Presiden Palestina Inisiasi Front Persatuan Palestina untuk Sikapi Perjanjian Damai Israel-UEA

Kompas.com - 04/09/2020, 12:25 WIB
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, ketika berpidato di pembukaan rapat untuk membahas sikap Palestina terkait pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel Senin (15/1/2018). Issam Rimawi/AnadoluPresiden Palestina, Mahmoud Abbas, ketika berpidato di pembukaan rapat untuk membahas sikap Palestina terkait pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel Senin (15/1/2018).

RAMALLAH, KOMPAS.com - Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengadakan pertemuan langka dengan faksi-faksi yang bersaing pada Kamis (3/9/2020), ketika mereka berusaha untuk menghadirkan front persatuan atas kesepakatan Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menormalisasi hubungan.

Melansir Reuters pada Jumat (4/9/2020), Pertemuan tersebut diadakan melalui konferensi video, antara Ramallah di Tepi Barat dan Beirut, di mana ketua Hamas Ismail Haniyeh dan Sekretaris Jenderal Jihad Islam Ziyad al-Nakhalah, hadir.

Jarang sekali bagi kelompok sekuler Hamas dan Abbas yang sekuler Fatah dari Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization/PLO) memiliki pertemuan tingkat tinggi seperti itu, setelah bertahun-tahun bertikai.

Baca juga: Momen Bersejarah, Penerbangan Komersial Pertama Israel-UEA Mendarat di Abu Dhabi

Warga Palestina kecewa dengan kesepakatan "normalisasi" negara Teluk dengan Israel yang ditengahi oleh Presiden AS Donald Trump.

Mereka melihat langkah tersebut sebagai pengkhianatan yang kemungkinan besar akan melemahkan posisi kesepakatan lama dunia Arab yang menyerukan Israel untuk menarik diri dari wilayah pendudukan.

Abbas telah menolak untuk berurusan dengan pemerintahan Trump selama lebih dari 2 tahun, menuduhnya bias pro-Israel, dan menolak rencana Trump di Timur Tengah, yang diumumkan pada Januari.

Baca juga: Penasihat Sekaligus Menantu Trump, Jared Kushner Puji Kesepakatan Damai Israel-UEA

"Pertemuan kami berada pada tahap yang sangat berbahaya, di mana tujuan nasional kami menghadapi berbagai plot dan bahaya," kata Abbas pada Kamis.

"Untuk berdiri bersama di tengah-tengah konfrontasi dan perlawanan rakyat yang damai terhadap pendudukan (Israel), saya mengundang Anda ke sini untuk menyetujui pembentukan kepemimpinan nasional," lanjut Abbas dalam konferensinya.

Baca juga: Menantu Donald Trump Akan Jadi Orang Pertama yang Naik Penerbangan Komersial Israel-UEA

Berbicara dari kedutaan besar Palestina yang dibentengi di Beirut, Haniyeh juga mengatakan penting untuk memiliki strategi terpadu.

"Kita harus berhasil mengakhiri perpecahan dan membangun posisi Palestina yang bersatu," kata Haniyeh.

"Pada tahap ini, kegagalan dilarang," tandasnya kemudian.

Baca juga: Berdamai, Sambungan Telepon Israel-UEA Mulai Berfungsi

Pejabat senior AS dan Israel mengunjungi Abu Dhabi pada Senin (31/8/2020) dalam perjalanan bersejarah untuk memperkuat kesepakatan UEA.

Penasihat Trump, Jared Kushner mengatakan kepada warga Palestina bahwa mereka harus menerima kesepakatan itu, memulai kembali negosiasi dengan Israel dan tidak "terjebak di masa lalu."

Baca juga: Komunitas Yahudi UEA Anggap Perjanjian Israel-UEA Berbuah Perdamaian


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Monolit' Logam yang Dikira dari Dunia Lain Hilang, Ini Respons Netizen

"Monolit" Logam yang Dikira dari Dunia Lain Hilang, Ini Respons Netizen

Global
Pemberontak Houthi Serang Yaman Utara, 8 Tentara Arab Saudi Tewas

Pemberontak Houthi Serang Yaman Utara, 8 Tentara Arab Saudi Tewas

Global
Pejabat China Unggah Foto Tentara Australia Acungkan Pisau ke Leher Bocah, Ternyata Palsu

Pejabat China Unggah Foto Tentara Australia Acungkan Pisau ke Leher Bocah, Ternyata Palsu

Global
Kisah Desa Fucking: Sering Diejek, Warga Ganti Namanya Jadi Fugging

Kisah Desa Fucking: Sering Diejek, Warga Ganti Namanya Jadi Fugging

Global
Khawatir Air Laut Terinfeksi Virus Corona, Kim Jong Un Larang Rakyatnya Tangkap Ikan

Khawatir Air Laut Terinfeksi Virus Corona, Kim Jong Un Larang Rakyatnya Tangkap Ikan

Global
Semakin Berani, Demonstran Thailand Geruduk Markas Tentara

Semakin Berani, Demonstran Thailand Geruduk Markas Tentara

Global
Inspirasi Energi: Panas Bumi (3) Daftar Negara dengan PLTP Terbesar, Indonesia Peringkat 2

Inspirasi Energi: Panas Bumi (3) Daftar Negara dengan PLTP Terbesar, Indonesia Peringkat 2

Global
Kawan Trump, Presiden Bolsonaro Yakini Ada Penipuan dalam Pemilu AS

Kawan Trump, Presiden Bolsonaro Yakini Ada Penipuan dalam Pemilu AS

Global
Curhatan Kecewa Trump karena FBI Tidak Membantunya Tangani Penipuan Pemilu AS

Curhatan Kecewa Trump karena FBI Tidak Membantunya Tangani Penipuan Pemilu AS

Global
Seorang Detektif Ditembak Mati Istrinya Sendiri, Diduga karena Masalah Rumah Tangga

Seorang Detektif Ditembak Mati Istrinya Sendiri, Diduga karena Masalah Rumah Tangga

Global
Pembantaian Petani oleh Militan Boko Haram, Sekitar 40 Orang Tewas

Pembantaian Petani oleh Militan Boko Haram, Sekitar 40 Orang Tewas

Global
Kaki Joe Biden Retak, Ini Respons Donald Trump

Kaki Joe Biden Retak, Ini Respons Donald Trump

Global
Tuntut Pencarian Tentara yang Hilang, Ribuan Orang Berdemo di Armenia

Tuntut Pencarian Tentara yang Hilang, Ribuan Orang Berdemo di Armenia

Global
Pelabuhan Haifa, Israel Target Serangan Balasan atas Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran

Pelabuhan Haifa, Israel Target Serangan Balasan atas Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran

Global
Tolak Penerapan Lockdown, 150 Demonstran Ditahan Polisi

Tolak Penerapan Lockdown, 150 Demonstran Ditahan Polisi

Global
komentar
Close Ads X