Microsoft: 'Hacker' Rusia Targetkan Kampanye Pilpres AS

Kompas.com - 11/09/2020, 18:23 WIB
Dalam file foto 10 November 2016 ini, tampak seseorang berjalan melewati kantor Microsoft di New York. Microsoft mengatakan Kamis, (10/9/2020), bahwa badan intelijen militer Rusia yang sama yang meretas Demokrat pada 2016 telah mencoba membobol lebih dari 200 organisasi dalam beberapa pekan terakhir, termasuk partai politik dan konsultan. AP/Swayne B. HallDalam file foto 10 November 2016 ini, tampak seseorang berjalan melewati kantor Microsoft di New York. Microsoft mengatakan Kamis, (10/9/2020), bahwa badan intelijen militer Rusia yang sama yang meretas Demokrat pada 2016 telah mencoba membobol lebih dari 200 organisasi dalam beberapa pekan terakhir, termasuk partai politik dan konsultan.

BOSTON, KOMPAS.com - Badan intelijen militer Rusia yang meretas Demokrat pada 2016 silam telah memperbarui penargetan mereka terkait pilpres Amerika Serikat (AS) dengan mencoba membobol komputer di lebih dari 200 organisasi termasuk kampanye politik dan konsultan mereka.

Melansir Associated Press (AP), laporan yang diberikan Microsoft pada Kamis (10/9/2020) itu mengatakan bahwa upaya peretasan intelijen Rusia mencerminkan peningkatan penyusupan ke dalam pembentukan politik AS.

“Apa yang kami lihat adalah konsisten dengan pola serangan sebelumnya yang tidak hanya menargetkan kandidat dan staf kampanye tetapi juga mereka yang berkonsultasi tentang masalah penting,” kata Tom Burt, wakil presiden Microsoft, dalam sebuah unggahan di blog perusahaan itu.

Kelompok politik Inggris dan Eropa juga diperiksa, tambahnya.

Baca juga: Dituduh Retas Informasi Vaksin Covid-19, Rusia Buka Suara

Sebagian besar upaya peretasan oleh agen Rusia, China dan Iran dihentikan oleh perangkat lunak keamanan Microsoft dan target diberitahukan, katanya.

Perusahaan tidak akan berkomentar tentang siapa yang mungkin berhasil diretas atau pun soal dampaknya.

Meski pun pejabat intelijen AS bulan lalu mengatakan bahwa Rusia lebih menyukai Presiden Donald Trump dan China lebih memilih penantangnya dari Partai Demokrat, mantan Wakil Presiden Joe Biden, Microsoft mencatat pada Kamis (10/9/2020) bahwa peretas yang didukung negara China telah menargetkan "individu dengan jabatan tinggi yang terkait dengan pemilihan," termasuk orang-orang yang terkait dengan kampanye Biden.

Peretas China sebagian besar mengumpulkan intelijen untuk keuntungan ekonomi dan politik, sementara Rusia cenderung mempersenjatai data yang dicuri untuk mengguncang pemerintah lain.

Baca juga: Kepala Intelijen AS: China, Rusia, dan Iran Berusaha Pengaruhi Pilpres AS Tahun Ini

Microsoft tidak menilai musuh asing mana yang memiliki ancaman lebih besar terhadap integritas pemilihan presiden AS pada November mendatang.

Konsensus di antara pakar keamanan siber menyimpulkan bahwa campur tangan Rusia merupakan yang paling parah.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X