Pejabat Kemhan AS: Rusia dan China Kembangkan Rudal Canggih

Kompas.com - 29/07/2020, 15:39 WIB
Ilustrasi uji coba rudal Rusia. Sputnik via Russian TodayIlustrasi uji coba rudal Rusia.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Kementerian Pertahanan Amerika Serikat ( AS) menuding Rusia dan China secara aktif mengembangkan sistem pertahanan rudal yang semakin canggih.

Dilansir dari situs resmi pemerintah Rusia TASS, Selasa (29/7/2020), hal itu diungkapkan oleh seorang pejabat Kementerian Pertahanan AS yang tidak ingin disebutkan namanya.

"China dan Rusia sedang mengembangkan sistem pertahanan rudal yang semakin canggih dan banyak,” kata dia.

Dia menambahkan rudal-rusal tersebut akan diintegrasikan ke dalam strategi pertahanan kedua negara tersebut sebagai persaingannya dengan AS.

Baca juga: Iran Hujani Tiruan Kapal Induk AS dengan Rudal

Menurut pejabat itu, pertahanan rudal menjadi elemen yang penting dalam persaingan antar-negara adidaya.

Pejabat itu menambahkan bahwa China sangat bergantung kepada kemampuan rudal Rusia untuk saat ini.

“Orang China tekun mempelajari masalah dan telah berinvestasi dalam penelitian untuk membangun kemampuan mereka sendiri,” lanjutnya.

Utusan Khusus Presiden AS untuk Pengendalian Senjata Marshall Billingslea mengatakan bahwa AS tidak akan melakukan komitmen apa pun dalam domain pertahanan rudal selama pembicaraan dengan Rusia.

Baca juga: Rusia Selesaikan Uji Coba Rudal Hipersonik yang Bisa Hancurkan Pertahanan AS

Diberitakan sebelumnya Rusia disebut sudah menyelesaikan uji coba rudal hipersonik, Zircon, yang diklaim bisa menghancurkan pertahanan AS.

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Pertahanan Rusia, tes itu selesai setelah rudal tersebut ditembakkan dari kapal fregat Admiral Gorshkov.

Rudal itu dilaporkan bisa melaju hingga enam kali kecepatan suara dan terbang sejauh 965 kilometer, di mana bisa menghantam target dalam tujuh menit.

Baca juga: Jual Komponen Rudal ke Taiwan, China Beri Sanksi Lockheed Martin

Jatuh Rudal hipersonik Zircon dilaporkan dikembangkan selama 20 tahun dan menjadi senjata utama baru dalam pemerintahan Presiden Vladimir Putin.

Senjata itu didesain untuk menyerang target baik di darat maupun kapal dan bisa segera diangkut ke kapal fregat terbaru Rusia sebagaimana dilansir dari Asia Times via The Sun, Minggu (26/7/2020).


Sumber The Sun,TASS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peserta Ujian Masuk Universitas Langsung Didiskualifikasi karena Menolak Menggunakan Masker dengan Benar

Peserta Ujian Masuk Universitas Langsung Didiskualifikasi karena Menolak Menggunakan Masker dengan Benar

Global
Di Korea Utara, Menonton Drakor Bisa Dipenjara 15 Tahun

Di Korea Utara, Menonton Drakor Bisa Dipenjara 15 Tahun

Global
Film Dokumenter Ungkap Dokter di Wuhan Diminta Bohong soal Covid-19

Film Dokumenter Ungkap Dokter di Wuhan Diminta Bohong soal Covid-19

Global
Ikuti Gaya NATO, Iran Bakal Buat Pakta Pertahanan Bersama Sekutunya

Ikuti Gaya NATO, Iran Bakal Buat Pakta Pertahanan Bersama Sekutunya

Global
Ada Kasus Virus Corona, Ibu Kota China Lockdown Parsial

Ada Kasus Virus Corona, Ibu Kota China Lockdown Parsial

Global
Kenapa Grasi Donald Trump “Berbeda” dari Pemimpin Dunia Lainnya?

Kenapa Grasi Donald Trump “Berbeda” dari Pemimpin Dunia Lainnya?

Global
Salinan Lukisan Salvator Mundi Dicuri dan Ditemukan di Lemari Kamar

Salinan Lukisan Salvator Mundi Dicuri dan Ditemukan di Lemari Kamar

Global
Buktikan Dirinya Sehat, Putin Ceburkan Diri ke Air Bersuhu Minus 17 Derajat Celsius

Buktikan Dirinya Sehat, Putin Ceburkan Diri ke Air Bersuhu Minus 17 Derajat Celsius

Global
Fakta Donald Trump Presiden AS Pertama 'Tidak Memulai Perang Baru' dalam Dekade Terakhir

Fakta Donald Trump Presiden AS Pertama "Tidak Memulai Perang Baru" dalam Dekade Terakhir

Global
Pendiri WikiLeaks Julian Assange Tidak Termasuk dalam Daftar Nama yang Diampuni Trump

Pendiri WikiLeaks Julian Assange Tidak Termasuk dalam Daftar Nama yang Diampuni Trump

Global
Menlu AS: China Lakukan Genosida terhadap Etnik Uighur di Xinjiang

Menlu AS: China Lakukan Genosida terhadap Etnik Uighur di Xinjiang

Global
Warga Desa di India Bergembira Jelang Pelantikan Wapres AS Terpilih Kamala Harris

Warga Desa di India Bergembira Jelang Pelantikan Wapres AS Terpilih Kamala Harris

Global
Thailand Ancam Hukum Penyebar Berita Vaksin Palsu, Setelah Dikritik Soal Vaksin Covid-19

Thailand Ancam Hukum Penyebar Berita Vaksin Palsu, Setelah Dikritik Soal Vaksin Covid-19

Global
Buka Pijat Plus-plus Saat Lockdown, Kakek di Singapura Diringkus Polisi

Buka Pijat Plus-plus Saat Lockdown, Kakek di Singapura Diringkus Polisi

Global
Presiden Trump Ampuni 73 Orang Sebelum Meninggalkan Gedung Putih

Presiden Trump Ampuni 73 Orang Sebelum Meninggalkan Gedung Putih

Global
komentar
Close Ads X