Bencana Margasatwa Terburuk : Hampir 3 Miliar Binatang Terbunuh dalam Kebakaran Hutan di Australia

Kompas.com - 29/07/2020, 21:37 WIB
Kanguru terbakar di antara tiga juta hewan yang diperkirakan tewas dalam kebakaran hutan musim panas di Australia WWF-Australia/Daily Mail Kanguru terbakar di antara tiga juta hewan yang diperkirakan tewas dalam kebakaran hutan musim panas di Australia

CANBERA, KOMPAS.com - Kelompok konservasi WWF- Australia menyebutkan hampir 3 miliar hewan diperkirakan terkena dampak kebakaran hutan musim panas yang mengerikan di Australia.

Melansir Daily Mail pada Rabu (29/7/2020), angka tersebut 3 kali lipat dari angka yang pernah disebutkan oleh pakar mamalia Australia, Profesor Chris Dickman pada Januari.

WWF-Australia menugaskan sekelompok ilmuwan untuk memberikan perkiraan yang lebih rinci tentang jumlah hewan yang terbunuh maupun terlantar akibat kebakaran hutan pada 2019-2020.

Baca juga: Dampak Pembatasan Covid-19, Pasangan Ini Menikah di Tengah Hutan Perbatasan Swedia-Norwegia

Pada Selasa (28/7/2020), pihaknya merilis laporan sementara terhadap 11,46 juta hektar area terdampak kebakaran dan menemukan hampir tiga miliar hewan asli berada di sana.

Ada 143 juta mamalia, 2,46 miliar reptil, 180 juta burung, dan 51 juta katak yang diduga ikut terbakar.

Kepala eksekutif WWF-Australia, Dermot O'Gorman mengatakan temuan itu mengejutkan.

Baca juga: Setelah 5 Hari Diburu di Hutan Hitam, Rambo Jerman Ini Tertangkap

"Sulit untuk memikirkan peristiwa lain di dunia, di mana telah membunuh atau menggusur banyak hewan. Ini peringkat sebagai salah satu bencana margasatwa terburuk dalam sejarah modern," kata O'Gorman dalam sebuah pernyataan pada Selasa (28/7/2020).

Prof Dickman pada bulan Januari memperkirakan lebih dari 1 miliar hewan mati dalam kebakaran musim panas.

Dia mencatat angka ini konservatif dan hanya mencakup area yang terbakar di New South Wales dan Victoria.

Baca juga: Pohon Tumbang Misterius di Hutan Inggris, Diduga Bekas UFO Jatuh

Kemudian, profesor dari University of Sydney ini pada Selasa (28/7/2020), mengatakan ketika para ilmuwan tidak dapat mengkonfirmasi berapa banyak hewan yang mati, itu karena prospek untuk setiap satwa liar yang melarikan diri adalah "mungkin tidak terlalu bagus" karena kurangnya makanan dan tempat berlindung.

Dia berpendapat bahwa kebakaran hutan telah mengubah lingkungan dan menghabiskan keanekaragaman hayati asli, dan tindakan perubahan diperlukan.

"Seberapa cepat kita bisa menghilangkan karbon? Seberapa cepat kita bisa menghentikan pembukaan lahan kita? Pembukaan lahan kita merupakan salah satu yang tertinggi di dunia," katanya.

Baca juga: 20 Jam Sendirian di Hutan, Anak Ini Selamat Sementara Ayahnya Tewas Ditembak

Laporan ini merekomendasikan perlunya peningkatan pengelolaan kebakaran hutan di masa depan dan dampak pada keanekaragaman hayati dengan membentuk tim respon cepat, untuk mengurangi dampak pada spesies yang terancam dan mengidentifikasi, serta melindungi habitat yang tidak terbakar.

WWF-Australia mengatakan laporan itu dibatasi oleh data yang terbatas tentang kepadatan hewan, dampak kebakaran, dan kemampuan berbagai spesies untuk bertahan hidup dan pulih.

Baca juga: Perkosa Korbannya di Hutan, Penjahat Seks Ini Divonis Penjara 8 Tahun


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bocah 'Pemulung' 5 Hari Tertimbun Longsoran Sampah Setinggi 30 Meter di India

Bocah "Pemulung" 5 Hari Tertimbun Longsoran Sampah Setinggi 30 Meter di India

Global
Pilpres AS 2020: Siapa Capres Idaman China, Iran, dan Rusia?

Pilpres AS 2020: Siapa Capres Idaman China, Iran, dan Rusia?

Global
Kisah Pulau Paling Terpencil di Dunia, Tak Terjamah Virus Corona dan Bisa Dengar Suara Rumput

Kisah Pulau Paling Terpencil di Dunia, Tak Terjamah Virus Corona dan Bisa Dengar Suara Rumput

Global
Seorang Anak 11 Tahun Bunuh Diri Diduga karena Game Online 'Tantangan Horor'

Seorang Anak 11 Tahun Bunuh Diri Diduga karena Game Online "Tantangan Horor"

Global
Kisah Misteri: Peter Stumpp, Manusia Serigala dari Bedburg

Kisah Misteri: Peter Stumpp, Manusia Serigala dari Bedburg

Global
Akan Pulang ke Rusia, Alexei Navalny Ancam Putin

Akan Pulang ke Rusia, Alexei Navalny Ancam Putin

Global
Di Luar Dugaan, Angka Kematian Akibat Covid-19 di Benua Afrika Lebih Rendah dari Lainnya

Di Luar Dugaan, Angka Kematian Akibat Covid-19 di Benua Afrika Lebih Rendah dari Lainnya

Global
Format Debat Capres AS Akan Diganti, Ini Tanggapan Timses Trump dan Biden

Format Debat Capres AS Akan Diganti, Ini Tanggapan Timses Trump dan Biden

Global
Debat Pertama Pilpres AS Kacau, Formatnya Akan Diganti

Debat Pertama Pilpres AS Kacau, Formatnya Akan Diganti

Global
Biden Sebut 'Insya Allah' Saat Tanggapi Masalah Pajak Trump dalam Debat Capres AS Pertama

Biden Sebut "Insya Allah" Saat Tanggapi Masalah Pajak Trump dalam Debat Capres AS Pertama

Global
Keracunan Novichok, Alexei Navalny Tuduh Putin Dalangnya

Keracunan Novichok, Alexei Navalny Tuduh Putin Dalangnya

Global
Inggris Akan Langgar Ketentuan Brexit, Uni Eropa Tempuh Jalur Hukum

Inggris Akan Langgar Ketentuan Brexit, Uni Eropa Tempuh Jalur Hukum

Global
Seorang Wanita Muslim Hamil Diinjak dan Ditinju di Kafe oleh Seorang Pria Islamofobia

Seorang Wanita Muslim Hamil Diinjak dan Ditinju di Kafe oleh Seorang Pria Islamofobia

Global
Pengakuan 'Twitter Killer', Bunuh 9 Orang via Media Sosial dan Mutilasi Korbannya

Pengakuan "Twitter Killer", Bunuh 9 Orang via Media Sosial dan Mutilasi Korbannya

Global
Dubes RI Hajriyanto: Krisis Mengubah Budaya Politik di Lebanon

Dubes RI Hajriyanto: Krisis Mengubah Budaya Politik di Lebanon

Global
komentar
Close Ads X