Dituduh Racuni Alexei Navalny, Kremlin: Omong Kosong

Kompas.com - 26/08/2020, 15:52 WIB
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny saat berorasi menuntut pembebasan demonstran yang dipenjara, karena menuntut keadilan pemilu. Foto diambil pada 29 September 2019 di Moskwa, Rusia. REUTERS/SHAMIL ZHUMATOVPemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny saat berorasi menuntut pembebasan demonstran yang dipenjara, karena menuntut keadilan pemilu. Foto diambil pada 29 September 2019 di Moskwa, Rusia.

MOSKWA, KOMPAS.com - Kremlin menepis tuduhan pada Selasa (25/8/2020) bahwa Alexei Navalny, pemimpin oposisi Rusia, diracun oleh pihak berwenang sehari setelah petugas medis Jerman yang merawat mengatakan tes menunjukkan ada bukti bahwa dia diracun.

Pemerintah Rusia juga mengesampingkan penyelidikan pada tahap ini hingga benar-benar diketahui penyebab kondisi aktivis tersebut.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan tuduhan terhadap pemerintah "sangat tidak mungkin benar dan hanya omong kosong."

“Jika ada zat (yang menyebabkan kondisi saat ini) ditemukan, dan jika dipastikan beracun, maka akan ada alasan untuk dilakukan penyelidikan,” kata Peskov.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin kemarin, tim dokter di rumah sakit Charite di Berlin, Jerman, mengatakan mereka telah menemukan "penghambat kolinesterase" dalam sistemnya, berbagai zat yang ditemukan dalam beberapa obat, tetapi juga pestisida dan racun-racun saraf.

Zat spesifik dalam tubuh Navalny masih belum diketahui, kata rumah sakit tersebut, seraya menambahkan bahwa “pasien berada di unit perawatan intensif dan masih berada dalam keadaan koma. Kondisinya serius tapi saat ini tidak ada bahaya akut bagi hidupnya. "

Kanselir Angela Merkel, yang secara pribadi menawarkan bantuan Jerman dalam merawat Navalny sebelum dia dibawa ke Berlin, meminta Rusia untuk menyelidiki insiden tersebut.

Dia mengatakan karena "perannya yang menonjol dalam oposisi politik di Rusia, pihak berwenang di sana sekarang diminta untuk segera menyelidiki kejahatan ini secara rinci dan dalam transparansi penuh".

"Mereka yang bertanggung jawab harus diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban," kata Merkel.

Baca juga: Khawatir Pemerintah Rusia Mengintervensi, Alexei Navalny Diterbangkan ke Jerman

Apa yang terjadi pada Alexei Navalny?

Sebelumnya, pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny dilarikan ke rumah sakit pada Kamis (20/8/2020) setelah menderita keracunan parah di pesawat.

Halaman:

Sumber Euronews
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Dianggap Menghina Islam, Presiden Perancis Dikecam Umat Kristen di Arab

Global
Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Israel Mulai Uji Coba Kandidat Vaksin Covid-19 Terhadap Manusia

Global
Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Seorang Wanita Pilih Babi sebagai Binatang Peliharaan Kesayangan

Global
Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Darurat Nasional Ditolak Raja, PM Malaysia Sempat Putus Asa Ingin Mundur

Global
Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Kapal Tanker Dilaporkan Dibajak di Selat Inggris, Militer Turun Tangan

Global
Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Dimediasi AS, Azerbaijan-Armenia Sepakati Gencatan Senjata Ketiga

Global
Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Penggunaan 2 Vaksin Influenza di Singapura Dihentikan, Ini Sebabnya

Global
Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Muncul 137 Kasus Baru Covid-19, China Langsung Tes 4,75 Juta Warga Xinjiang

Global
Nge-'Like' Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Nge-"Like" Foto Kepala Guru yang Dipenggal di Perancis, Pria Ini Diadili

Global
Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Ada Tembakan Nyasar, Iran Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Azerbaijan-Armenia

Global
PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

PM Bulgaria Positif Covid-19, Tambah Daftar Kepala Negara yang Terinfeksi

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Pangeran Brunei Mati Muda | Final Debat Capres AS

Global
Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game 'Among Us'

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game "Among Us"

Global
Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Global
Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
komentar
Close Ads X