Respons Aktivitas Agresif Militer China, Jepang Ubah Arah Kebijakan Serangan Darat

Kompas.com - 11/09/2020, 16:21 WIB
Sejumlah tank AD Darat Jepang sedang melakukan latihan menembak di lokasi latihan Higashi-Fuji, Gotemba di kaki Gunung Fuji, Prefektur Shizuoka pada Minggu (26/8/2018).
AFP/JIJI PRESSSejumlah tank AD Darat Jepang sedang melakukan latihan menembak di lokasi latihan Higashi-Fuji, Gotemba di kaki Gunung Fuji, Prefektur Shizuoka pada Minggu (26/8/2018).

TOKYO, KOMPAS.com - Beberapa bulan sebelum mengundurkan diri, Perdana Menteri Shinzo Abe untuk pertama kalinya mengubah kebijakan militer, yang memungkinkan dilakukkannya serangan darat ke China dan bagian lain Asia.

Melansir Reuters pada Jumat (11/9/2020), Pasukan Pertahanan Diri Jepang diarahkan untuk menghentikan penyerang di udara dan laut.

Perubahan kebijakan tersebut akan mengarahkan militer menciptakan doktrin untuk menargetkan situs darat musuh, sebuah misi yang membutuhkan pembelian senjata jarak jauh, seperti rudal jelajah.

Jika diadopsi oleh pemerintah berikutnya, kebijakan tersebut akan menandai salah satu perubahan paling signifikan dalam sikap militer Jepang sejak akhir Perang Dunia II.

Ini mencerminkan dorongan lama Abe untuk membangun militer yang lebih kuat dan kepedulian Tokyo yang semakin dalam tentang pengaruh China di wilayah tersebut.

Baca juga: Operator Kapal Asal Jepang yang Tumpahkan Minyak di Mauritius Janjikan Bayar Rp 140,4 Miliar

Pemerintah Jepang khawatir dengan meningkatnya aktivitas militer China di sekitar pulau kecil di Laut China Timur yang disengketakan.

“Alasan utama tindakan kami adalah China. Kami belum terlalu menekankan hal itu, tetapi pilihan keamanan yang kami buat adalah karena China," kata Masahisa Sato, anggota parlemen dari Partai Demokrat Liberal (LDP), yang berkuasa dan pernah menjabat sebagai wakil menteri pertahanan serta wakil menteri luar negeri, dalam sebuah wawancara.

Jepang mencabut haknya untuk berperang setelah Perang Dunia II, perubahan kebijakan untuk membuat target serangan di darat, menjadi perdebatan bagi tetangga Asia, terutama China.

Abe mengatakan pada bulan lalu, bahwa dia mengundurkan diri karena kesehatan yang memburuk.

Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga, yang dianggap kurang agresif dibandingkan Abe, tetapi sangat dekat dengannya, diharapkan memenangkan suara untuk menggantikannya sebagai pemimpin partai dan menjadi perdana menteri.

Baca juga: Pria Macho jadi Kurir Makanan untuk Mereka yang Pesan Sushi di Jepang

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Asmara Binaragawan dan Boneka Seks Akhirnya Terwujud dalam Pernikahan

Kisah Asmara Binaragawan dan Boneka Seks Akhirnya Terwujud dalam Pernikahan

Global
[UNIK GLOBAL] 'Jemur Kelamin' Rahasia Hebat di Ranjang | Masalah Kimchi China-Korea Selatan Berkonflik

[UNIK GLOBAL] "Jemur Kelamin" Rahasia Hebat di Ranjang | Masalah Kimchi China-Korea Selatan Berkonflik

Global
Serangan Berantai Misterius di Kota Waltham: Ya Tuhan, Kami Takut!

Serangan Berantai Misterius di Kota Waltham: Ya Tuhan, Kami Takut!

Global
Orangtua Tewas Minum Hand Sanitizer, 5 Anak Jadi Yatim Piatu

Orangtua Tewas Minum Hand Sanitizer, 5 Anak Jadi Yatim Piatu

Global
[VIDEO] Viral Seekor Tupai Mabuk karena Makan Buah Pir yang Terfermentasi

[VIDEO] Viral Seekor Tupai Mabuk karena Makan Buah Pir yang Terfermentasi

Global
Kenapa Hargobind Punjabi Dijuluki Ratu Penipu Hollywood? Begini Ceritanya...

Kenapa Hargobind Punjabi Dijuluki Ratu Penipu Hollywood? Begini Ceritanya...

Global
Presiden Erdogan Sebut Macron Hanya Beban Negara dan Berharap Segera Lengser

Presiden Erdogan Sebut Macron Hanya Beban Negara dan Berharap Segera Lengser

Global
Program Vaksin Covid-19 di Rusia Sudah Dimulai, Meski Pengujian Massal Belum Selesai

Program Vaksin Covid-19 di Rusia Sudah Dimulai, Meski Pengujian Massal Belum Selesai

Global
Para Ilmuwan Identifikasi Covid-19 Sudah Menyebar Jauh Lebih Lama Sebelum Resmi jadi Pandemi Global

Para Ilmuwan Identifikasi Covid-19 Sudah Menyebar Jauh Lebih Lama Sebelum Resmi jadi Pandemi Global

Global
Butuh Donor Ginjal Saat Pandemi Covid-19, Gadis Ini Minta Bantuan di Media Sosial

Butuh Donor Ginjal Saat Pandemi Covid-19, Gadis Ini Minta Bantuan di Media Sosial

Global
Viral Video Pengantin Wanita Ditelanjangi Keluarga untuk Tes Keperawanan, Suaminya Diam Saja

Viral Video Pengantin Wanita Ditelanjangi Keluarga untuk Tes Keperawanan, Suaminya Diam Saja

Global
Video Viral: Masak Menu ala Restoran di Kamar Hotel Selama Karantina Covid-19

Video Viral: Masak Menu ala Restoran di Kamar Hotel Selama Karantina Covid-19

Global
Peta Galaksi Bima Sakti Terungkap, Bumi Menuju Lubang Hitam?

Peta Galaksi Bima Sakti Terungkap, Bumi Menuju Lubang Hitam?

Global
Peneliti di Afrika Selatan Usul Redupkan Matahari untuk Atasi Kekeringan

Peneliti di Afrika Selatan Usul Redupkan Matahari untuk Atasi Kekeringan

Global
Joe Biden Tidak Akan Wajibkan Suntik Vaksin Covid-19 di AS, Ini Alasannya...

Joe Biden Tidak Akan Wajibkan Suntik Vaksin Covid-19 di AS, Ini Alasannya...

Global
komentar
Close Ads X