Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Jerman Akan Terapkan Lockdown Baru

Kompas.com - 17/07/2020, 14:11 WIB
Seorang petugas kesehatan dalam pakaian pelindung mengambil sampel dari mulut pengemudi kendaraan di pos pengujian virus corona yang didirikan di bekas bandara militer Guetersloh pada 30 Juni 2020.
Angkatan Bersenjata Jerman dan organisasi bantuan telah mendirikan pos, di mana orang dapat diuji Covid-19 setelah wabah corona di pabrik daging Toennies. INA FASSBENDER / AFPSeorang petugas kesehatan dalam pakaian pelindung mengambil sampel dari mulut pengemudi kendaraan di pos pengujian virus corona yang didirikan di bekas bandara militer Guetersloh pada 30 Juni 2020. Angkatan Bersenjata Jerman dan organisasi bantuan telah mendirikan pos, di mana orang dapat diuji Covid-19 setelah wabah corona di pabrik daging Toennies.

BERLIN, KOMPAS.com - Pemerintah federal dan regional Jerman pada Kamis (16/7/2020) menetapkan langkah-langkah lockdown yang lebih ketat untuk menahan penyebaran infeksi Covid-19 di dalam negeri, dan mencegah gelombang kedua Covid-19.

Melansir dari AFP pada Kamis (16/7/2020), berdasarkan kesepakatan pemerintah federal dan regional tersebut, aturan lockdown baru memberikan larangan perjalanan "masuk dan keluar dari daerah yang terdampak virus corona" untuk membatasi penyebaran virus.

Langkah tersebut diambil ketika negara-negara di seluruh dunia juga menerapkan hal yang sama, dengan melihat jumlah kasus Covid-19 secara global mengalami lonjakan.

Jerman sendiri termasuk negara yang tidak terlalu terdampak pandemi global ini, dibanding banyak negara tetangganya.

Baca juga: Warga Bandel Sepelekan Virus Corona, Melbourne Lockdown Lagi

Sementara itu, lockdown yang diterapkan pemerintah Jerman berfokus terhadap daerah yang terdampak Covid-19 saja, karena belajar dari pengalaman lockdown sebelumnya yang terlalu luas mencakup seluruh kota dan distrik.

Pemerintah Jerman merasa akan lebih efektif untuk menekan penyebaran infeksi dengan melacak dan menguji kontak virus di suatu daerah dengan cepat, kemudian menerapkan lockdown di daerah terdampak infeksi tersebut.

Kanselir Jerman Angela Merkel pada Selasa (14/7/2020) menyuarakan dukungan untuk larangan bepergian masuk dan keluar dari daerah pusat penyebaran virus corona.

Dia mengatakan bahwa "lebih baik bagi warga negara" untuk memiliki kepastian daripada ditolak masuk ke hotel pada saat kedatangan.

Baca juga: Dikira Bakal Meninggal, Pasien Ini Justru Pulih dari Virus Corona

Bantuan militer

Aturan yang disepakati pada Kamis (16/7/2020) kemarin, menyatakan bahwa larangan bepergian ke suatu daerah harus diberlakukan "jika jumlah kasus terus meningkat dan tidak ada kepastian bahwa rantai infeksi telah putus" di daerah yang terkena dampak tersebut.

Siapa pun yang ingin meninggalkan lokasi lockdown untuk pergi ke negara lain harus dapat menunjukkan tes negatif virus corona dalam jangka waktu kurang dari 48 jam.

Halaman:
Baca tentang

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penjaga Konsulat Perancis di Jeddah Ditikam Seorang Warga Arab Saudi

Penjaga Konsulat Perancis di Jeddah Ditikam Seorang Warga Arab Saudi

Global
3 Korban Tewas dalam Penyerangan Pisau di Perancis, Salah Satunya Dipenggal

3 Korban Tewas dalam Penyerangan Pisau di Perancis, Salah Satunya Dipenggal

Global
Demi Belikan Anaknya Perman dan Baju, Ibu Ini Jual Bayi Baru Lahir Rp 4,7 Juta

Demi Belikan Anaknya Perman dan Baju, Ibu Ini Jual Bayi Baru Lahir Rp 4,7 Juta

Global
Penusukan di Gereja Nice Perancis, Pelaku Ditahan, Presiden Rapat Darurat

Penusukan di Gereja Nice Perancis, Pelaku Ditahan, Presiden Rapat Darurat

Global
Al-Qaeda Masih 'Terikat Kuat' dengan Taliban, Akankah Perdamaian di Afghanistan Tercapai?

Al-Qaeda Masih "Terikat Kuat" dengan Taliban, Akankah Perdamaian di Afghanistan Tercapai?

Global
Terjadi Penusukan di Gereja Perancis, 2 Tewas dan Beberapa Luka-luka

Terjadi Penusukan di Gereja Perancis, 2 Tewas dan Beberapa Luka-luka

Global
Paus Fransiskus Sebut Covid-19 sebagai 'Perempuan yang Harus Dipatuhi'

Paus Fransiskus Sebut Covid-19 sebagai "Perempuan yang Harus Dipatuhi"

Global
Perang Yaman Memanas, Ibu Kota Arab Saudi Bisa Jadi Target Rudal

Perang Yaman Memanas, Ibu Kota Arab Saudi Bisa Jadi Target Rudal

Global
Dipenjara 17 Tahun, Eks Presiden Korsel Akan Habiskan Sisa Hidup di Balik Jeruji Besi

Dipenjara 17 Tahun, Eks Presiden Korsel Akan Habiskan Sisa Hidup di Balik Jeruji Besi

Global
Demi Mendapat Herd Immunity, Ilmuwan Ini 2 Kali Terpapar Covid-19

Demi Mendapat Herd Immunity, Ilmuwan Ini 2 Kali Terpapar Covid-19

Global
Siapa Sosok Pemimpin Sekte Seks 'Nxivm' yang Dihukum Penjara 120 tahun?

Siapa Sosok Pemimpin Sekte Seks 'Nxivm' yang Dihukum Penjara 120 tahun?

Global
AS akan Cari 'Cara Baru' Jalin Kerja sama dengan Indonesia di Laut China Selatan

AS akan Cari "Cara Baru" Jalin Kerja sama dengan Indonesia di Laut China Selatan

Global
Jet Tempur Tua Rusak Saat Terbang, Pilot Taiwan Tewas Jatuh di Laut

Jet Tempur Tua Rusak Saat Terbang, Pilot Taiwan Tewas Jatuh di Laut

Global
Trump atau Biden, Siapa yang Lebih Disukai Warga Arab di Timur Tengah?

Trump atau Biden, Siapa yang Lebih Disukai Warga Arab di Timur Tengah?

Global
Mata dan Tubuh Ditato, Lidah Dibelah, Wanita Ini Sebut Dirinya Naga Putih Bermata Biru

Mata dan Tubuh Ditato, Lidah Dibelah, Wanita Ini Sebut Dirinya Naga Putih Bermata Biru

Global
komentar
Close Ads X