Minim Terapi, Pelajar Disabilitas di AS Kesulitan Ikuti Sekolah Online

Kompas.com - 14/09/2020, 08:30 WIB
Anak-anak dan para orangtua memakai masker di hari pertama pembukaan kembali sekolah di Brussels, Belgia, pada Selasa (1/9/2020). AP PHOTO/FRANCISCO SECOAnak-anak dan para orangtua memakai masker di hari pertama pembukaan kembali sekolah di Brussels, Belgia, pada Selasa (1/9/2020).

PARKERSBURG, KOMPAS.com - Pandemi virus corona turut berdampak besar pada anak-anak disabilitas, terutama di dunia pendidikan.

Salah satunya adalah Anna Smith (18) remaja yang mengidap Down Syndrome.

Sistem pembelajaran yang tidak dilakukan dengan tatap muka membuatnya kehilangan akses ke terapi fisik, okupasi, dan wicara yang didapatnya dari sekolah.

Baca juga: Menko PMK: Penyandang Disabilitas Harus Diberi Peluang yang Setara

Sekolah akhirnya dibuka pada 8 September, tapi Christina Smith orangtua Anna merasa skeptis dengan kelanjutan terapi anaknya. Sebab, Anna belum bertemu terapis lagi sejak Maret.

Para pelajar disabilitas memang menghadapi tantangan tersendiri sejak sekolah beralih dari tatap muka langsung ke online, karena pandemi virus corona.

Sementara itu para orangtua para pelajar tersebut menghadapi dilema. Mereka belum tahu bagaimana harus mengajari anaknya, sedangkan proses pembelajaran harus terus berlanjut.

"Ada banyak hambatan untuk menjadi tahun produktif dan sukses bagi banyak pelajar disabilitas," kata Christina Smith dikutip dari The Wall Street Journal Senin (31/8/2020).

Baca juga: Muhadjir: Persoalan Penyandang Disabilitas Jadi Tantangan Besar Pembangunan

Departemen Pendidikan West Verginia menyatakan, sekitar 47.000 pelajar di sekolah K-12 West Virginia atau 18 persen dari para pelajar yang terdaftar, memilik disabilitas.

Sementara itu secara nasional di Amerika Serikat ( AS), ada sekitar 7 juta pelajar disabilitas atau 14 persen pelajar terdaftar di sekolah umum, yang mendapat instruksi khusus dan beberapa bentuk layanan sejenis setiap tahunnya, menurut Pusat Statistik Pendidikan Nasional.

Survei dari ParentsTogether pada Mei menemukan hanya 1 dari 5 keluarga yang menerima semua layanan pendidikan khusus, yang menjadi hak para pelajar sejak awal pandemi.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X