Anggota Hezbollah Bersalah Atas Pembunuhan Rafic Hariri, Mantan PM Lebanon 2005 Silam

Kompas.com - 19/08/2020, 10:00 WIB
Para pengunjuk rasa memegang poster mantan perdana menteri Lebanon Rafiq Hariri selama parade berkabung di pelabuhan selatan Sidon, kota kelahiran perdana menteri yang terbunuh, 15 Februari 2005. Para pemimpin oposisi anti-Suriah di Lebanon menganggap rezim Suriah dan Lebanon bertanggung jawab atas pembunuhan Hariri di Beirut. MAHMOUD ZAYYAT / AFPPara pengunjuk rasa memegang poster mantan perdana menteri Lebanon Rafiq Hariri selama parade berkabung di pelabuhan selatan Sidon, kota kelahiran perdana menteri yang terbunuh, 15 Februari 2005. Para pemimpin oposisi anti-Suriah di Lebanon menganggap rezim Suriah dan Lebanon bertanggung jawab atas pembunuhan Hariri di Beirut.

LEIDSCHENDAM, KOMPAS.com - Pengadilan yang didukung PBB pada Selasa (18/8/2020), menemukan hasil bahwa seorang anggota gerakan Syiah Hezbollah bersalah atas pembunuhan mantan perdana menteri Lebanon, Rafic Hariri, pada 2005 silam. 

Sementara, membebaskan 3 tersangka lainnya, setelah persidangan selama bertahun-tahun.

Melansir AFP pada Selasa (18/8/2020), Salim Ayyash berusia 56 tahun, dihukum in absentia oleh Pengadilan Khusus untuk Lebanon yang berbasis di Belanda atas bom bunuh diri besar-besaran di Beirut, yang menewaskan politisi Sunni, Hariri dan 21 orang lainnya.

"Dewan pengadilan menemukan Ayyash bersalah tanpa keraguan sebagai salah satu pelaku pembunuhan Rafic Hariri," kata Ketua Hakim Pengadilan, David Re.

Menanggapi para korban serangan, Re berkata, "Kami sangat berharap putusan hari ini akan memberi Anda semacam hasil akhir."

Baca juga: Warga Lebanon Berharap Banyak pada Penyelidikan Internasional, untuk Mengungkap Tragedi Ledakan

Namun, hakim mengatakan tidak ada cukup bukti untuk menghukum Assad Sabra (43 tahun), Hussein Oneissi (46 tahun), dan Hassan Habib Merhi (54 tahun), atas ledakan itu, yang mengubah wajah Timur Tengah.

Para hakim juga mengatakan tidak ada bukti yang secara langsung menghubungkan Suriah, bekas penguasa militer di Lebanon, atau kepemimpinan Hezbollah atas serangan itu.

Hukuman untuk Ayyash akan diputuskan di agenda berikutnya. Besar kemungkinan dia akan menghadapi hukuman penjara seumur hidup.

Sementara, Ketua Hezbollah, Hassan Nasrallah telah menolak untuk menyerahkan keempat terdakwa dan menolak legitimasi pengadilan.

Putra Hariri, Saad, yang juga mantan perdana menteri Lebanon, yang mengikuti persidangan berada dalam perlindungan yang aman.

Baca juga: Iran: Negara Barat Memanfaatkan Kondisi Pasca-ledakan di Lebanon

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

13 Fakta Unik Angela Merkel, Kanselir Jerman yang Akan Lengser

13 Fakta Unik Angela Merkel, Kanselir Jerman yang Akan Lengser

Global
Potong Hidung dan Bibir, Pria Ini Sebut Dirinya 'Alien Hitam'

Potong Hidung dan Bibir, Pria Ini Sebut Dirinya "Alien Hitam"

Global
Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa Bahas Navalny dalam Sidang di Markas Besar

Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa Bahas Navalny dalam Sidang di Markas Besar

Global
Facebook Hapus Unggahan dan Tangguhkan Chatbot Perdana Menteri Israel, Apa Alasannya?

Facebook Hapus Unggahan dan Tangguhkan Chatbot Perdana Menteri Israel, Apa Alasannya?

Global
WHO: Akses Adil Vaksin Covid-19 Positif untuk Ekonomi Dunia

WHO: Akses Adil Vaksin Covid-19 Positif untuk Ekonomi Dunia

Global
Pemimpin Tajikistan Sebut Negaranya Sudah Bebas Covid-19 tapi Tetap Harus Waspada

Pemimpin Tajikistan Sebut Negaranya Sudah Bebas Covid-19 tapi Tetap Harus Waspada

Global
Kisah Perang: Luftwaffe, AU Nazi Spesialis Serangan Kilat Blitzkrieg

Kisah Perang: Luftwaffe, AU Nazi Spesialis Serangan Kilat Blitzkrieg

Global
Presiden China Peringatkan Konsekuensi “Perang Dingin Baru,” Singgung Biden?

Presiden China Peringatkan Konsekuensi “Perang Dingin Baru,” Singgung Biden?

Global
Ayah Terlibat Kerusuhan Gedung Capitol, Anak Sendiri Ketakutan Lapor ke FBI

Ayah Terlibat Kerusuhan Gedung Capitol, Anak Sendiri Ketakutan Lapor ke FBI

Global
Eksodus dari Hong Kong ke Inggris Diproyeksi Tidak Akan Besar meski Tensi dengan China Memanas

Eksodus dari Hong Kong ke Inggris Diproyeksi Tidak Akan Besar meski Tensi dengan China Memanas

Global
Berhasil Taklukkan Gunung K2 yang Mematikan, 10 Pendaki Nepal Disambut bak Pahlawan

Berhasil Taklukkan Gunung K2 yang Mematikan, 10 Pendaki Nepal Disambut bak Pahlawan

Global
Masalah Pandemi dan Ekonomi Melanda, Perdana Menteri Italia Pilih Mengundurkan Diri

Masalah Pandemi dan Ekonomi Melanda, Perdana Menteri Italia Pilih Mengundurkan Diri

Global
Janet Yellen, Wanita Pertama yang Jadi Menteri Keuangan AS

Janet Yellen, Wanita Pertama yang Jadi Menteri Keuangan AS

Global
Pasangan Bos Kasino Tipu Pemerintah Daerah untuk dapat Vaksin Covid-19 Lebih Cepat

Pasangan Bos Kasino Tipu Pemerintah Daerah untuk dapat Vaksin Covid-19 Lebih Cepat

Global
Pengacara Trump Digugat Rp 18,3 Triliun dari Kasus Hukum Pemilu AS 2020 yang Meluas

Pengacara Trump Digugat Rp 18,3 Triliun dari Kasus Hukum Pemilu AS 2020 yang Meluas

Global
komentar
Close Ads X