Museum Auschwitz Kecam Parodi Korban Holocaust di TikTok

Kompas.com - 29/08/2020, 16:10 WIB
Ribuan bangsa Yahudi tiba di kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau di masa Perang Dunia II. Sejarah mencatat 6 juta orang Yahudi tewas akibat praktik holocaust yang diterapkan Nazi Jerman. WikipediaRibuan bangsa Yahudi tiba di kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau di masa Perang Dunia II. Sejarah mencatat 6 juta orang Yahudi tewas akibat praktik holocaust yang diterapkan Nazi Jerman.

WARSAWA, KOMPAS.com - Museum Auschwitz mengecam sebuah tren di TikTok yang membuat para remaja berpura-pura sebagai korban Holocaust dengan menyebut fenomena itu "menyakitkan dan menyinggung".

Melansir People, para pengguna TikTok memakai pakaian garis-garis, seperti orang Yahudi yang menjadi korban genosida oleh Nazi Jerman di kamp konsentrasi pada peristiwa Holocaust.

Pada Rabu (26/8/2020) melalui sebuah pernyataan di Twitter, Museum Auschwitz merespons video-video yang dibagikan di media sosial TikTok.

Video-video itu jelas menunjukkan orang-orang melakukan parodi sebagai korban Holocaust dengan memakai seragam garis-garis dan seakan-akan berada di kamp konsentrasi Nazi Jerman.

Baca juga: Bayi Dilempar dan Ditembak di Udara, Cerita Napi yang Kabur dari Kamp Konsentrasi Nazi Jerman

"Tren (parodi) korban itu sangat menyakitkan dan menyinggung. Beberapa video sangat erat bahkan melampaui batas sepele sejarah," ungkap pernyataan Museum Auschwitz sebelum menambahkan bahwa mereka "tidak bermaksud mempermalukan anak muda yang terlibat".

"Tapi kita harus mendiskusikan hal ini untuk tidak mempermalukan & menyerang orang muda yang motivasinya tampak sangat beragam," imbuh organisasi itu. "Ini tantangan pendidikan."

Museum itu kemudian melampirkan pernyataan yang lebih panjang dalam pernyataan mereka di Twitter, mengkritik peran media sosial dalam mengenang Holocaust, di mana 6 juta orang Yahudi dibunuh oleh Nazi Jerman.

"Kisah orang-orang yang dipenjara dan dibunuh di Auschwitz sangat tragis, menyakitkan dan emosional," ungkap permulaan pernyataan itu.

Baca juga: Eks Penjaga Kamp Konsentrasi Nazi Terbukti Bunuh 5.000 Tahanan di Usia 93 Tahun

"Sangatlah penting untuk membagi cerita tiap orang sebagai peringatan dan pendidikan. Penting juga untuk menempatkan cerita dalam konteks akurasi dan rasa hormat.

Kita juga perlu mengingat tentang tantangan etika dan bahaya psikologis dari permainan peran saat mengajar tentang sejarah ini. Mengingat pentingnya menggunakan cerita pribadi, kami tidak diizinkan untuk menempatkan orang pada (memerankan) posisi korban. 

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber People
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X