Eks Komandan Perang Bosnia Ajukan Banding atas Hukuman Genosida

Kompas.com - 26/08/2020, 06:21 WIB
Dalam file foto Rabu, 22 November 2017 ini, kepala militer Serbia Bosnia Ratko Mladic memasuki Pengadilan Kejahatan Perang Yugoslavia di Den Haag, Belanda, untuk mendengarkan putusan dalam persidangan genosida. Mladic mengajukan banding pada Selasa, 25 Agustus 2020 atas hukumannya atas kejahatan termasuk genosida yang dilakukan selama Perang Bosnia 1992-1995. 
Mladic dihukum oleh pengadilan kejahatan perang PBB pada tahun 2017 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena mendalangi kejahatan oleh pasukan Serbia Bosnia sepanjang perang yang menewaskan 100.000 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil Muslim Bosnia. AP/Peter DejongDalam file foto Rabu, 22 November 2017 ini, kepala militer Serbia Bosnia Ratko Mladic memasuki Pengadilan Kejahatan Perang Yugoslavia di Den Haag, Belanda, untuk mendengarkan putusan dalam persidangan genosida. Mladic mengajukan banding pada Selasa, 25 Agustus 2020 atas hukumannya atas kejahatan termasuk genosida yang dilakukan selama Perang Bosnia 1992-1995. Mladic dihukum oleh pengadilan kejahatan perang PBB pada tahun 2017 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena mendalangi kejahatan oleh pasukan Serbia Bosnia sepanjang perang yang menewaskan 100.000 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil Muslim Bosnia.

SARAJEVO, KOMPAS.com - Eks Komandan Serbia Bosnia Ratko Mladic (78) telah mulai mengajukan banding melawan vonis yang dijatuhkan terhadapnya soal genosida dan kejahatan perang terhadap kemanusiaan.

Banding yang dia lakukan didengar di Pengadilan oleh 3 orang hakim yang semuanya berpartisipasi melalui link video (secara daring) seperti dikutip BBC, Selasa (25/8/2020).

Pengadilan 2 hari itu telah ditunda sebelumnya karena dua hal; kesehatan Mladic dan wabah virus corona.

Mladic resmi ditahan seumur hidup sejak 2017. Dia divonis seumur hidup karena dianggap pengadilan terbukti memimpin pasukan selama pembantaian Muslim Bosnia (Bosniak) selama era 1990-an Perang Bosnia.

Mladic hadir di Pengadilan pada Selasa, meakai masker bedah sebelum akhirnya membukanya. Dia juga diketahui akan berbicara di Pengadilan Den Haag selama 10 menit pada Rabu (26/8/2020).

Baca juga: Pembantaian Muslim di Srebrenica, Kuburan Massal Baru Masih Ditemukan

Pada Selasa kemarin, para pengacara Mladic mengatakan kepada Pengadilan PBB bahwa persidangan tidak bisa dilakukan ke depannya sampai tim medis meninjau kapasitas Mladic untuk bisa berperan serta.

Mereka berpendapat bahwa dia dihukum secara keliru atas "insiden tak terjadwal" yang dibuat sebagai tuduhan selama persidangannya.

Pada awalnya, Mladic divonis dengan 10 dakwaan, jaksa penuntut mengatakan dia juga harus dinyatakan bersalah atas genosida atas Bosnia dan Kroasia pada 1992.

Sayangnya banding yang dilakukan Selasa kemarin melalui daring mengalami gangguan teknis. Hakim Ketua Prisca Matimba Nyambe yang termasuk dari antara hakim yang berpartisipasi mengatakan tidak dapat memahami kata-kata pengacara pembela dan harus bergantung pada transkrip.

Sementara pengacara pembela Mladic, Dragan Ivetic mengeluh tidak bisa berkomunikasi dengan kliennya dan tidak merasa diyakinkan bahwa kliennya dapat mengikuti proses pengadilan dengan sepenuhnya.

Baca juga: Ratko Mladic Unfit for Genocide Appeal in UN Court

Halaman:

Sumber BBC
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hubungan Kurdi Irak dengan Israel yang Bercerai setelah Kesepakatan Normalisasi

Hubungan Kurdi Irak dengan Israel yang Bercerai setelah Kesepakatan Normalisasi

Global
Lonjakan Kasus Covid-19 dan Polusi Udara Tinggi di New Delhi, Para Dokter Larang Lomba Maraton Dilakukan

Lonjakan Kasus Covid-19 dan Polusi Udara Tinggi di New Delhi, Para Dokter Larang Lomba Maraton Dilakukan

Global
Guru Malaysia Senang Akhirnya Bisa Buat Kelas di Zoom, tapi Muridnya Tak Ada yang Hadir

Guru Malaysia Senang Akhirnya Bisa Buat Kelas di Zoom, tapi Muridnya Tak Ada yang Hadir

Global
Anak Anjing Ditemukan Dirantai di Bangku Taman dengan Catatan Memilukan

Anak Anjing Ditemukan Dirantai di Bangku Taman dengan Catatan Memilukan

Global
Presiden Bolsonaro Tidak Akan Lakukan Vaksinasi Covid-19

Presiden Bolsonaro Tidak Akan Lakukan Vaksinasi Covid-19

Global
Trump Copot Para Ahli dari Dewan Kebijakan Pertahanan Jelang Akhir Masa Jabatan

Trump Copot Para Ahli dari Dewan Kebijakan Pertahanan Jelang Akhir Masa Jabatan

Global
Peminat Bahasa Indonesia di Australia Turun, Ini Solusi yang Diusulkan...

Peminat Bahasa Indonesia di Australia Turun, Ini Solusi yang Diusulkan...

Global
Usai Pandemi, Kantor-kantor Australia Tetap Campur WFH dan WFO

Usai Pandemi, Kantor-kantor Australia Tetap Campur WFH dan WFO

Global
7 Fakta Putri Diana yang Mungkin Tidak Anda Ketahui

7 Fakta Putri Diana yang Mungkin Tidak Anda Ketahui

Global
Parlemen Taiwan Disiram Jeroan Babi dalam Protes Pelonggaran Impor

Parlemen Taiwan Disiram Jeroan Babi dalam Protes Pelonggaran Impor

Global
Game Online Disebut Bisa Dipakai untuk Sebar Ideologi Teroris

Game Online Disebut Bisa Dipakai untuk Sebar Ideologi Teroris

Global
Penemuan Langka Kerangka Paus Berusia Ribuan Tahun di Thailand

Penemuan Langka Kerangka Paus Berusia Ribuan Tahun di Thailand

Global
Kim Jong Un Eksekusi 2 Orang dan Terapkan Lockdown di Pyongyang

Kim Jong Un Eksekusi 2 Orang dan Terapkan Lockdown di Pyongyang

Global
Muncul Laporan Kejahatan Perang di Afghanistan, Australia Bekukan 13 Tentara

Muncul Laporan Kejahatan Perang di Afghanistan, Australia Bekukan 13 Tentara

Global
4 Dokter di China Dihukum Penjara karena Terlibat Praktik Perdagangan Organ Ilegal

4 Dokter di China Dihukum Penjara karena Terlibat Praktik Perdagangan Organ Ilegal

Global
komentar
Close Ads X