Viral karena Bawa Anaknya yang Mati Selama 17 Hari, Paus Pembunuh Ini Melahirkan Lagi

Kompas.com - 07/09/2020, 18:16 WIB
Induk orca atau paus pembunuh mendorong anaknya. Foto ini diambil saat 24 jam kematian bayi orca. science alertInduk orca atau paus pembunuh mendorong anaknya. Foto ini diambil saat 24 jam kematian bayi orca.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Seekor paus pembunuh yang viral karena fotonya membawa anaknya yang sudah mati selama 17 hari dilaporkan kembali melahirkan.

Berdasarkan laporan Centre for Whale Research in Washington, hewan bernama Tahlequah itu terlihat bersama bayinya di timur Selat Juan de Fuca, perairan AS.

"Hore! Bayinya nampak sehat dan dewasa sebelum waktunya. Berenang penuh semangat di samping induknya di hari kedua berenang dengan bebas," ujar organisasi di situs resminya.

Baca juga: Pecahkan Rekor, Riptide Si Paus Pembunuh yang Berenang Sejauh 8.000 Km

Peneliti menerangkan, bayi Tahlequah diyakini lahir pada Jumat (4/9/2020), yang ditandai oleh sirip di punggung yang mulai tegak.

Sirip itu dilaporkan butuh setidaknya satu atau dua hari untuk ditegakkan setelah membengkok karena berada dalam rahim induknya.

Tahlequah sendiri menjadi perhatian setelah pada musim panas 2018, setelah dia menggelar "tur berkabung" selama 17 hari.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir Sky News Minggu (6/9/2020), dia membawa anaknya yang mati menempuh jarak hingga 1.600 km dan menuai perhatian dunia.

Paus pembunuh itu dilaporkan hamil lagi pada Februari tahun lalu, dengan pada Jumat pengamat menyatakan mereka melihat bayinya.

Ketika para peneliti menindaklanjuti laporan tersebut, mereka menerangkan bahwa keduanya terlihat saat melintasi perbatasan di Kanada.

Tahlequah disebut terpisah dari kawanannya dan merupakan "sosok yang tidak ingin didekati", sehingga ilmuwan hanya melihatnya selama beberapa menit.

"Kami berharap bayinya ini menjadi kisah kesuksesannya," kata pusat penelitian paus itu, yang menyatakan saat ini kematian pada bayi paus mencapai 40 persen.

Kemudian terdapat persentase besar dalam hal kegagalan kehamilan yang menimpa induk paus pembunuh karena kurangnya nutrisi.

Baca juga: Demi Kulit yang Sehat, Mungkin ini Alasan Migrasi Paus Pembunuh


Sumber Sky News
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X