tengah Selat Taiwan tidak ada karena menganggap Taiwan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari China sebagaimana dilansir dari AFP.

Baca juga: Berhasil Usir Jet Tempur China, Presiden Taiwan Sebut Pilotnya Heroik

Wu mengatakan, garis tengah tersebut telah menjadi simbol untuk mencegah konflik militer dan menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan selama bertahun-tahun.

“Komentar Kementerian Luar Negeri China setara dengan menghancurkan status quo,” kata Wu kepada wartawan.

"Saya menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengutuk PKC (Partai Komunis China) karena kata-kata dan perbuatannya yang berbahaya dan provokatif yang mengancam perdamaian ... China harus mundur," tambah Wu melalui akun Twitter-nya.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Dan jika diperlukan, Beijing mengatakan akan menggunakan kekerasan.

Baca juga: Jet Tempur China Terus Berseliweran, Taiwan Keluarkan Senjata Perang

Namun Taiwan berkeras menyatakan diri sebagai negara merdeka dan telah memiliki pemerintahan sendiri selama lebih dari tujuh dekade.

Beijing telah meningkatkan tekanan di pulau itu sejak Presiden Taiwan Tsai Ing-wen memenangi pemilihan umum pada 2016, yang menolak pandangan bahwa Taiwan adalah bagian dari "Satu China".

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selamat dari Perang Dunia dan Flu Spanyol, Nenek 107 Tahun Ini Tak Khawatir Covid-19

Selamat dari Perang Dunia dan Flu Spanyol, Nenek 107 Tahun Ini Tak Khawatir Covid-19

Global
2 Perempuan Ditikam di Bawah Menara Eiffel Sambil Diteriaki 'Arab Kotor'

2 Perempuan Ditikam di Bawah Menara Eiffel Sambil Diteriaki "Arab Kotor"

Global
Pemenggal Kepala Guru di Perancis Sogok Murid hingga Rp 6 Juta Sebelum Beraksi

Pemenggal Kepala Guru di Perancis Sogok Murid hingga Rp 6 Juta Sebelum Beraksi

Global
Terungkap, Trump Ternyata Punya Rekening Bank di China

Terungkap, Trump Ternyata Punya Rekening Bank di China

Global
9 Warga Korea Selatan Meninggal Setelah Terima Suntikan Vaksinasi Flu Musiman

9 Warga Korea Selatan Meninggal Setelah Terima Suntikan Vaksinasi Flu Musiman

Global
Paus Fransiskus Kembali Buka Maskernya

Paus Fransiskus Kembali Buka Maskernya

Global
Perempuan di AS yang Hidup Lagi Usai Disemayamkan Kini Benar-benar Meninggal

Perempuan di AS yang Hidup Lagi Usai Disemayamkan Kini Benar-benar Meninggal

Global
Orangtua dari 545 Anak Migran yang Terpisah akibat Pemerintahan Trump Belum Ditemukan

Orangtua dari 545 Anak Migran yang Terpisah akibat Pemerintahan Trump Belum Ditemukan

Global
Lebih dari 100 Orang Tewas dan Ribuan Rumah Terendam dalam Banjir Vietnam

Lebih dari 100 Orang Tewas dan Ribuan Rumah Terendam dalam Banjir Vietnam

Global
Ekstrem, Pria Tua Jerman Semprot Merica untuk Jaga Jarak di Tengah Ketakutan Covid-19

Ekstrem, Pria Tua Jerman Semprot Merica untuk Jaga Jarak di Tengah Ketakutan Covid-19

Global
Makan Mi yang Disimpan Selama 1 Tahun, 9 Anggota Keluarga Meninggal Dunia

Makan Mi yang Disimpan Selama 1 Tahun, 9 Anggota Keluarga Meninggal Dunia

Global
Kepala Keamanan Lebanon Positif Covid-19 Setelah Berkunjung di Gedung Putih

Kepala Keamanan Lebanon Positif Covid-19 Setelah Berkunjung di Gedung Putih

Global
Virus Corona, Singapura Bersiap Masuki New Normal pada Akhir Tahun

Virus Corona, Singapura Bersiap Masuki New Normal pada Akhir Tahun

Global
Seorang Mahasiswa Rela Disuntik Vaksin Covid-19 Eksperimental dan Bayar Rp 902.555

Seorang Mahasiswa Rela Disuntik Vaksin Covid-19 Eksperimental dan Bayar Rp 902.555

Global
11 Wanita Afghanistan Tewas Terinjak-injak Saat Antre Urus Visa Pindah ke Pakistan

11 Wanita Afghanistan Tewas Terinjak-injak Saat Antre Urus Visa Pindah ke Pakistan

Global
komentar
Close Ads X