Perang Afghanistan-Taliban Masih Berlanjut, Seorang Istri Hamil Besar Berharap Suami Keempatnya Tidak Tewas Lagi

Kompas.com - 22/09/2020, 22:12 WIB
Seorang anggota pasukan keamanan Afghanistan terlihat sedang berjaga-jaga setelah serangan pria bersenjata di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/5/2019). (REUTERS/Mohammad Ismail) MOHAMMAD ISMAILSeorang anggota pasukan keamanan Afghanistan terlihat sedang berjaga-jaga setelah serangan pria bersenjata di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/5/2019). (REUTERS/Mohammad Ismail)

KABUL, KOMPAS.com - Taj Bibi yang hamil besar berdoa untuk suami keempatnya, saat ia berangkat perang melawan Taliban, agar nasibnya tidak akan sama dengan nasib ketiga suami pertamanya yang semuanya terbunuh melawan para militan.

Melansir Reuters pada Selasa (22/9/2020), bentrokan antara pasukan pemerintah Afghanistan dan gerilyawan Taliban belum mereda, meski pun pembicaraan damai di Qatar telah meningkatkan harapan untuk diakhirinya siklus perang Afghanistan yang tampaknya tak berujung.

Sedikitnya 60 anggota pasukan keamanan Afghanistan dari seluruh negeri tewas dalam sepekan terakhir ketika perang dengan Taliban. 

Bibi, menyaksikan suaminya, Aminullah, berangkat untuk tugas 3 bulan di garis depan, memiliki permohonan sederhana, dia berharap para laki-laki yang berkuasa (pasukan militan Taliban) tidak menjadikannya janda untuk keempat kalinya.

Baca juga: Pembicaraan Damai Masih Berlangsung, Markas Taliban Digempur Serangan Udara

"Saya tidak mampu melihat kelima anak saya menjadi yatim piatu lagi," kata Bibi, wanita 33 tahun, yang tinggal di daerah Sadeqabad di provinsi pegunungan Kunar di Afghanistan timur.

Bibi berusia 18 tahun saat pertama kali menikah dengan kakak laki-laki Aminullah yang berprofesi sebagai tentara.

Hidup berjalan baik, kata Bibi, sampai suaminya tewas dalam pertempuran dengan Taliban.

Dalam beberapa bulan, dia menikah dengan adik laki-lakinya, yang juga seorang tentara.

Sudah umum dalam masyarakat etnis Pashtun bagi para janda untuk menikahi saudara ipar mereka, karena keyakinan bahwa seorang janda tidak boleh menikah di luar keluarga.

Namun, bahkan sebelum dia menerima kehidupan barunya, Bibi yang hamil harus mengidentifikasi jasad yang berdarah adalah suami keduanya, terbunuh karena mempertahankan pos pemeriksaan dari serangan Taliban.

Baca juga: Taliban Mau Gencatan Senjata kalau Anggotanya Dibebaskan

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X