Curigai Jadi Lokasi Perekrutan Mata-mata, Pusat Budaya China di AS Akhir Tahun Semua Ditutup

Kompas.com - 02/09/2020, 23:12 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, saat konferensi pers bersama Menteri Luar Negeru Austria Alexander Schallenberg, pada Jumat (14/8/2020) di Wina. REUTERS/LISI NIESNERMenteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, saat konferensi pers bersama Menteri Luar Negeru Austria Alexander Schallenberg, pada Jumat (14/8/2020) di Wina.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Amerika Serikat ( AS) berencana akan menutup semua pusat budaya Institut Konfusius China di semua universitas AS, pada akhir tahun ini.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo pada Selasa (2/9/2020) kepada Lou Dobbs di acara Fox Business Network, menurut laporan dari Reuters pada hari yang sama.

"Saya pikir semua orang datang akan mendapati risiko yang dikaitkan dengan mereka (institut konfisius China)," kata Pompeo.

Politisi Partai Republik ini menuduh lembaga yang didanai pemerintah China, seperti Institut Konfusius China, bekerja untuk merekrut "mata-mata dan kolaborator" di perguruan tinggi AS.

Baca juga: Hubungan AS-China Semakin Panas, Munculkan Ketakutan Perang Dunia 3

"Saya pikir lembaga-lembaga ini dapat melihat itu (potensi perekrutan), dan saya berharap kita akan menutup semuanya sebelum akhir tahun ini," ucapnya.

Bulan lalu, Pompeo melabeli lembaga pusat yang mengelola Institut Konfusius di AS sebagai "entitas yang meningkatkan propaganda global dan pengaruh jahat Beijing", serta mengharuskannya mendaftar sebagai misi asing.

Baca juga: Taiwan Beli Jet Tempur F-16 dari AS, China Berang

David Stilwell, diplomat AS terkemuka untuk Asia Timur, mengatakan pada saat itu bahwa puluhan Institut Konfusius di kampus-kampus AS tidak dikeluarkan, tetapi universitas AS harus "mencermati" apa yang mereka lakukan di kampus.

Pompeo ditanyai tentang peringatan bulan lalu oleh diplomat tertinggi pemerintah China, Wang Yi, tentang perlunya menghindari Perang Dingin baru, rujukan yang jelas untuk meningkatnya ketegangan antara China dan Amerika Serikat.

Baca juga: Intel AS: China Ingin Trump Kalah Pemilu karena Tak Bisa Ditebak

Pompeo mengatakan "analogi Perang Dingin memiliki relevansi," tetapi tantangan dengan China berbeda.

“Ini berbeda dengan Perang Dingin di mana kita ditantang oleh negara dengan 1,4 miliar orang,” katanya.

“Tantangannya berbeda, itulah tantangan ekonomi.”

Baca juga: Kepala Intelijen AS: China, Rusia, dan Iran Berusaha Pengaruhi Pilpres AS Tahun Ini

Pompeo merujuk pada tindakan yang telah diambil pemerintahan Trump untuk membatasi aktivitas perusahaan China, seperti Huawei Technologies Co dan mengatakan langkah lebih lanjut dapat diharapkan.

"Dan sekarang Anda akan melihat upaya yang lebih luas, itu akan menjadi pengumuman, saya pikir, dalam beberapa hari dan pekan mendatang kita akan melihat Amerika Serikat menghadapi ini dengan cara yang sangat serius, semuanya demi keuntungan ekonomi Amerika," dia berkata.

Baca juga: AS-China Kemungkinan akan Tinjau Ulang Kesepakatan Dagang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Presiden Erdogan Sebut Macron Hanya Beban Negara dan Berharap Segera Lengser

Presiden Erdogan Sebut Macron Hanya Beban Negara dan Berharap Segera Lengser

Global
Program Vaksin Covid-19 di Rusia Sudah Dimulai, Meski Pengujian Massal Belum Selesai

Program Vaksin Covid-19 di Rusia Sudah Dimulai, Meski Pengujian Massal Belum Selesai

Global
Para Ilmuwan Identifikasi Covid-19 Sudah Menyebar Jauh Lebih Lama Sebelum Resmi jadi Pandemi Global

Para Ilmuwan Identifikasi Covid-19 Sudah Menyebar Jauh Lebih Lama Sebelum Resmi jadi Pandemi Global

Global
Butuh Donor Ginjal Saat Pandemi Covid-19, Gadis Ini Minta Bantuan di Media Sosial

Butuh Donor Ginjal Saat Pandemi Covid-19, Gadis Ini Minta Bantuan di Media Sosial

Global
Viral Video Pengantin Wanita Ditelanjangi Keluarga untuk Tes Keperawanan, Suaminya Diam Saja

Viral Video Pengantin Wanita Ditelanjangi Keluarga untuk Tes Keperawanan, Suaminya Diam Saja

Global
Video Viral: Masak Menu ala Restoran di Kamar Hotel Selama Karantina Covid-19

Video Viral: Masak Menu ala Restoran di Kamar Hotel Selama Karantina Covid-19

Global
Peta Galaksi Bima Sakti Terungkap, Bumi Menuju Lubang Hitam?

Peta Galaksi Bima Sakti Terungkap, Bumi Menuju Lubang Hitam?

Global
Peneliti di Afrika Selatan Usul Redupkan Matahari untuk Atasi Kekeringan

Peneliti di Afrika Selatan Usul Redupkan Matahari untuk Atasi Kekeringan

Global
Joe Biden Tidak Akan Wajibkan Suntik Vaksin Covid-19 di AS, Ini Alasannya...

Joe Biden Tidak Akan Wajibkan Suntik Vaksin Covid-19 di AS, Ini Alasannya...

Global
Viral Curhat Gadis Dimintai Foto Syur, Langsung Putus Pacarnya Walau Baru Sehari Pacaran

Viral Curhat Gadis Dimintai Foto Syur, Langsung Putus Pacarnya Walau Baru Sehari Pacaran

Global
'Jemur Kelamin', Model Ini Klaim Rahasia Hebat di Ranjang

"Jemur Kelamin", Model Ini Klaim Rahasia Hebat di Ranjang

Global
Akibat Pandemi Virus Corona, Kunjungan Wisatawan ke Kamboja Anjlok 76 Persen

Akibat Pandemi Virus Corona, Kunjungan Wisatawan ke Kamboja Anjlok 76 Persen

Global
CEO Muda Ini Jadi Tajir Melintir dalam Satu Malam, Seperti Apa Kisahnya?

CEO Muda Ini Jadi Tajir Melintir dalam Satu Malam, Seperti Apa Kisahnya?

Global
Pelancong Mancanegara Diklaim Berisiko Lebih Rendah Tularkan Covid-19

Pelancong Mancanegara Diklaim Berisiko Lebih Rendah Tularkan Covid-19

Global
Setelah Inggris, Bahrain Beri Otorisasi Darurat Vaksin Covid-19 Pfizer dan BioNTech

Setelah Inggris, Bahrain Beri Otorisasi Darurat Vaksin Covid-19 Pfizer dan BioNTech

Global
komentar
Close Ads X