Militer Myanmar Bantah Pengakuan 2 Tentara tentang Rencana Pemusnahan Muslim Rohingya

Kompas.com - 10/09/2020, 20:34 WIB
Kaum minoritas Rohingya di balik pagar kawat berduri di perbatasan distrik Maungdaw di Rakhine, 18 Maret 2018. Gelombang pengungsi Rohingya yang memasuki wilayah Bangladesh turut meningkatkan bahaya penyelundupan narkoba ke negara itu. AFP/JOE FREEMANKaum minoritas Rohingya di balik pagar kawat berduri di perbatasan distrik Maungdaw di Rakhine, 18 Maret 2018. Gelombang pengungsi Rohingya yang memasuki wilayah Bangladesh turut meningkatkan bahaya penyelundupan narkoba ke negara itu.


YANGON, KOMPAS.com - Militer Myanmar berusaha membantah pengakuan 2 tentara yang mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk "memusnahkan" Muslim Rohingya, sebelum mengambil bagian dalam pembantaian sejumlah pria, wanita, dan anak-anak.

LSM Fortify Rights dan New York Times pada Selasa (8/9/2020) merilis rincian dari wawancara yang difilmkan, dari prajurit Myo Win Tun (33 tahun) dan prajurit Zawa Naing Tun (30 tahun), di mana mereka menggambarkan "menyapu bersih" seluruh desa.

Para tentara tersebut menuduh bahwa mereka diperintahkan oleh komandan senior militer Myanmar untuk "menembak semua yang Anda lihat dan dengar" selama operasi militer 2017, yang memaksa sekitar 750.000 Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Melansir AFP pada Rabu (9/9/2020), kekejaman yang meluas telah didokumentasikan oleh penyelidik PBB dan kelompok hak asasi, dalam kekerasan yang sekarang membuat Myanmar menghadapi tuduhan genosida.

Namun, sejauh ini laporan Win Tun dan Naing Tun paling rinci yang diberikan oleh para tersangka pelaku.

Baca juga: 2 Tentara Myanmar Mengaku menjadi Pelaku Pembantaian Rohingya 2017

Juru bicara militer Brigadir Jenderal Zaw Min Tun mengakui kepada BBC Burma pada Rabu malam (9/9/2020), bahwa mereka itu adalah mantan tentara, tetapi ia mengklaim bahwa mereka telah "disandera" oleh kelompok militan Tentara Arakan (AA) serta "diancam dan dipaksa untuk mengaku".

AA memerangi aparat militer di barat laut negara itu untuk mendapatkan lebih banyak otonomi bagi penganut Buddha etnis Rakhine.

Kedua belah pihak kerap saling tuduh tentang pelanggaran hak asasi manusia dalam perang saudara yang berkecamuk di wilayah yang sama, di mana operasi militer melawan Rohingya terjadi 3 tahun lalu.

AA membantah klaim militer tersebut, dengan mengatakan kepada AFP pada Kamis, bahwa kedua tentara itu telah dilepas pihak AA.

"Mereka (2 tentara yang mengaku) secara sukarela mengakui tentang kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Myanmar," kata juru bicara AA Khine Thu Kha, menambahkan pembelot lain telah memberikan kesaksian serupa, yang telah mereka unggah online dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: Facebook Tutup Akun Politisi India yang Sebarkan Ujaran Kebencian terhadap Rohingya

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X