Ini Beberapa Alasan Kasus Covid-19 di India Lampaui 2 Juta

Kompas.com - 07/08/2020, 22:33 WIB
Tenaga kesehatan memakai Alat Pelindung Diri (APD) membawa jenazah seorang warga yang meninggal dunia akibat penyakit virus korona (COVID-19) di sebuah krematorium di New Delhi, India, Rabu (24/6/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/ANUSHREE FADNAVISTenaga kesehatan memakai Alat Pelindung Diri (APD) membawa jenazah seorang warga yang meninggal dunia akibat penyakit virus korona (COVID-19) di sebuah krematorium di New Delhi, India, Rabu (24/6/2020).

NEW DELHI, KOMPAS.com - India telah mencatat kasus infeksi Covid-19 lebih dari 2 juta, muncul beberapa spekulasi para ahli mengenai penyebab lonjakan kasus tersebut.

Melansir BBC pada Jumat (7/8/2020), jumlah kasus Covid-19 India melampaui 2 juta, setelah adanya penambahan 62.170 kasus dalam waktu 24 jam terakhir atau satu juta kasus hanya dalam 20 hari, lebih cepat dari AS atau Brasil, yang keduanya memiliki jumlah kasus yang lebih tinggi.

Jika mengingat populasi India yang padat, mungkin jumlah kasus yang terjadi tidak mengejutkan. Namun, para ahli mengatakan virus itu bisa diperlambat.

Baca juga: Tegakkan Pencegahan Virus Corona, Venezuela Terapkan Hukuman Push Up sampai Kerja Bakti

Para ahli menyalahkan lockdown yang singkat, pengujian dan penelusuran yang tidak merata, serta protokol keamanan Covid-19 yang tidak efektif.

Bahkan saat daerah yang semula menjadi pusat penyebaran Covid-19 telah membaik, seperti Delhi, Tamil Nadu, dan Maharashtra, kasus melonjak di wilayah lain.

"Kami telah melihat cukup banyak orang yang melakukan perjalanan antara daerah pedesaan dan perkotaan, serta kami melihat virus sekarang memasuki daerah pedesaan dan menyebar di sana," kata Dr Srinath Reddy, presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India dan penasihat untuk federal serta pemerintah negara bagian dalam mengatasi Covid-19.

Baca juga: Virus Corona Jadi Penyebab Korban Tewas akibat Ledakan di Lebanon Tidak Tinggi

Lockdown dan efek pelonggaran

Dilaporkan jumlah kasus virus corona di India meningkat semenjak India melakukan pembukaan kembali kegiatan normal masyarakatnya pada Juni lalu, dan secara bersamaan pengujian virus corona juga ditingkatkan.

Pada saat itulah, orang-orang mulai melakukan perjalanan berpergian kembali dengan melintasi daerah, negara bagian, yang mungkin sambil membawa virus corona.

Dr Reddy mengatakan penyebaran di daerah pedesaan relatif lebih lambat karena ada "lebih banyak ruang terbuka, Anda menempuh jarak yang lebih jauh" antar rumah ke rumah.

Namun, ia memperkirakan virus tersebut pasti telah menyebar juga di pedesaan India, seperti yang dapat dilihat dari fakta bahwa kasus meningkat paling cepat di negara bagian selatan Andhra Pradesh yang merupakan daerah pedesaan.

Baca juga: Media Asing Sorot Buruknya Penanganan Covid-19 di Indonesia: Dari Kalung Anti Corona sampai Ucapan Influencer

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber BBC
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ribuan Orang Gelar Doa Bersama dan Beri Dukungan pada Trump

Ribuan Orang Gelar Doa Bersama dan Beri Dukungan pada Trump

Global
Mahathir Tak Ingin Mencalonkan Diri karena Dia Bakal Berumur 98 Tahun di Pemilu Malaysia Selanjutnya

Mahathir Tak Ingin Mencalonkan Diri karena Dia Bakal Berumur 98 Tahun di Pemilu Malaysia Selanjutnya

Global
Michael Jackson Diyakini Pernah Bertemu Almarhum Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pada 1998

Michael Jackson Diyakini Pernah Bertemu Almarhum Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pada 1998

Global
Kecelakaan Tambang Batu Bara di China Tewaskan 16 Orang

Kecelakaan Tambang Batu Bara di China Tewaskan 16 Orang

Global
Azerbaijan dan Armenia Bentrok, Turki: Yerevan Hambatan bagi Perdamaian

Azerbaijan dan Armenia Bentrok, Turki: Yerevan Hambatan bagi Perdamaian

Global
Pembunuh 20 Orang di India Suap Polisi Rp 10 Miliar agar Dibebaskan

Pembunuh 20 Orang di India Suap Polisi Rp 10 Miliar agar Dibebaskan

Global
Korea Utara Lakukan Pencarian Terpisah dengan Selatan untuk Temukan Jenazah Pejabat yang Ditembak Tentaranya

Korea Utara Lakukan Pencarian Terpisah dengan Selatan untuk Temukan Jenazah Pejabat yang Ditembak Tentaranya

Global
Survei Sebut Warga AS Nilai Kinerja Pemerintahnya dalam Atasi Pandemi Covid-19 Buruk

Survei Sebut Warga AS Nilai Kinerja Pemerintahnya dalam Atasi Pandemi Covid-19 Buruk

Global
Makin Memanas dengan Azerbaijan, Karabakh dan Armenia Umumkan Pengerahan Militer

Makin Memanas dengan Azerbaijan, Karabakh dan Armenia Umumkan Pengerahan Militer

Global
Guru di Sekolah untuk Anak dengan Kesulitan Emosi Ini Mengaku Berhubungan Seks dengan Muridnya

Guru di Sekolah untuk Anak dengan Kesulitan Emosi Ini Mengaku Berhubungan Seks dengan Muridnya

Global
Vaksin Covid-19 Berbahan Hati Hiu, Ahli Konservasi: Bencana Bagi Hiu dan Manusia

Vaksin Covid-19 Berbahan Hati Hiu, Ahli Konservasi: Bencana Bagi Hiu dan Manusia

Global
Sebut Virus Corona 'Hoaks', Politikus Ini Meninggal karena Covid-19

Sebut Virus Corona "Hoaks", Politikus Ini Meninggal karena Covid-19

Global
Kremlin Sebut Penolakan Barat untuk Akui Lukashenko Bertentangan dengan Hukum Internasional

Kremlin Sebut Penolakan Barat untuk Akui Lukashenko Bertentangan dengan Hukum Internasional

Global
Perang Azerbaijan dan Armenia Pecah, Anak-anak dan Perempuan Tewas

Perang Azerbaijan dan Armenia Pecah, Anak-anak dan Perempuan Tewas

Global
Para Ahli Khawatir Obesitas Anak dapat Meningkat di Masa Pandemi Covid-19

Para Ahli Khawatir Obesitas Anak dapat Meningkat di Masa Pandemi Covid-19

Global
komentar
Close Ads X