Presiden Perancis: Para pemimpin Lebanon Berjanji Bentuk Kabinet Krisis dalam 2 Minggu

Kompas.com - 02/09/2020, 16:11 WIB
Perdana Menteri Lebanon Mustapha Adib berbicara kepada wartawan di Istana Kepresidenan di Baabda, timur Beirut, Lebanon, Senin, (31/8/2020). Adib mengatakan, prioritas utamanya adalah segera membentuk pemerintahan yang mampu melaksanakan reformasi penting untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat Lebanon dan internasional. AP Photo/Bilal HusseinPerdana Menteri Lebanon Mustapha Adib berbicara kepada wartawan di Istana Kepresidenan di Baabda, timur Beirut, Lebanon, Senin, (31/8/2020). Adib mengatakan, prioritas utamanya adalah segera membentuk pemerintahan yang mampu melaksanakan reformasi penting untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat Lebanon dan internasional.

BEIRUT, KOMPAS.com - Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa para pemimpin Lebanon telah berjanji pada Selasa (1/9/2020), untuk membentuk kabinet krisis dalam 2 minggu untuk mendorong reformasi penting.

Macron berada di Beirut untuk kedua kalinya sejak ledakan 4 Agustus, di mana telah menewaskan lebih dari 180 orang, menghancurkan seluruh distrik kota, dan memicu kemarahan rakyat terhadap elite politik negara itu.

Macron mengunjungi Lebanon Senin itu, tepat di hari perayaan 100 tahun Lebanon Besar, tak lama setelah para pemimpin politik menetapkan perdana menteri baru, Mustapha Adib, menurut laporan AFP pada Selasa (1/9/2020).

Diharapkan dengan dipilihnya PM baru, dapat membentuk kabinet dan memimpin negara untuk keluar dari kekacauan politik dan krisis ekonomi, yang sudah melumpuhkan negara sebelum ledakan besar di pelabuhan terjadi.

"Apa yang semua parpol tanpa kecuali telah berkomitmen malam ini di sini, pembentukan pemerintahan ini tidak akan memakan waktu lebih dari 15 hari," katanya.

Baca juga: Jika Reformasi Gagal, Presiden Perancis Ancam Beri Sanksi Politisi Lebanon

Macron telah menetapkan tujuan ambisius untuk kunjungannya kembali ke Lebanon, untuk mendorong perubahan besar, tetapi tanpa terlihat mencampuri mandat Perancis sebelumnya.

"Ini adalah kesempatan terakhir bagi sistem Lebanon," dia memperingatkan sebelumnya.

Macron berbicara kepada pers setelah bertemu dengan politisi terkemuka Lebanon, sementara bentrokan meletus di Beirut tengah antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa yang menolak perdana menteri baru.

Salah satunya pemegang poster tinggi-tinggi yang mendesak Macron: "Jangan bekerja sama dengan koruptor dan penjahat."

Konferensi baru

Macron tiba pada Senin (31/8/2020), hanya beberapa jam setelah Adib, seorang akademisi berusia 48 tahun yang kurang terkenal dan mantan duta besar untuk Jerman, ditunjuk untuk membentuk pemerintahan kabinet krisis.

Baca juga: Presiden Perancis Emmanuel Macron Kunjungi Sosok Pemersatu Lebanon Usai Penetapan PM Mustapha Adib

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game 'Among Us'

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game "Among Us"

Global
Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Global
Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
Hendak Kabur, Remaja Palestina Tewas Dipukuli Tentara Israel

Hendak Kabur, Remaja Palestina Tewas Dipukuli Tentara Israel

Global
Tak Terima Dihina Turki, Perancis Panggil Duta Besarnya

Tak Terima Dihina Turki, Perancis Panggil Duta Besarnya

Global
Pengawalnya Positif Covid-19, Raja Thailand Dilarikan ke Rumah Sakit

Pengawalnya Positif Covid-19, Raja Thailand Dilarikan ke Rumah Sakit

Global
Viral Video Raja Thailand Vajiralongkorn Ucapkan Terima Kasih kepada Pendukungnya

Viral Video Raja Thailand Vajiralongkorn Ucapkan Terima Kasih kepada Pendukungnya

Global
Sarang 'Lebah Pembunuh' Ditemukan, Departemen Pertanian Washington Turunkan Kru Pembasmi

Sarang 'Lebah Pembunuh' Ditemukan, Departemen Pertanian Washington Turunkan Kru Pembasmi

Global
Bom Bunuh Diri Serang Pusat Pendidikan di Afghanistan, Tewaskan 24 Orang

Bom Bunuh Diri Serang Pusat Pendidikan di Afghanistan, Tewaskan 24 Orang

Global
Pangeran Brunei 'Abdul' Azim Meninggal di Usia 38 Tahun

Pangeran Brunei 'Abdul' Azim Meninggal di Usia 38 Tahun

Global
Kumbang Tangguh Ini Jadi Inspirasi Ilmuwan untuk Rancang Pesawat Lebih Kuat

Kumbang Tangguh Ini Jadi Inspirasi Ilmuwan untuk Rancang Pesawat Lebih Kuat

Global
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara

Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara

Global
Biografi Lee Kun-hee, Bos Samsung Perombak Perusahaan Warisan Ayahnya

Biografi Lee Kun-hee, Bos Samsung Perombak Perusahaan Warisan Ayahnya

Global
Kronologi Demo Nigeria: Kebrutalan Polisi dan Tuntutan Reformasi

Kronologi Demo Nigeria: Kebrutalan Polisi dan Tuntutan Reformasi

Global
Bunuh Korban dengan Racun 'Napas Iblis' Sepasang Kriminal Ini Dipenjara Seumur Hidup

Bunuh Korban dengan Racun "Napas Iblis" Sepasang Kriminal Ini Dipenjara Seumur Hidup

Global
komentar
Close Ads X