Usulan Perpanjangan Embargo Senjata Gagal, Iran Ejek AS Terisolasi

Kompas.com - 15/08/2020, 17:55 WIB
Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara dalam Sidang Umum PBB, pada Rabu (25/9/2019). AFP / TIMOTHY A CLARYPresiden Iran Hassan Rouhani berbicara dalam Sidang Umum PBB, pada Rabu (25/9/2019).

TEHERAN, KOMPAS.com - Iran memuji hasil pemungutan suara Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB) yang menolak proposal AS untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran.

Iran mengejek AS dan menyatakan bahwa AS tidak pernah terisolasi sedemikian rupa hingga hasil pemungutan suara itu.

Dalam pemungutan suara Dewan Keamanan pada Jumat (14/8/2020), AS hanya mendapat dukungan dari Republik Dominika.

Sebelas anggota dari 15 anggota badan, termasuk Perancis, Jerman dan Inggris, abstain sebagaimana dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (15/8/2020).

Baca juga: PBB Tolak Perpanjangan Embargo Senjata Iran, AS Mengancam Balik

"Sejak 75 tahun berdirinya PBB, AS tidak pernah begitu terisolasi," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi di Twitter.

Mousavi menambahkan terlepas dari kedigdayaannya, AS hanya mampu menggerakkan satu negara kecil untuk mendukung proposal yang diajukan itu.

Dia juga mengatakan upaya Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo untuk menggalang dukungan bagi resolusi AS gagal total.

Embargo penjualan senjata konvensional terhadap Iran sedianya akan berakhir pada 18 Oktober di bawah ketentuan resolusi yang menaungi kesepakatan nuklir Iran.

Baca juga: Negara Teluk Arab Sepakat, Minta PBB Perpanjang Embargo terhadap Iran

Menanggapi hasil pemungutan suara tersebut, Perwakilan Iran untuk PBB Majid Takht-Ravanchi menunjukkan bahwa Dewan Keamanan PBB menolak segala bentuk doktrin untuk kepentingan suatu negara.

“AS harus belajar dari musibah yang menimpanya. Upaya perpanjangan sanksi adalah ilegal, dan ditolak oleh komunitas internasional,” tambah Majid.

Assed Baig dari Al Jazeera melaporkan dari Teheran bahwa Iran menganggap hasil pemungutan suara itu sebagai kemenangan diplomatik atas AS.

Baig menambahkan bahwa Teheran akan bereaksi keras jika embargo senjata diperpanjang.

Baca juga: Dikecam karena Masih Ingin Embargo Iran, AS: Trump Punya Hak Prerogatif

"Presiden Iran Hassan Rouhani telah menjanjikan tanggapan yang destruktif jika embargo senjata diperpanjang. Menteri Luar Negeri Javad Zarif mengatakan pendekatan AS tidak masuk akal dan tidak dapat diprediksi," kata Baig.

Menjelang pemungutan suara, Iran memperingatkan AS setelah mengedarkan resolusi yang akan memperpanjang embargo senjata PBB terhadap Iran tanpa batasan waktu.

Rouhani mengatakan bahkan akan ada "konsekuensi" jika Dewan Keamanan PBB mendukung resolusi AS tersebut.

Baca juga: Arab Saudi Minta Sikap Tegas Internasional soal Embargo Senjata Iran

"Kami memiliki harapan besar bahwa AS akan gagal, dan menyadari kegagalannya dan melihat keterasingannya," kata Rouhani dalam pertemuan kabinetnya yang disiarkan televisi pada Rabu (12/8/2020).

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018. Hal itu semakin meningkatkan ketegangan antara kedua rival lama tersebut.


Sumber Al Jazeera
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game 'Among Us'

Rangkul Generasi Z, Pejabat AS Kampanye Pilpres Pakai Game "Among Us"

Global
Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Klaster Virus Corona Gedung Putih Bertambah, Ajudan Wapres AS Positif Covid-19

Global
Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Raja: Malaysia Tidak Perlu Berlakukan Keadaan Darurat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
Hendak Kabur, Remaja Palestina Tewas Dipukuli Tentara Israel

Hendak Kabur, Remaja Palestina Tewas Dipukuli Tentara Israel

Global
Tak Terima Dihina Turki, Perancis Panggil Duta Besarnya

Tak Terima Dihina Turki, Perancis Panggil Duta Besarnya

Global
Pengawalnya Positif Covid-19, Raja Thailand Dilarikan ke Rumah Sakit

Pengawalnya Positif Covid-19, Raja Thailand Dilarikan ke Rumah Sakit

Global
Viral Video Raja Thailand Vajiralongkorn Ucapkan Terima Kasih kepada Pendukungnya

Viral Video Raja Thailand Vajiralongkorn Ucapkan Terima Kasih kepada Pendukungnya

Global
Sarang 'Lebah Pembunuh' Ditemukan, Departemen Pertanian Washington Turunkan Kru Pembasmi

Sarang 'Lebah Pembunuh' Ditemukan, Departemen Pertanian Washington Turunkan Kru Pembasmi

Global
Bom Bunuh Diri Serang Pusat Pendidikan di Afghanistan, Tewaskan 24 Orang

Bom Bunuh Diri Serang Pusat Pendidikan di Afghanistan, Tewaskan 24 Orang

Global
Pangeran Brunei 'Abdul' Azim Meninggal di Usia 38 Tahun

Pangeran Brunei 'Abdul' Azim Meninggal di Usia 38 Tahun

Global
Kumbang Tangguh Ini Jadi Inspirasi Ilmuwan untuk Rancang Pesawat Lebih Kuat

Kumbang Tangguh Ini Jadi Inspirasi Ilmuwan untuk Rancang Pesawat Lebih Kuat

Global
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara

Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara

Global
Biografi Lee Kun-hee, Bos Samsung Perombak Perusahaan Warisan Ayahnya

Biografi Lee Kun-hee, Bos Samsung Perombak Perusahaan Warisan Ayahnya

Global
Kronologi Demo Nigeria: Kebrutalan Polisi dan Tuntutan Reformasi

Kronologi Demo Nigeria: Kebrutalan Polisi dan Tuntutan Reformasi

Global
Bunuh Korban dengan Racun 'Napas Iblis' Sepasang Kriminal Ini Dipenjara Seumur Hidup

Bunuh Korban dengan Racun "Napas Iblis" Sepasang Kriminal Ini Dipenjara Seumur Hidup

Global
komentar
Close Ads X