Pembelot Korea Utara Ini Sebut Negaranya sebagai 'Holocaust' di Era Modern

Kompas.com - 06/09/2020, 09:21 WIB
Penampilan pasukan Korea Utara selama festival Arirang di stadion May Day di Pyongyang pada 06 Oktober 2005. AFP/KIM JAE-HWANPenampilan pasukan Korea Utara selama festival Arirang di stadion May Day di Pyongyang pada 06 Oktober 2005.

NEW YORK, KOMPAS.com - Seorang pembelot mengungkap kehidupan tragis yang dia dan jutaan warga lainnya alami di negara tertutup Republik Rakyat Demokratik Korea Utara.

Yeonmi Park, berhasil terbang ke Amerika Serikat (AS) bersama ibunya pada 2007 silam. Sejak bebas dari negaranya, dia kerap mengungkap bagaimana masyarakat Korea Utara kekurangan akan kasih sayang dan persahabatan.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 

Grateful for life, grateful for nature, grateful for today and grateful for freedom. Thank you life for treating me so well ??

Sebuah kiriman dibagikan oleh Yeonmi Park ???????? (@yeonmi_park) pada 31 Agu 2020 jam 2:36 PDT

Park juga menceritakan bagaimana dia menyaksikan ngerinya orang-orang mati kelaparan di bawah kepemimpinan tertinggi mereka, Kim Jong Un.

Park mengatakan, tidak ada seorang pun yang punya teman karena mengekspresikan emosional dipandang rendah. 

Setiap orang di Korea Utara, menurut gadis 26 tahun itu, saling menyebut satu sama lain dengan, 'comrade'.

Baca juga: Kabur dari Korut, Pembelot Ini Susah Payah Sampai Inggris, Ini Kisah Perjuangannya

Satu-satunya kasih sayang yang ditunjukkan siapa pun di negara tertutup itu, adalah untuk pemimpin mereka. Meski menurut pengakuan Park, orang tuanya tidak pernah bahkan menyatakan bahwa mereka mencintai pemimpin negara itu.

Berbicara kepada New York Post, Park yang kini menjadi seorang aktivis hak asasi manusia menggambarkan rezim Korea Utara saat ini sebagai ' holocaust' di zaman modern.

"Yang perlu Anda ketahui tentang Korea Utara adalah tidak seperti negara lain seperti Iran atau Kuba. Di negara-negara itu, Anda memiliki semacam pemahaman bahwa mereka tidak normal, mereka terisolasi dan orang-orang tidak aman."

"Tapi Korea Utara telah benar-benar dibersihkan dari seluruh dunia, secara harfiah itu adalah kerajaan tertutup. Ketika saya tumbuh di sana, saya tidak tahu bahwa saya terisolasi, saya tidak tahu bahwa saya sedang berdoa kepada seorang diktator."

Baca juga: Cegah Adanya Pembelot, Korea Utara Terapkan Aturan Berlapis

 

 

Park dan saudara perempuannya diajari bahwa mendiang pemimpin tertinggi Kim Il Sung dan putranya, Kim Jong Il serta pemimpin saat ini Kim Jong Un layaknya dewa yang dapat membaca pikiran orang.

Halaman:

Sumber NZ Herald
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Korea Utara Mulai Kembangkan Vaksin Covid-19 dari Data Ilmuwan Asing yang Diretas

Korea Utara Mulai Kembangkan Vaksin Covid-19 dari Data Ilmuwan Asing yang Diretas

Global
Konflik Memanas, Cina Gelar Latihan Tempur di Laut China Selatan

Konflik Memanas, Cina Gelar Latihan Tempur di Laut China Selatan

Global
Etiopia Masuk 5 Besar Negara Eksportir Bunga Potong Terbesar di Dunia

Etiopia Masuk 5 Besar Negara Eksportir Bunga Potong Terbesar di Dunia

Global
China Mewanti-wanti AS Tak Perlakukan Beijing Laiknya Saingan Strategis

China Mewanti-wanti AS Tak Perlakukan Beijing Laiknya Saingan Strategis

Global
Babysitter Ditangkap Polisi, Diduga Membunuh Bayi Berusia 2 Tahun

Babysitter Ditangkap Polisi, Diduga Membunuh Bayi Berusia 2 Tahun

Global
Selandia Baru Paling Jago Tangani Pandemi Covid-19, Indonesia Peringkat 85 dari 98 Negara

Selandia Baru Paling Jago Tangani Pandemi Covid-19, Indonesia Peringkat 85 dari 98 Negara

Global
Menlu AS yang Baru Ekspresikan 'Keprihatinan Mendalam' terhadap Penangkapan Navalny di Rusia

Menlu AS yang Baru Ekspresikan "Keprihatinan Mendalam" terhadap Penangkapan Navalny di Rusia

Global
Meme Bernie Sanders Raup Rp 25,3 Miliar Dana Amal Hanya dalam 5 Hari

Meme Bernie Sanders Raup Rp 25,3 Miliar Dana Amal Hanya dalam 5 Hari

Global
Perencana Aksi Teror Masjid Singapura Terinspirasi Penyerangan di Christchurch

Perencana Aksi Teror Masjid Singapura Terinspirasi Penyerangan di Christchurch

Global
Afrika Selatan Peringatkan Negara Kaya Tidak Timbun Vaksin Covid-19 karena Tidak Akan Aman

Afrika Selatan Peringatkan Negara Kaya Tidak Timbun Vaksin Covid-19 karena Tidak Akan Aman

Global
Curhat Pilot Jadi Kuli Bangunan, Dipecat karena Pandemi Covid-19

Curhat Pilot Jadi Kuli Bangunan, Dipecat karena Pandemi Covid-19

Global
Pemerintahan Biden Masukkan Risiko Perubahan Iklim dalam Strategi Militer AS

Pemerintahan Biden Masukkan Risiko Perubahan Iklim dalam Strategi Militer AS

Global
Ledakan Besar di Arab Saudi, Kelompok Tak Dikenal Mengeklaim Bertanggung Jawab

Ledakan Besar di Arab Saudi, Kelompok Tak Dikenal Mengeklaim Bertanggung Jawab

Global
Dituduh Curi Ikan, 2 Kapal Nelayan China Ditangkap Vanuatu

Dituduh Curi Ikan, 2 Kapal Nelayan China Ditangkap Vanuatu

Global
Biden Bekukan Penjualan Senjata Miliaran Dollar AS ke Arab Saudi dan UEA

Biden Bekukan Penjualan Senjata Miliaran Dollar AS ke Arab Saudi dan UEA

Global
komentar
Close Ads X