Pemerintah di Benua Afrika Temukan Cara Turunkan Perburuan Badak Liar

Kompas.com - 08/08/2020, 21:24 WIB
Ilustrasi badak Afrika Selatan. Perburuan badak menurun selama lockdown Covid-19. WIKIMEDIA COMMONS/KomencantoIlustrasi badak Afrika Selatan. Perburuan badak menurun selama lockdown Covid-19.

WINDHOEK, KOMPAS.com - Bertahun-tahun badak menjadi target perburuan, akhirnya pada tahun ini jumlahnya dapat ditekan di atas 50 persen, sejalan dengan dinaikkannya denda dan hukuman penjara bagi para pelakunya.

Melansir Al Jazeera pada Sabtu (8/8/2020), pada tahun ini perburuan badak turun 63 persen di bandingkan tahun sebelumnya di Namibia, kata Kementerian Lingkungan Hidup dan Pariwisata, mengutip operasi intelijen yang diintensifkan oleh pihak berwenang dan hukuman yang lebih keras serta denda bagi para pemburu.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Afrika Sudah Capai 1 Juta, tapi Diyakini Masih Bisa Lebih

Kementerian Lingkungan Hidup dan Pariwisata juga menambahkan bahwa perburuan terhadap gajah, juga menurun dengan dua insiden yang dilaporkan tahun ini dibandingkan dengan 13 insiden yang terjadi pada 2019.

Sejalan dengan penurunan jumlah perburuan, pemerintah berwenang Namibia telah menaikkan denda karena perburuan menjadi 1,8 juta dollar AS (Rp 26,4 miliar) dari 13,431 dollar AS (Rp 196,9 juta) dan hukuman penjara telah meningkat menjadi 25 tahun dari 20 tahun.

Baca juga: Asyik Bersafari di Afrika, Turis Ini Lengannya Robek Diserang Singa

Menurut organisasi nirlaba Save the Rhino, Negara Afrika bagian selatan adalah rumah bagi populasi badak putih terbesar kedua di dunia setelah Afrika Selatan. Sementara, Namibia memiliki sepertiga dari sisa badak hitam di dunia.

Perburuan badak telah menjangkiti wilayah Afrika Selatan selama beberapa dekade, terutama di negara tetangga Afrika Selatan dan Botswana, yang mendorong program anti-perburuan, termasuk penghancuran dan pengawasan ketat.

Baca juga: Hanya dalam Semalam, Tujuh Bayi Tewas di Sebuah Rumah Sakit di Afrika

Badak diburu dan dibunuh untuk diambil tanduknya karena tingginya permintaan, sebagian besar di Asia, di mana kelas kaya menganggap mereka sebagai simbol status. Mereka juga digunakan dalam pengobatan tradisional.

Juru bicara Kementerian Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pariwisata Namibia, Romeo Muyanda mengatakan bahwa perburuan badak menurun dari 46 insiden pada 2019 menjadi 17 insiden pada 2020, sejauh ini.

Baca juga: Kasus Korupsi Dana Bantuan Membahayakan Masyarakat Afrika Selatan di Tengah Pandemi Covid-19

Patroli darat dan udara yang intensif menjadi alasan utama menurunnya jumlah perburuan. Selain itu, dilakukannya kolaborasi dengan anggota masyarakat serta adanya hukuman yang lebih keras untuk pemburu, juga membantu menurunkan angka tersebut.

"Faktor lainnya adalah kerja sama yang sangat baik dengan lembaga penegak hukum, seperti Kepolisian Namibia, Pasukan Pertahanan Namibia, dan Intelijen Pusat Namibia," kata Muyanda.

Sementara, ia menambahkana bahwa larangan perjalanan internasional yang diberlakukan pada Maret sebagai tanggapan terhadap pandemi virus corona bukanlah faktor besar dalam penurunan perburuan.

Baca juga: Terjadi Kekacuaan, 50 Tahanan Kabur di Afrika Selatan


Sumber Aljazeera
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X