Ledakan di Lebanon, Kenapa Amonium Nitrat 6 Tahun Disimpan di Beirut?

Kompas.com - 06/08/2020, 12:25 WIB
Helikopter memadamkan api di lokasi ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut. AFP/STRHelikopter memadamkan api di lokasi ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut.

Peringatan yang dihiraukan

Menurut balasan surel dari Prokoshev dan pengacara Charbel Dagher yang berbasis di Beirut yang mewakili kru kapal di Lebanon, amonium nitrat sempat dibongkar di pelabuhan Beirut pada November 2014 dam disimpan di hanggar.

Zat itu disimpan di sana selama 6 tahun, meski sudah ada peringatan berulang kali dari Direktur Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, tentang "bahaya besar" yang dapat ditimbulkan muatan tersebut.

Namun dokumen pengadilan publik yang didapat CNN melalui aktivis HAM terkemuka di Lebanon, Wadih Al Asmar, mengungkap bahwa Daher dan pendahulunya, Merhi, sudah beberapa kali meminta bantuan pengadilan Beirut untuk membantu menyingkirkan barang-barang berbahaya itu pada 2014 dan seterusnya.

"Dalam memo kami 19320/2014 tertanggal 12/5/2014 dan 5/6/2015 (...) kami meminta Anda memerintahkan Otoritas Pelabuhan untuk mengekspor kembali Amonium Nitrat yang diambil dari kapal Rhosus dan ditempatkan di Hanggar bea cukai nomor 12 di pelabuhan Beirut," tulis Daher pada 2017.

Baca juga: Trump soal Ledakan di Beirut, Lebanon: Mungkin Itu Serangan, tetapi...

Menurut dokumen pengadilan, suatu ketika dia juga menawarkan penjualan kargo berbahaya itu ke tentara Lebanon, tapi upayanya gagal.

Pada Rabu (5/8/2020) Daher mengonfirmasi ke CNN, kantornya sudah mengirim "total 6 surat ke otoritas hukum" tapi pihak berwenang tidak menggubrisnya.

"Otoritas Pelabuhan seharusnya tidak mengizinkan kapal menurunkan bahan kimia ke pelabuhan. Bahan kimia itu awalnya dikirm ke Mozambik, bukan Lebanon," katanya.

Di hari yang sama Direktur Jenderal Pelabuhan Beirut Hassan Kraytem berkata ke tv lokal OTV, "Kami menyimpan barang tersebut di gudang nomor 12 di pelabuhan Beirut sesuai dengan perintah pengadilan."

"Kami tahu itu bahan berbahaya, tapi tidak sampai sebesar ini (ledakannya)."

Kraytem melanjutkan, persoalan untuk menyingkirkan bahan peledak ini sudah diwacanakan oleh Badan Keamanan dan Bea Cukai Negara, tapi tak kunjung "diselesaikan".

"Bea Cukai dan Keamanan Negara mengirim surat (ke pihak-pihak berwenang) meminta untuk memindahkan atau mengekspor kembali bahan peledak itu 6 tahun lalu, dan kami sejak itu menunggu penyelesaian masalah ini, tapi tak ada hasilnya," ujar Kraytem.

Kabarnya, ada pengelasan di pintu gudang beberapa jam sebelum ledakan terjadi.

"Kami diminta memperbaiki pintu gudang oleh Keamanan Negara, dan kami mengerjakannya siang hari, tetapi (penyebab) yang terjadi di sore harinya saya tak tahu kenapa."

Baca juga: Buntut Ledakan di Beirut, Lebanon, Pejabat Pelabuhan Jadi Tahanan Rumah

Halaman:

Sumber CNN
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selamat dari Perang Dunia dan Flu Spanyol, Nenek 107 Tahun Ini Tak Khawatir Covid-19

Selamat dari Perang Dunia dan Flu Spanyol, Nenek 107 Tahun Ini Tak Khawatir Covid-19

Global
2 Perempuan Ditikam di Bawah Menara Eiffel Sambil Diteriaki 'Arab Kotor'

2 Perempuan Ditikam di Bawah Menara Eiffel Sambil Diteriaki "Arab Kotor"

Global
Pemenggal Kepala Guru di Perancis Sogok Murid hingga Rp 6 Juta Sebelum Beraksi

Pemenggal Kepala Guru di Perancis Sogok Murid hingga Rp 6 Juta Sebelum Beraksi

Global
Terungkap, Trump Ternyata Punya Rekening Bank di China

Terungkap, Trump Ternyata Punya Rekening Bank di China

Global
9 Warga Korea Selatan Meninggal Setelah Terima Suntikan Vaksinasi Flu Musiman

9 Warga Korea Selatan Meninggal Setelah Terima Suntikan Vaksinasi Flu Musiman

Global
Paus Fransiskus Kembali Buka Maskernya

Paus Fransiskus Kembali Buka Maskernya

Global
Perempuan di AS yang Hidup Lagi Usai Disemayamkan Kini Benar-benar Meninggal

Perempuan di AS yang Hidup Lagi Usai Disemayamkan Kini Benar-benar Meninggal

Global
Orangtua dari 545 Anak Migran yang Terpisah akibat Pemerintahan Trump Belum Ditemukan

Orangtua dari 545 Anak Migran yang Terpisah akibat Pemerintahan Trump Belum Ditemukan

Global
Lebih dari 100 Orang Tewas dan Ribuan Rumah Terendam dalam Banjir Vietnam

Lebih dari 100 Orang Tewas dan Ribuan Rumah Terendam dalam Banjir Vietnam

Global
Ekstrem, Pria Tua Jerman Semprot Merica untuk Jaga Jarak di Tengah Ketakutan Covid-19

Ekstrem, Pria Tua Jerman Semprot Merica untuk Jaga Jarak di Tengah Ketakutan Covid-19

Global
Makan Mi yang Disimpan Selama 1 Tahun, 9 Anggota Keluarga Meninggal Dunia

Makan Mi yang Disimpan Selama 1 Tahun, 9 Anggota Keluarga Meninggal Dunia

Global
Kepala Keamanan Lebanon Positif Covid-19 Setelah Berkunjung di Gedung Putih

Kepala Keamanan Lebanon Positif Covid-19 Setelah Berkunjung di Gedung Putih

Global
Virus Corona, Singapura Bersiap Masuki New Normal pada Akhir Tahun

Virus Corona, Singapura Bersiap Masuki New Normal pada Akhir Tahun

Global
Seorang Mahasiswa Rela Disuntik Vaksin Covid-19 Eksperimental dan Bayar Rp 902.555

Seorang Mahasiswa Rela Disuntik Vaksin Covid-19 Eksperimental dan Bayar Rp 902.555

Global
11 Wanita Afghanistan Tewas Terinjak-injak Saat Antre Urus Visa Pindah ke Pakistan

11 Wanita Afghanistan Tewas Terinjak-injak Saat Antre Urus Visa Pindah ke Pakistan

Global
komentar
Close Ads X