Polisi Hong Kong Tangkap 4 Pelajar dengan Tuduhan Separatisme

Kompas.com - 30/07/2020, 20:39 WIB
Inspektur Senior Li Kwai-wah, Departemen Keamanan Nasional Kepolisian Hong Kong, berbicara selama konferensi pers di Hong Kong, Kamis, 30 Juli 2020. Polisi Hong Kong telah melakukan penangkapan besar-besaran pertama mereka di bawah undang-undang keamanan nasional yang baru, menahan empat pelajar atas dugaan menghasut pemisahan diri. Polisi mengatakan mereka menangkap tiga pria dan satu wanita, berusia 16 hingga 21 tahun, di tiga lokasi. Semua diyakini siswa. AP Photo/Kin CheungInspektur Senior Li Kwai-wah, Departemen Keamanan Nasional Kepolisian Hong Kong, berbicara selama konferensi pers di Hong Kong, Kamis, 30 Juli 2020. Polisi Hong Kong telah melakukan penangkapan besar-besaran pertama mereka di bawah undang-undang keamanan nasional yang baru, menahan empat pelajar atas dugaan menghasut pemisahan diri. Polisi mengatakan mereka menangkap tiga pria dan satu wanita, berusia 16 hingga 21 tahun, di tiga lokasi. Semua diyakini siswa.

HONG KONG, KOMPAS.com - Polisi Hong Kong menangkap 4 pelajar pada Rabu (28/7/2020), dengan tuduhan telah menghasut gerakan separatisme Hong Kong dari China melalui unggahan media sosial.

Penangkapan 4 pelajar tersebut didasari implementasi ketat UU Keamanan Nasional China untuk Hong Kong, yang telah menuai kontroversi di tingkat regional maupun internasional, sejak beberapa bulan lalu.

Melansir Associated Press pada Jumat (30/7/2020), pelajar tersebut terdiri dari 3 pria dan 1 wanita, yang berusia antara 16 hingga 21 tahun. Keempatnya ditangkap dan ditahan hari ini pada 11 malam waktu setempat.

"Penyelidikan kami menunjukkan bahwa suatu kelompok baru-baru ini mengumumkan di sosial media bahwa mereka telah membentuk organisasi untuk kemerdekaan Hong Kong," ujar senior unit pengawas yang baru dibentuk untuk menegakkan UU Keamanan Nasional, Li Kwai-wah.

Baca juga: Inggris Tangguhkan Ekstradisi dengan Hong Kong, Begini Peringatan China

Kwai-wah hanya menerangkan bahwa kelompok yang diduga melakukan hasutan separatisme itu dibentuk baru-baru ini dan mengunggah konten yang mengancam kedaulatan nasional, setelah 30 Juni UU Keamanan Nasional diberlakukan.

"Mereka mengatakan mereka ingin mendirikan republik Hong Kong, dan bahwa mereka pasti akan berjuang untuk itu. Mereka juga mengatakan ingin menyatukan semua kelompok pro-kemerdekaan di Hong Kong untuk tujuan tersebut," kata Kwai-wah.

Kemudian, Kwai-wah memperingatkan kepada siapa pun yang berpikir untuk bisa melakukan kejahatan melalui media sosial, perlu berpikir dua kali.

UU yang berusia 1 bulan ini telah memicu kekhawatiran para aktivits pro- demokrasi bersama dengan para akademisi dan lainnya yang memprotes pengesahan UU Keamanan Nasional, terhadap aktivitas mereka.

Baca juga: China Ancam Beri Sanksi Balasan kepada AS karena Tanda Tangani UU Otonomi Hong Kong

Pemerintah pusat Beijing memberlakukan UU Keamanan Nasional dalam mengatur teritori China semi-otonom ini, setelah pemerintah pusat tidak dapat mengendalikan Hong Kong lewat perangkat pemerintahan setempat.

Sementara itu, dalam sebuah akun Facebook organisasi bernama Studenlocalism, yang mengumumkan pembubarannya sebelum diberlakukannya UU Keamanan Nasional, mengatakan bahwa ada 4 mantan anggotanya ditangkap dengan tuduhan separatisme, termasuk mantan ketuanya, Tony Chung.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Debat Pilpres AS, Biden Pertanyakan Penanganan Covid-19 Trump kepada Rakyat AS

Debat Pilpres AS, Biden Pertanyakan Penanganan Covid-19 Trump kepada Rakyat AS

Global
Debat Capres AS, Biden: Presiden Trump Jelas Ingin UU Perawatan Terjangkau Disingkirkan

Debat Capres AS, Biden: Presiden Trump Jelas Ingin UU Perawatan Terjangkau Disingkirkan

Global
Debat Pertama Panas, Biden ke Trump: Bisakah Kau Diam, Bung?

Debat Pertama Panas, Biden ke Trump: Bisakah Kau Diam, Bung?

Global
Tenaga Kesehatan di Peru Turun ke Jalan, Tuntut Lebih Banyak APD

Tenaga Kesehatan di Peru Turun ke Jalan, Tuntut Lebih Banyak APD

Global
Kabar Duka, Emir Kuwait Syekh Sabah Al Ahmad Wafat

Kabar Duka, Emir Kuwait Syekh Sabah Al Ahmad Wafat

Global
Pemimpin Hezbollah: Perancis Jangan Bertindak Layaknya Penguasa Lebanon

Pemimpin Hezbollah: Perancis Jangan Bertindak Layaknya Penguasa Lebanon

Global
[POPULER GLOBAL]  Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden | Armenia: Turki Kirim Ahli Militer hingga Pesawat Tempur untuk Azerbaijan

[POPULER GLOBAL] Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden | Armenia: Turki Kirim Ahli Militer hingga Pesawat Tempur untuk Azerbaijan

Global
Banyak Penampakan UFO, Jepang Buat Perintah Baru untuk Pilot Militer

Banyak Penampakan UFO, Jepang Buat Perintah Baru untuk Pilot Militer

Global
WHO Akan Rilis Alat Tes Covid-19 Seharga Rp 70.000, Hasilnya Keluar 30 Menit

WHO Akan Rilis Alat Tes Covid-19 Seharga Rp 70.000, Hasilnya Keluar 30 Menit

Global
Bantah Tuduhan Berikan Pelatihan Teroris, Iran: Itu Skenario Tidak Berharga

Bantah Tuduhan Berikan Pelatihan Teroris, Iran: Itu Skenario Tidak Berharga

Global
Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden gara-gara Gantikan Kotak Kosong

Kisah Tukang Sapu Menang Pilkada Lawan Partai Presiden gara-gara Gantikan Kotak Kosong

Global
Preview: Menanti Debat Capres Pertama Trump Vs Biden

Preview: Menanti Debat Capres Pertama Trump Vs Biden

Global
Beli Ayam di Supermarket, Pria Ini Mual Temukan Sesuatu yang Menjijikkan

Beli Ayam di Supermarket, Pria Ini Mual Temukan Sesuatu yang Menjijikkan

Global
Tawarkan Hubungan Damai kepada Pakistan, Afghanistan: Sudahi Retorika Basi dan Teori Konspirasi

Tawarkan Hubungan Damai kepada Pakistan, Afghanistan: Sudahi Retorika Basi dan Teori Konspirasi

Global
Gadis Kasta Rendah Tewas Diperkosa, Ditemukan Bersimbah Darah dan Lumpuh

Gadis Kasta Rendah Tewas Diperkosa, Ditemukan Bersimbah Darah dan Lumpuh

Global
komentar
Close Ads X