Shalat Jumat Pertama di Hagia Sophia Resmi Digelar

Kompas.com - 24/07/2020, 18:30 WIB
Jemaah menunggu dimulainya shalat Jumat di luar Masjid Agung Hagia Sophia, pada Jumat (24/7/2020). Untuk pertama kalinya Hagia Sophia menggelar shalat Jumat dalam 86 tahun terakhir, usai statusnya diubah lagi menjadi masjid pada 10 Juli 2020. REUTERS/UMIT BEKTASJemaah menunggu dimulainya shalat Jumat di luar Masjid Agung Hagia Sophia, pada Jumat (24/7/2020). Untuk pertama kalinya Hagia Sophia menggelar shalat Jumat dalam 86 tahun terakhir, usai statusnya diubah lagi menjadi masjid pada 10 Juli 2020.

ISTANBUL, KOMPAS.com - Beberapa ribu orang termasuk Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengikuti shalat Jumat pertama yang digelar di Hagia Sophia, sejak kontroversi alihfungsi bangunan ini mencuat.

Ini adalah ibadah umat Islam yang dilakukan setelah adanya putusan 10 Juli yang mencabut status museum dari bangunan era Bizantium ini, yang sudah berjalan sejak 1934.

Melansir AFP pada Jumat (24/7/2020), Erdogan membacakan sebuah ayat dari Al-Quran sebelum adzan shalat dikumandangkan dari empat menara Hagia Sophia.

Baca juga: Turki Tunjuk 3 Imam untuk Masjid Agung Hagia Sophia, Salah Satunya Profesor Hukum Islam

Sebelumnya diberitakan, shalat Jumat pertama ini dipimpin oleh Ali Erba ketua direktur keagamaan, lapor harian Turki Hürriyet.

Kemudianm, karpet yang dipakai untuk shalat Jumat diproduksi di Provinsi Manisa, salah satu pabrik karpet pertama di Turki, kata surat kabar itu.

"Terbuat dari bulu domba 100 persen, karpet hijau yang dipasang dengan motif Ottoman abad ke-17."

Baca juga: AS Borong 8 Jet Tempur F-35, padahal Awalnya Dipesan Turki

Bangunan berusia 1.500 tahun ini semula adalah katedral yang dijadikan masjid lalu museum dan jadi masjid lagi.

Hal itulah yang membuat Paus "sangat sedih," ketika Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid oleh pemerintahan Erdogan.

Sekitar 1.000 orang diperkirakan akan mengikuti salat Jumat pertama dalam 86 tahun.

Baca juga: Turki Siap Undang Paus Fransiskus ke Hagia Sophia

Pada 1934, di bawah kepemimpinan Presiden Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki modern setelah jatuhnya Ottoman, masjid itu dijadikan museum.

Halaman:

Sumber AFP
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jaminan Ditolak, Pahlawan Hotel Rwanda Dijatuhi 13 Dakwaan Termasuk Terorisme

Jaminan Ditolak, Pahlawan Hotel Rwanda Dijatuhi 13 Dakwaan Termasuk Terorisme

Global
Pejabat AS Ini Sebut Hezbollah 'Timbun' Amonium Nitrat di Eropa

Pejabat AS Ini Sebut Hezbollah "Timbun" Amonium Nitrat di Eropa

Global
Pesan Tersembunyi AS, 2 Kali dalam 2 Bulan Kunjungi Taiwan di Tengah Hubungan Memanas dengan China

Pesan Tersembunyi AS, 2 Kali dalam 2 Bulan Kunjungi Taiwan di Tengah Hubungan Memanas dengan China

Global
Diplomat AS Kunjungi Taiwan Lagi, China Gelar Latihan Militer di Dekatnya

Diplomat AS Kunjungi Taiwan Lagi, China Gelar Latihan Militer di Dekatnya

Global
Trump: Hasil Pemilihan Presiden AS 2020 Tidak Akan Akurat

Trump: Hasil Pemilihan Presiden AS 2020 Tidak Akan Akurat

Global
Covid-19 Mereda, Kasus Infeksi Harian di Singapura Sentuh Angka Terendah dalam 6 Bulan

Covid-19 Mereda, Kasus Infeksi Harian di Singapura Sentuh Angka Terendah dalam 6 Bulan

Global
Tim Kampanye Trump Bantah Tuduhan Pelecehan Seksual dari Mantan Model Amy Dorris

Tim Kampanye Trump Bantah Tuduhan Pelecehan Seksual dari Mantan Model Amy Dorris

Global
Eks Asisten Utama Wapres AS Klaim Trump Sebut Wabah Covid-19 'Suatu Hal yang Bagus', Kenapa?

Eks Asisten Utama Wapres AS Klaim Trump Sebut Wabah Covid-19 'Suatu Hal yang Bagus', Kenapa?

Global
Bagaimana 5 Pandemi Terburuk dalam Sejarah Berakhir?

Bagaimana 5 Pandemi Terburuk dalam Sejarah Berakhir?

Global
Kekerasan Seksual di Mesir, Melawan Budaya Diam

Kekerasan Seksual di Mesir, Melawan Budaya Diam

Global
AS Targetkan 100 Juta Tes Covid-19 Antigen yang Murah dan Cepat

AS Targetkan 100 Juta Tes Covid-19 Antigen yang Murah dan Cepat

Global
[POPULER GLOBAL] Negara Kaya Disebut Sudah Borong Lebih dari Setengah Calon Vaksin Covid-19 | 'Nasionalisme Vaksin' Berdampak pada COVAX, Ini Faktanya...

[POPULER GLOBAL] Negara Kaya Disebut Sudah Borong Lebih dari Setengah Calon Vaksin Covid-19 | "Nasionalisme Vaksin" Berdampak pada COVAX, Ini Faktanya...

Global
Setelah November Parlemen Eropa Tidak Akui Alexander Lukashenko Sebagai Presiden Belarusia

Setelah November Parlemen Eropa Tidak Akui Alexander Lukashenko Sebagai Presiden Belarusia

Global
AS Blokir Sebagian Ekspor China Produksi Xinjiang karena Dugaan Pelanggaran HAM

AS Blokir Sebagian Ekspor China Produksi Xinjiang karena Dugaan Pelanggaran HAM

Global
Perbedaan PM India Narendra Modi dan Trump di Tengah Dampak Krisis Virus Corona

Perbedaan PM India Narendra Modi dan Trump di Tengah Dampak Krisis Virus Corona

Global
komentar
Close Ads X