Donald Trump Lempar Teori Palsu soal Kewarganegaraan Kamala Harris

Kompas.com - 15/08/2020, 11:52 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat di Gedung Putih. EPA via BBC INDONESIAPresiden Amerika Serikat Donald Trump saat di Gedung Putih.

Sheldon Goldman, seorang profesor emeritus ilmu politik terkemuka di Universitas Massachusetts di Amherst, menyebut argumen yang dibuat tentang kelayakan Harris "100 persen palsu".

"Amandemen ke-14 memberikan definisi yang jelas tentang kewarganegaraan. Siapa pun yang lahir di Amerika Serikat adalah warga negara Amerika, di mana pun orang tua mereka lahir," kata Goldman kepada ABC News.

Baca juga: Kenapa Trump Sebut Cawapres Kamala Harris Wanita Gila? Begini Ceritanya...

Kampanye Biden-Harris dengan cepat memicu teori palsu soal Harris terkait rasialisme dan kewarganegaraan, dan Trump sebagai penggagasnya yang menyebarkan teori palsu dan rasial.

" Donald Trump adalah pemimpin nasional dari gerakan birther rasial yang aneh, sejak mempertanyakan Presiden Obama dan telah berusaha untuk memicu rasialisme, serta menghancurkan bangsa kita pada setiap hari masa kepresidenannya," kata juru bicara Biden, Andrew Bates, dalam sebuah pernyataan kepada ABC News.

Jadi, menurut dia, tidak mengherankan, "Namun, tidak kalah menjijikkan, ketika Trump membodohi dirinya sendiri dengan berusaha mengalihkan perhatian orang-orang Amerika dari korban mengerikan virus corona, yang gagal diatasi."

Hal itu membuat ia meyakini kampanye Trump bersama sekutunya akan menggunakan kebohongan yang menyedihkan.

Baca juga: Trump Umumkan Perjanjian Damai antara Israel dan Uni Emirat Arab

Sebelum Trump mendorong teori palsu yang mempertanyakan kewarganegaraan Harris, terdapat artikel opini di media Newsweek yang ditulis profesor hukum konservatif, John C Estman, yang berpendapat bahwa Harris mungkin bukan "warga negara yang lahir alami", meskipun lahir di California karena orang tua, Harris bukanlah warga negara yang dinaturalisasi pada saat dia lahir.

Namun, Bernadette Meyle, Profesor Hukum Carl dan Sheila Spaeth di Sekolah Hukum Stanford, mengatakan kepada ABC News bahwa argumen itu "tidak memiliki dasar dalam hukum konstitusional", dan terkait kewarganegaraan itu telah diselesaikan hukum sejak Mahkamah Agung memutuskan masalah itu pada 1898.

Ramai tentang teori palsu dan rasialisme yang dilontarkan Trump, penasihat hukum kampanye Trump, Jenna Ellis, menanggapinya di Twitter pada Selasa pagi.

"Ini pertanyaan (kewarganegaraan Harris) terbuka, dan menurut saya Harris harus menjawab, sehingga orang Amerika tahu pasti bahwa dia memenuhi syarat. "

Sementara itu, tim kampanye Trump tidak menanggapi permintaan ABC News untuk mengomentari pernyataan Ellis.

Baca juga: Trump: Hong Kong Takkan Pernah Sukses di Bawah Kendali China

Halaman:

Sumber ABCNews
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Santi Whiteside, Perempuan Berdarah Batak yang Ikut 'Pilkada' Australia

Santi Whiteside, Perempuan Berdarah Batak yang Ikut "Pilkada" Australia

Global
Sebuah Masjid di Perancis Ditutup Terkait Kasus Kematian Samuel Paty

Sebuah Masjid di Perancis Ditutup Terkait Kasus Kematian Samuel Paty

Global
Mengapa PM Jepang Lirik Indonesia dan Vietnam sebagai Kunjungan Pertama?

Mengapa PM Jepang Lirik Indonesia dan Vietnam sebagai Kunjungan Pertama?

Global
Mantan Tahanan Korea Utara Kisahkan Diinjak Tangannya jika Bergerak di Penjara

Mantan Tahanan Korea Utara Kisahkan Diinjak Tangannya jika Bergerak di Penjara

Global
Suriah Minta Tukar Sandera dengan Keringanan Sanksi dan Penarikan Pasukan AS

Suriah Minta Tukar Sandera dengan Keringanan Sanksi dan Penarikan Pasukan AS

Global
Kasus Guru Dipenggal karena Tunjukkan Kartun Nabi Muhammad, Polisi Perancis Tahan 15 Orang

Kasus Guru Dipenggal karena Tunjukkan Kartun Nabi Muhammad, Polisi Perancis Tahan 15 Orang

Global
Abaikan Larangan Berenang, Video Perlihatkan Pria Ini Diterkam Buaya

Abaikan Larangan Berenang, Video Perlihatkan Pria Ini Diterkam Buaya

Global
Temuannya Berpotensi Sembuhkan Covid-19, Gadis Ini Dihadiahi Rp 366 Juta

Temuannya Berpotensi Sembuhkan Covid-19, Gadis Ini Dihadiahi Rp 366 Juta

Global
Indonesia Tolak Permintaan AS Daratkan Pesawat Mata-mata P-8 Poseidon di Tanah Air

Indonesia Tolak Permintaan AS Daratkan Pesawat Mata-mata P-8 Poseidon di Tanah Air

Global
Kawasan di Kanada Ini Masih Bebas Virus Corona, Kok Bisa?

Kawasan di Kanada Ini Masih Bebas Virus Corona, Kok Bisa?

Global
Belanda Mau Ganti Rugi Rp 86 Juta ke Anak-anak Pejuang Indonesia yang Dieksekusi, tapi...

Belanda Mau Ganti Rugi Rp 86 Juta ke Anak-anak Pejuang Indonesia yang Dieksekusi, tapi...

Global
Hanya Menatap Kamera Ponsel, Pria Ini Jadi Bintang TikTok

Hanya Menatap Kamera Ponsel, Pria Ini Jadi Bintang TikTok

Global
Pria Ini Merasa Bangga Mengenakan Rok dan Sepatu Hak Tinggi Saat Bekerja

Pria Ini Merasa Bangga Mengenakan Rok dan Sepatu Hak Tinggi Saat Bekerja

Global
Sistem Praperadilan Korea Utara Dilaporkan Tidak Manusiawi, Penuh Siksaan

Sistem Praperadilan Korea Utara Dilaporkan Tidak Manusiawi, Penuh Siksaan

Global
Pekerja Gelap Tak Diampuni, Bagaimana Nasib Pertanian Australia?

Pekerja Gelap Tak Diampuni, Bagaimana Nasib Pertanian Australia?

Global
komentar
Close Ads X