Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dokter Pertama yang Menolong Navalny Sempat Duga Oposisi Pemerintah Rusia Itu Keracunan Sebelum Berubah Pikiran

Kompas.com - 07/09/2020, 18:55 WIB
Miranti Kencana Wirawan

Penulis

Sumber Metro US

MOSKWA, KOMPAS.com - Dokter Rusia pertama yang merawat Alexei Navalny, Alexander Sabaev di Siberia, sempat mengatakan bahwa oposisi pemerintah Rusia itu diduga keracunan. 

Namun, enam jam pasca tes laboratorium, dia berubah pikiran ketika hasil pemeriksaan tidak menunjukkan jejak racun apapun.

Dilansir dari Metro, Navalny yang kemudian dievakuasi ke Berlin, Jerman mendapatkan perawatan. Menurut keterangan dokter di sana, Navalny diduga diracun dengan racun Novichok.

Novichok adalah racun yang dikembangkan di era Uni Soviet, di sebuah fasilitas berjarak 80 kilometer dari ibu kota Moskwa.

Baca juga: Rusia Tolak Klaim Alexei Navalny Diracuni, Inggris Curiga

Dikutip dari Daily Mail Kamis (3/9/2020), racun itu disebut lebih kuat dari senjata kimia lain, bahkan bisa menembus masker gas dan pakaian pelindung.

Dokter Sabaev, kepala ahli toksikologi di rumah sakit Siberia sekaligus orang pertama yang merawat Navalny mengatakan pada awalnya di curiga bahwa Navalny keracunan.

Dia bahkan merasa, bahwa dia dan rekan-rekan sesama dokter telah merawatnya sesuai dengan kondisi itu.

Navalny dipasangi ventilator dan mengalami koma. Dia diberi obat darurat atropin, kata Sabaev. Perawatan itu biasa dilakukan untuk korban racun novichok, menurut keterangan sumber medis di Jerman kepada Reuters.

Baca juga: Rusia Bungkam soal Keracunan Navalny, Sanksi dari Uni Eropa Menanti

Namun kini, Sabaev berubah pikiran. Dari temuan laboratorium Rusia, dia yakin Navalny tidak diracun. Dia yakin politisi itu menderita gangguan metabolisme yang serius.

“Sebagai ahli toksikologi saya yakin. Tidak ada Novichok di sana,” kata Sabaev.

Perawatan cepat yang diterima Navalny membantu menyelamatkan hidupnya, kata dua sumber medis, begitu pula keputusan pilot untuk melakukan pendaratan darurat di Omsk ketika Navalny pingsan di atas pesawatnya dalam perjalanan ke Moskwa.

"Jika pesawat tidak melakukan pendaratan paksa, Navalny tidak akan selamat," kata sumber medis yang berbasis di Omsk.

Baca juga: Belarus Klaim Racun Novichok untuk Navalny Rekayasa Jerman dan Polandia

Sabaev mengatakan kepada Reuters bahwa dokter telah memberi politisi itu tiga miligram atropin selama dia di sana.

Dia bilang itu untuk mengobati masalah pada paru-parunya.

Meskipun Sabaev menolak temuan Jerman, atropin dosis kecil - digunakan secara luas dalam situasi darurat - adalah hal yang tepat untuk diberikan kepadanya meskipun dosisnya sederhana dan diberikan karena alasan yang berbeda.

Racun saraf novichok memicu gelombang efek mematikan, termasuk memperlambat detak jantung, cairan di paru-paru dan kerusakan saraf permanen di seluruh tubuh.

Baca juga: Presiden Belarusia: Insiden Alexei Navalny Keracunan telah Dipalsukan

 

Atropin adalah salah satu pertolongan pertama yang digunakan untuk melawan efek langsung tersebut.

Sabaev mengatakan dia yakin Navalny memiliki kelainan metabolisme, mencatat kadar gula darahnya empat kali lebih tinggi dari biasanya dan dia memiliki masalah pankreas. Akan tetapi, sumber medis lain yang berbasis di Omsk membantah diagnosis tersebut.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber Metro US
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

2 Helikopter Militer Jepang Jatuh ke Laut Saat Latihan, 7 Orang HilangĀ 

2 Helikopter Militer Jepang Jatuh ke Laut Saat Latihan, 7 Orang HilangĀ 

Global
DPR AS Loloskan Paket Bantuan Rp 1.539 Triliun untuk Israel, Ukraina, dan Taiwan

DPR AS Loloskan Paket Bantuan Rp 1.539 Triliun untuk Israel, Ukraina, dan Taiwan

Global
[UNIK GLOBAL] Lupa Bawa Kunci Pas Mudik | Teman-teman Ingkar Datang Halal Bihahal

[UNIK GLOBAL] Lupa Bawa Kunci Pas Mudik | Teman-teman Ingkar Datang Halal Bihahal

Global
Ancaman Bom Picu Evakuasi Bandara Billund di Denmark, Polisi Tangkap Seorang Pria

Ancaman Bom Picu Evakuasi Bandara Billund di Denmark, Polisi Tangkap Seorang Pria

Global
Asosiasi Dokter Korea Selatan: Jika Pemerintah Tak Mengalah, Sistem Perawatan Kesehatan Bisa Runtuh

Asosiasi Dokter Korea Selatan: Jika Pemerintah Tak Mengalah, Sistem Perawatan Kesehatan Bisa Runtuh

Global
DPR AS Gelar Pemungutan Suara untuk Beri Persetujuan Bantuan ke Ukraina

DPR AS Gelar Pemungutan Suara untuk Beri Persetujuan Bantuan ke Ukraina

Global
Jerman Akan Kirim Fregat 'Hamburg' untuk Lindungi Kapal-kapal di Laut Merah

Jerman Akan Kirim Fregat "Hamburg" untuk Lindungi Kapal-kapal di Laut Merah

Global
Kapal Terbalik di India, 7 Orang Tewas

Kapal Terbalik di India, 7 Orang Tewas

Global
Jumlah Korban Tewas di Gaza Tembus 34.049 Orang, Gencatan Senjata Dinantikan

Jumlah Korban Tewas di Gaza Tembus 34.049 Orang, Gencatan Senjata Dinantikan

Global
Apa Sebenarnya Penyebab Ledakan Pangkalan Militer di Irak?

Apa Sebenarnya Penyebab Ledakan Pangkalan Militer di Irak?

Global
Warga Ini Sudah Masak Banyak dan Pasang Tenda untuk Halal Bihalal Lebaran, Ternyata Teman-temannya Ingkar Datang

Warga Ini Sudah Masak Banyak dan Pasang Tenda untuk Halal Bihalal Lebaran, Ternyata Teman-temannya Ingkar Datang

Global
Arab Saudi dan Beberapa Negara Menyesal Upaya Palestina Jadi Anggota PBB Gagal

Arab Saudi dan Beberapa Negara Menyesal Upaya Palestina Jadi Anggota PBB Gagal

Global
Dalam Sehari, 2 Calon Wali Kota di Meksiko Dilaporkan Tewas

Dalam Sehari, 2 Calon Wali Kota di Meksiko Dilaporkan Tewas

Global
Korea Utara Kembali Uji Coba Hulu Ledak Superbesar

Korea Utara Kembali Uji Coba Hulu Ledak Superbesar

Global
Perang di Sudan, PBB: 800 Ribu Warga Berada dalam Bahaya Ekstrem

Perang di Sudan, PBB: 800 Ribu Warga Berada dalam Bahaya Ekstrem

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com