Gerakan Sayap Kanan AS Diduga Pasok Persenjataan ke Hamas

Kompas.com - 06/09/2020, 09:43 WIB
Anggota Brigade Izz Ad-Din Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, saat berada di Gaza, 2017 lalu. MIDDLE EAST MONITOR / ANADOLU AGENCY / MUSTAFA HASSONAAnggota Brigade Izz Ad-Din Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, saat berada di Gaza, 2017 lalu.

RALEIGH, KOMPAS.com - Dua pria dari gerakan sayap kanan Amerika, Boogaloo diduga mencoba memasok senjata kepada Hamas yang menyamar, untuk mengumpulkan uang.

Melansir New York Post pada Sabtu (5/9/2020), diperkirakan uang itu akan digunakan Boogaloo untuk tujuan anti-pemerintah mereka sendiri di negara bagian.

Michael Robert Solomon (30 tahun) dari North Carolina, dan Benjamin Ryan Teeter, (22 tahun) dari Minnesota, menghadapi dakwaan federal setelah jaksa menuduh mereka menawarkan diri sebagai tentara bayaran ke Hamas hanya karena mereka yakin organisasi itu anti-AS.

Baca juga: Usai Berperang 3 Minggu, Hamas dan Israel Sepakat Akhiri Baku Tembak

"Kasus ini hanya dapat dipahami sebagai contoh yang mengganggu dari pepatah lama, 'Musuh dari musuh Anda adalah teman Anda,'" kata Asisten Jaksa Agung, John C. Demers untuk Divisi Keamanan Nasional dalam sebuah pernyataan.

Para terdakwa ini dalam aksinya memasok senjata, juga diadukan telah berusaha menggunakan kekerasan terhadap polisi, pejabat pemerintah lainnya, dan properti pemerintah, sebagai bagian dari keinginan mereka menggulingkan pemerintah.

Anggota gerakan Boogaloo yang terorganisir secara longgar memiliki pandangan pro-senjata yang keras, pandangan anti-pemerintah, dan percaya bahwa mereka akan memimpin AS ke dalam perang saudara kedua.

Baca juga: Gaza Kian Membara, Israel dan Hamas Terus Adu Tembak 3 Minggu Terakhir

Solomon dan Teeter adalah bagian dari sub-kelompok yang disebut "Boojahideen".

Mereka memiliki skema aksi yang telah mereka bagikan pada Juni kepada seorang informan FBI yang menyamar dan mereka yakini sebagai Hamas, isi laporan tuduhan itu.

Keduanya membuat rencana untuk menawarkan diri mereka sebagai "tentara bayaran" bagi Hamas untuk mengumpulkan uang dan membeli kompleks pelatihan Boogaloo, menurut jaksa federal.

Baca juga: Gempur Jalur Gaza, Tank Israel Tembaki Pos-pos Hamas Semalaman

Mereka juga diduga berencana untuk memasok senjata yang "tidak dapat dilacak", dan menjadi bagian dari Hamas, serta berbagi gagasan mereka untuk menghancurkan monumen pemerintah, politisi, dan anggota media.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Curhat Pangeran Harry Merasa Disakiti Pangeran Charles, Begini Ceritanya...

Curhat Pangeran Harry Merasa Disakiti Pangeran Charles, Begini Ceritanya...

Global
Meghan Markle Menikah Diam-diam 3 Hari sebelum Upacara Resmi

Meghan Markle Menikah Diam-diam 3 Hari sebelum Upacara Resmi

Global
Seorang Tokoh Partai NLD Myanmar Tewas di Tahanan, Diduga Disiksa

Seorang Tokoh Partai NLD Myanmar Tewas di Tahanan, Diduga Disiksa

Global
Meghan Markle Sebut Kerajaan Inggris Enggan Jadikan Anaknya Pangeran, Ini Sebabnya

Meghan Markle Sebut Kerajaan Inggris Enggan Jadikan Anaknya Pangeran, Ini Sebabnya

Global
Meghan Markle Sempat Berpikir untuk Bunuh Diri Saat Jadi Anggota Kerajaan Inggris

Meghan Markle Sempat Berpikir untuk Bunuh Diri Saat Jadi Anggota Kerajaan Inggris

Global
Diminta Rakyatnya Tinggalkan Jabatan, Presiden Paraguay Malah Minta Semua Menterinya Mundur

Diminta Rakyatnya Tinggalkan Jabatan, Presiden Paraguay Malah Minta Semua Menterinya Mundur

Global
Jelang Sidang Derek Chauvin Pembunuh George Floyd, Warga Datang Bawa Peti Mati

Jelang Sidang Derek Chauvin Pembunuh George Floyd, Warga Datang Bawa Peti Mati

Global
Gelar Misa Terakhir di Irak Sebelum Pulang, Ini Ucapan Paus Fransiskus

Gelar Misa Terakhir di Irak Sebelum Pulang, Ini Ucapan Paus Fransiskus

Global
Rakyat Swiss Izinkan Kelapa Sawit Indonesia Boleh Masuk

Rakyat Swiss Izinkan Kelapa Sawit Indonesia Boleh Masuk

Global
4 Ledakan Beruntun Mengguncang Sebuah Kamp Militer, 600 Orang Luka, 20 Tewas

4 Ledakan Beruntun Mengguncang Sebuah Kamp Militer, 600 Orang Luka, 20 Tewas

Global
Diserbu 10 Drone Houthi, Koalisi Arab Saudi Balas Serang Ibu Kota Yaman

Diserbu 10 Drone Houthi, Koalisi Arab Saudi Balas Serang Ibu Kota Yaman

Global
Arab Saudi Diserbu Drone Bersenjata Houthi, 10 Berhasil Dicegat

Arab Saudi Diserbu Drone Bersenjata Houthi, 10 Berhasil Dicegat

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Muntahan Paus Harganya Rp 3,7 Miliar | Hari Kudeta Myanmar Paling Berdarah

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Muntahan Paus Harganya Rp 3,7 Miliar | Hari Kudeta Myanmar Paling Berdarah

Global
China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

Global
Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Global
komentar
Close Ads X