Kisah Mengharukan Penyintas Bom Hiroshima-Nagasaki, Berharap Tak Ada Lagi Senjata Nuklir

Kompas.com - 04/08/2020, 14:08 WIB
Foto diambil pada 10 Agustus 1945 di Hiroshima, menunjukkan dua bersaudara yang selamat dari insiden bom atom di kota tersebut. Pada 73 tahun lalu, Agustus 1945, AS menjatuhkan bom Little Boy di Kota Hiroshima, Jepang, sebagai tahap akhir PD II yang menewaskan lebih dari 120.000 orang. Setelah Hiroshima, Kota Nagasaki menjadi sasaran berikutnya. AFP PHOTO/HO/FILESFoto diambil pada 10 Agustus 1945 di Hiroshima, menunjukkan dua bersaudara yang selamat dari insiden bom atom di kota tersebut. Pada 73 tahun lalu, Agustus 1945, AS menjatuhkan bom Little Boy di Kota Hiroshima, Jepang, sebagai tahap akhir PD II yang menewaskan lebih dari 120.000 orang. Setelah Hiroshima, Kota Nagasaki menjadi sasaran berikutnya.

TOKYO, KOMPAS.com - Menandai 75 tahun sejak serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, generasi terakhir yang selamat dari pengeboman memastikan agar pesan mereka tetap hidup.

" Hibakusha" (secara harfiah orang yang terkena dampak bom) selama puluhan tahun telah menyerukan penghapusan senjata nuklir.

Diperkirakan ada 136.700 hibakusha yang masih hidup, banyak di antara mereka masih bayi atau belum lahir saat pengemboman sebagaimana diwartakan AFP, Selasa (4/8/2020).

Kementerian Kesehatan Jepang memperkirakan rata-rata umur mereka kini lebih dari 83 tahun.

Terumi Tanaka (88), salah satu korban selamat dalam pengeboman Nagasaki, mengatakan bahwa hibakusha menyerukan tidak mau lagi kejadian itu terulang lagi di mana pun.

Baca juga: Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki Disiapkan Selama 6 Tahun, Ini Prosesnya

"Untuk tujuan ini, kami harus membiarkan orang lain tahu apa yang kita alami, agar mereka dapat mengetahui faktanya," kata Tanaka.

Tanaka berusia 13 tahun ketika bom atom itu meledakkan kotanya. Pengeboman di Nagasaki menewaskan 74.000 orang.

Tiga hari kemudian, bom atom kembali dijatuhkan di Hiroshima yang menewaskan 140.000 orang.

Dia menghabiskan banyak sisa hidupnya untuk berbagi pengalaman, berharap bahwa dengan menjelaskan kengerian senjata nuklir akan meyakinkan orang untuk mendukung pelarangan senjata nuklir.

Dia mengakui bahwa korban selaman pengeboman tersebut semakin menyusut. Dan mereka harus menitipkan estafet pesan kengerian tersebut kepada generasi penerus.

Baca juga: Hiroshima dan Nagasaki, Jadi Kota Maju Setelah Tragedi Bom Atom

"Kami semua pada akhirnya mati. Kami membuat kelompok bernama No More Hibakusha Project, yang untuk menjaga berbagai catatan sebagai arsip, termasuk apa yang telah kami tulis. Sehingga [generasi berikutnya] dapat menggunakannya,” ujar Tanaka.

Pelarangan Senjata Nuklir

Tanaka khawatir pada saat ini kampanye pelarangan senjata nuklir semakin memudar. Pidato oleh hibakusha seringkali hanya menarik segelintir orang.

"Kami melakukan yang sebisanya. Tetapi jika tidak ada yang datang, itu adalah indikasi kehilangan," ujar Tanaka.

Baca juga: Dua Gedung yang Selamat dari Bom Atom di Hiroshima Bakal Dihancurkan

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mau Bikin Rumah Seperti 'Teletubbies', Wanita Ini Malah Dianggap Rusak Pemandangan

Mau Bikin Rumah Seperti "Teletubbies", Wanita Ini Malah Dianggap Rusak Pemandangan

Global
Inspirasi Energi: Beda Cara Perusahaan Minyak Eropa dan AS Sikapi Perubahan Iklim

Inspirasi Energi: Beda Cara Perusahaan Minyak Eropa dan AS Sikapi Perubahan Iklim

Global
Miss Sherlock Yuko Takeuchi Tewas Bunuh Diri, Jepang Imbau Warganya

Miss Sherlock Yuko Takeuchi Tewas Bunuh Diri, Jepang Imbau Warganya

Global
Menang Main Ludo, Seorang Ayah Diseret Anaknya ke Pengadilan

Menang Main Ludo, Seorang Ayah Diseret Anaknya ke Pengadilan

Global
Wanita Ini Dipukul oleh 3 Pria karena Pakai Rok

Wanita Ini Dipukul oleh 3 Pria karena Pakai Rok

Global
Usai Kasus Li Wenliang, Beijing Buat UU Baru Khusus Nakes 'Whistleblower'

Usai Kasus Li Wenliang, Beijing Buat UU Baru Khusus Nakes "Whistleblower"

Global
Perang Azerbaijan-Armenia di Nagorny Karabakh Masuki Hari Kedua, 39 Orang Tewas

Perang Azerbaijan-Armenia di Nagorny Karabakh Masuki Hari Kedua, 39 Orang Tewas

Global
Diguncang Aksi Protes, Presiden Mesir Peringatkan Gangguan Stabilitas Nasional

Diguncang Aksi Protes, Presiden Mesir Peringatkan Gangguan Stabilitas Nasional

Global
KTT G20 Akan Digelar Virtual November, Arab Saudi Tuan Rumahnya

KTT G20 Akan Digelar Virtual November, Arab Saudi Tuan Rumahnya

Global
Perang Azerbaijan-Armenia, PM Nikol Pashinyan: Campur Tangan Turki Akan Ciptakan Ketidakstabilan

Perang Azerbaijan-Armenia, PM Nikol Pashinyan: Campur Tangan Turki Akan Ciptakan Ketidakstabilan

Global
Alasan Trump Masih 'Ngotot' Minta Biden Tes Narkoba Jelang Debat Capres Pertama

Alasan Trump Masih "Ngotot" Minta Biden Tes Narkoba Jelang Debat Capres Pertama

Global
Sebelum Dibunuh, Pejabat Korsel Coba Diselamatkan oleh Tentara Korut

Sebelum Dibunuh, Pejabat Korsel Coba Diselamatkan oleh Tentara Korut

Global
Pengangguran di Australia: 6.000 Orang Melamar Jadi Pencuci Piring

Pengangguran di Australia: 6.000 Orang Melamar Jadi Pencuci Piring

Global
Busana Indonesia Karya Maquinn Couture Pukau 170 Tamu Undangan Milan Fashion Week

Busana Indonesia Karya Maquinn Couture Pukau 170 Tamu Undangan Milan Fashion Week

Global
Dicalonkan Trump Jadi Hakim Agung, Siapa Amy Coney Barrett?

Dicalonkan Trump Jadi Hakim Agung, Siapa Amy Coney Barrett?

Global
komentar
Close Ads X