Israel Bantah Terlibat dalam Ledakan di Beirut, Lebanon

Kompas.com - 05/08/2020, 17:02 WIB
Petugas berjaga saat helikopter memadamkan api di lokasi ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut. AFP/STRPetugas berjaga saat helikopter memadamkan api di lokasi ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut.

TEL AVIV, KOMPAS.com - Israel menyatakan, mereka sama sekali tidak ada kaitannya dengan ledakan di ibu kota Lebanon, Beirut, pada Selasa (4/8/2020).

Sebanyak 100 orang tewas dengan lebih dari 4.000 lainnya terluka ketika dua ledakan terjadi di kawasan pelabuhan Selasa waktu setempat.

"Israel tidak kaitannya sama sekali dengan insiden ini," terang salah satu pejabat yang tidak ingin diungkap identitasnya, dikutip Reuters Rabu (5/8/2020).

Baca juga: Musuh Bebuyutan Lebanon, Israel, Tawarkan Bantuan Pasca-diguncang Ledakan

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi kepada kanal televisi N12 mengatakan, ledakan di Beirut terjadi karena adanya api.

Tel Aviv sendiri melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sudah meminta dewan keamanan berkontak dengan Utusan PBB di Timur Tengah, Nickolay Mladenov.

Tujuannya, mereka ingin mencari tahu bagaimana Israel bisa menyalurkan bantuan kemanusiana kepada Lebanon atas ledakan di ibu kota.

Tawaran bantuan itu dapat disalurkan melalui perantara internasional berupa bantuan medis, bantuan kemanusiaan, dan bantuan kegawat daruratan.

"Kami berbagi kepedihan dengan rakyat Lebanon dan dengan tulus menawarkan bantuan kami pada saat yang sulit ini,” kata Presiden Israel Reuven Rivlin.

Adapun Lebanon dan Israel bisa dikatakan sebagai musuh bebuyutan, di mana mereka kali terakhir terlibat perang adalah pada 2006.

Sebelum insiden pun, ketegangan di antaa dua negara meningkat setelah Tel Aviv menuding Hezbollah melakukan penyusupan ke wilayahnya.

Dalam klaimnya, Tel Aviv menerangkan kelompok paramiliter yang menguasai Lebanon tersebut mengirim anggotanya melintasi "Garis Biru" yang ditetapkan PBB.

Adapun menurut Perdana Menteri Hassan Diab, 2.750 ton amonium nitrat, bahan kimia yang dipergunakan sebagai pupuk atau peledak, jadi penyebab utama.

Bahan berdaya ledak tinggi tersebut selama enam tahun terakhir disimpan dalam gudang yang berlokasi di tepi laut.

Baca juga: Kisah Saksi Ledakan Beirut: Seperti Israel Mengebom Lebanon pada 2006


Sumber Reuters
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X