Atasi Sanksi AS, Rusia-Suriah Jalin Kerja Sama Ekonomi Baru

Kompas.com - 09/09/2020, 08:27 WIB
Wakil Perdana Menteri Rusia Yury Borisov (kanan, depan) tiba di bandara internasional Damaskus di Damaskus, ibu kota Suriah, pada 6 September 2020. Delegasi senior Rusia yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Yury Borisov tiba di ibu kota Suriah, Damaskus, Minggu malam untuk mengadakan pembicaraan dengan pejabat tinggi Suriah, menurut kantor berita negara SANA. Xinhua/Ammar Safarjalani Wakil Perdana Menteri Rusia Yury Borisov (kanan, depan) tiba di bandara internasional Damaskus di Damaskus, ibu kota Suriah, pada 6 September 2020. Delegasi senior Rusia yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Yury Borisov tiba di ibu kota Suriah, Damaskus, Minggu malam untuk mengadakan pembicaraan dengan pejabat tinggi Suriah, menurut kantor berita negara SANA.

DAMASKUS, KOMPAS.com - Delegasi Suriah dan Rusia pada Senin (7/9/2020) bertemu untuk mendiskusikan kerja sama ekonomi sebagai upaya mengatasi sansi dari AS dan negara- negara Barat lainnya.

Diskusi itu dilakukan selama kunjungan pertama Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov ke negara yang dilanda perang itu sejak 2012 lalu.

Rusia selama ini telah menjadi sekutu bagi pemerintah Damaskus, sejak dimulainya perangn negara itu pada 2011melibatkan dukungan militer dan menandatangani beberapa kesepakatan ekonomi besar.

Baca juga: Tak Cukup Assad dan Istrinya, Putra Remaja Presiden Suriah Ini Juga Dikenai Sanksi AS

Ketika menemui delegasi Rusia, Lavrov, Presiden Suriah Bashar Al Assad mengatakan, "Pemerintah Suriah telah bertekad melanjutkan kerja sama dengan mitra Rusia untuk menerapkan perjanjian dan mendukung kesuksesan investasi Rusia di Suriah," ungkap Assad.

Dikutip Global Times dari AFP, mereka mendiskusikan kemungkinan perjanjian baru "untuk kepentingan 2 negara dan untuk mengurangi dampak dari kebijakan sanksi (ekonomi)" yang dikeluarkan negara-negara Barat terhadap wilayah yang dikuasai pemerintah Suriah."

Kunjungan delegasi Rusia beriringan dengan upaya perjuangan Damaskus memperbaiki kondisi perekonomian negara yang sedang lemah itu akibat Undang-undang Caesar dari Barat yang telah diimplementasikan sejak pertengahan Juni lalu.

Baca juga: Suriah Menolak Tunduk pada Sanksi AS

Damaskus dan Moskwa telah menandatangani beberapa kesepakatan dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan seperti di bidang energi, pembangunan dan pertanian.

Salah satu perjanjian itu termasuk perusahaan Rusia Stroytransgaz yang mengambil alih pelabuhan Tartous, terbesar di Suriah selama 49 tahun.

Kesepakatan lainnya juga memberi perusahaan yang sama, sebuah konsesi 50 tahun untuk mengekstraksi fosfat di wilayah tengah Palmyra.

Baca juga: AS Beri Sanksi kepada Istri Presiden Suriah Bashar Assad

Wakil Perdana Menteri Rusia Yury Borisov mengatakan kepada wartawan bahwa kesepakatan ekonomi dan perdagangan baru sedang dikerjakan, yang dia harap dapat ditandatangani selama perjalanan lain ke Suriah pada bulan Desember mendatang.

Kesepakatan yang diusulkan yang kini sedang ditinjau oleh Damaskus, mencakup sekitar 40 proyek, kata Borisov, termasuk rehabilitasi pembangkit listrik dan eksplorasi hidrokarbon di perairan Suriah di Mediterania.

"Isolasi ekonomi Suriah" oleh sanksi Barat menghambat investasi asing, kata Borisov.

"Ini adalah blokade ekonomi yang kami coba hancurkan melalui upaya bersama kami," tambahnya.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X