Karena Covid-19, 30 Juta Orang Amerika Jadi Pengangguran dan Bergantung Dana Tunjangan

Kompas.com - 08/08/2020, 09:39 WIB
Dalam file foto tanggal 15 Juli 2020 ini, para pencari kerja melakukan latihan jarak sosial saat mereka menunggu untuk dipanggil ke kantor Heartland Workforce Solutions di Omaha, Neb. Proposal Partai Republik untuk memangkas peningkatan manfaat mingguan sebesar $ 600 bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan karena virus corona penutupan dapat mengakibatkan pembayaran tertunda berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan di beberapa negara bagian. AP Photo/Nati Harnik, FileDalam file foto tanggal 15 Juli 2020 ini, para pencari kerja melakukan latihan jarak sosial saat mereka menunggu untuk dipanggil ke kantor Heartland Workforce Solutions di Omaha, Neb. Proposal Partai Republik untuk memangkas peningkatan manfaat mingguan sebesar $ 600 bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan karena virus corona penutupan dapat mengakibatkan pembayaran tertunda berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan di beberapa negara bagian.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Amerika Serikat ( AS) mencatat hingga 30 juta orang kehilangana pekerjaan atau berkurangnya pendapatan, karena pandemi virus corona yang melumpuhkan ekonomi dan menewaskan hampir 160.000 orang di AS.

Melansir Associated Press pada Jumat (7/8/2020), para pekerja yang kesulitan keuangan tersebut tidak sedikit yang bergantung diri dengan tambahan dana tunjangan pengangguran pemerintah 600 dollar AS (Rp 8,8 juta) tiap minggunya. Namun, nilai tersebut akan disusutkan.

Anggota parlemen di Capitol Hill sedang menggodog kebijakan dana tunjangan pengangguran yang cukup alot. Diperkirakan keputusan tambahan dana tunjangan pengangguran tetap akan di bawah 600 dollar AS per minggu, dengan kemungkinan menjadi 400 dollar AS (Rp 5,9 juta) per minggu.

“Anggota Kongres mungkin memiliki kemewahan untuk datang pertemuan minggu ini, dan memberikan suara minggu depan. Kemudian meluncurkannya selama beberapa minggu,” kata Brian Gallagher, CEO United Way Worldwide.

Namun, lanjutnya, “Para keluarga (AS) tidak memiliki kemewahan itu, mereka akan kehabisan uang besok.”

Baca juga: Tegakkan Pencegahan Virus Corona, Venezuela Terapkan Hukuman Push Up sampai Kerja Bakti

Beberapa Republikan di Kongres berpendapat bahwa tambahan 600 dollar AS dalam tunjangan pengangguran sangat banyak, sehingga membuat orang enggan untuk kembali bekerja.

Beberapa studi universitas meragukan hal itu. Ekonom dan ahli ketenagakerjaan mengatakan bahwa tambahan dana tunjangan 600 dollar AS itu sangat bermanfaat untuk pekerjaan tertentu, seperti pekerja bidang perawatan kesehatan, yang mana mereka dapat bekerja meski bayaran rendah.

Pada Kamis, pemerintah mengatakan hampir 1,2 juta orang AS yang di-PHK, selama pekan lalu. Jumlah ini merupakan penurunan dari minggu sebelumnya.

Pekan ini adalah pekan ke-20, yang mana dalam minggu berturut-turut setidaknya 1 juta orang AS telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan dana tunjangan pengangguran.

Sementara, sebelum virus corona merebak, jumlahnya itu tidak pernah melampaui 700.000 dalam satu minggu.

Baca juga: Virus Corona Jadi Penyebab Korban Tewas akibat Ledakan di Lebanon Tidak Tinggi

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER GLOBAL]  Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden | Armenia: Turki Kirim Ahli Militer hingga Pesawat Tempur untuk Azerbaijan

[POPULER GLOBAL] Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden | Armenia: Turki Kirim Ahli Militer hingga Pesawat Tempur untuk Azerbaijan

Global
Banyak Penampakan UFO, Jepang Buat Perintah Baru untuk Pilot Militer

Banyak Penampakan UFO, Jepang Buat Perintah Baru untuk Pilot Militer

Global
WHO Akan Rilis Alat Tes Covid-19 Seharga Rp 70.000, Hasilnya Keluar 30 Menit

WHO Akan Rilis Alat Tes Covid-19 Seharga Rp 70.000, Hasilnya Keluar 30 Menit

Global
Bantah Tuduhan Berikan Pelatihan Teroris, Iran: Itu Skenario Tidak Berharga

Bantah Tuduhan Berikan Pelatihan Teroris, Iran: Itu Skenario Tidak Berharga

Global
Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden, gara-gara Gantikan Kotak Kosong

Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden, gara-gara Gantikan Kotak Kosong

Global
Preview: Menanti Debat Capres Pertama Trump Vs Biden

Preview: Menanti Debat Capres Pertama Trump Vs Biden

Global
Beli Ayam di Supermarket, Pria Ini Mual Temukan Sesuatu yang Menjijikkan

Beli Ayam di Supermarket, Pria Ini Mual Temukan Sesuatu yang Menjijikkan

Global
Tawarkan Hubungan Damai kepada Pakistan, Afghanistan: Sudahi Retorika Basi dan Teori Konspirasi

Tawarkan Hubungan Damai kepada Pakistan, Afghanistan: Sudahi Retorika Basi dan Teori Konspirasi

Global
Gadis Kasta Rendah Tewas Diperkosa, Ditemukan Bersimbah Darah dan Lumpuh

Gadis Kasta Rendah Tewas Diperkosa, Ditemukan Bersimbah Darah dan Lumpuh

Global
Kisah Perang: Momotaro, Anime yang Jadi Alat Propaganda Jepang di PD II

Kisah Perang: Momotaro, Anime yang Jadi Alat Propaganda Jepang di PD II

Global
Korsel Sebut Pejabat yang Dibunuh dan Dibakar Hendak Membelot ke Korea Utara

Korsel Sebut Pejabat yang Dibunuh dan Dibakar Hendak Membelot ke Korea Utara

Global
Dituduh Selingkuh, Paha Seorang Pria Disiram Air Mendidih oleh Pacar

Dituduh Selingkuh, Paha Seorang Pria Disiram Air Mendidih oleh Pacar

Global
Terlibat Pembunuhan Breonna Taylor, Detektif Hankison Mengaku Tak Bersalah

Terlibat Pembunuhan Breonna Taylor, Detektif Hankison Mengaku Tak Bersalah

Global
Seorang Ibu Keji Bunuh Anak 5 Tahun Setelah Insiden Telur Pecah di Teras Rumah

Seorang Ibu Keji Bunuh Anak 5 Tahun Setelah Insiden Telur Pecah di Teras Rumah

Global
WHO Bakal Luncurkan 120 Juta Rapid Test Covid-19 ke Negara Miskin

WHO Bakal Luncurkan 120 Juta Rapid Test Covid-19 ke Negara Miskin

Global
komentar
Close Ads X