Spanyol Beri Penghormatan kepada 28.400 Korban Meninggal Covid-19

Kompas.com - 16/07/2020, 15:27 WIB
Raja Spanyol Felipe, Ratu Letizia, dan Putri Leonor ketika meletakkan bunga dalam upacara penghormatan bagi korban meninggal Covid-19 di Istana Kerajaan Madrid, 16 Juli 2020. REUTERS PHOTO/SERGIO PEREZRaja Spanyol Felipe, Ratu Letizia, dan Putri Leonor ketika meletakkan bunga dalam upacara penghormatan bagi korban meninggal Covid-19 di Istana Kerajaan Madrid, 16 Juli 2020.

MADRID, KOMPAS.com - Pemerintah Spanyol dilaporkan memberikan penghormatan bagi sekitar 28.400 korban meninggal Covid-19 pada Kamis (16/7/2020).

Upacara itu terjadi tiga pekan setelah mereka mencabut lockdown, dengan otoritas kesehatan mencatatkan adanya lebih dari 120 kasus baru.

Yang paling mengkhawatirkan dari kenaikan kasus itu terjadi di kota Lerida, dengan pemerintah regional Catalan memerintahkan 160.000 orang dikarantina.

Baca juga: Pengantin Wanita, Ibunya dan 22 Tamu Undangan Positif Covid-19, Kawasan Wisata Spanyol Banyak Ditutup

Selain Catalan, pemerintah regional lain mengetatkan pencegahan Covid-19, dengan masker wajib dikenakan. Bahkan sekal pun sudah dalam jarak aman.

Dukungan diplomatik

Mereka yang datang dalam upacara penghormatan untuk korban meninggal virus corona antara lain Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, serta diplomat Uni Eropa Josep Borrell.

Juru bicara Badan Kesehatan Dunia menerangkan, Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus juga akan bertolak ke Spanyol.

"Kedatangannya untuk menghormati banyaknya orang yang tewas karena wabah itu, dan menunjukkan dukungan kami untuk memeranginya," jelas juru bicara tersebut.

Selama momen peringatan, orkestra memainkan lagu kebangsaan Spanyol dan juga komposisi Johannes Brahms, Sacred Song, dengan keluarga korban akan memberi kesaksian.

Pemerintah, yang sempat dikritik atas penanganannya terhadap wabah, mendeklarasikan 10 hari masa berkabung pada akhir Mei lalu.

Baca juga: Hidup di Masa Flu Spanyol, Pasien 106 Tahun Ini Selamat dari Covid-19

Masa berkabung tersebut merupakan yang terlama sejak Negeri "Matador" kembali ke negara demokrasi, pasca-tumbangnya kedikatoran Jenderal Franco 1975 silam.

Halaman:
Baca tentang

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengadilan Bebaskan Petinggi Partai Berkuasa yang Terlibat Kasus Pembongkaran Masjid Kuno Abad ke-16

Pengadilan Bebaskan Petinggi Partai Berkuasa yang Terlibat Kasus Pembongkaran Masjid Kuno Abad ke-16

Global
Barter Foto Seksi dengan Diskon Baju, Hakim Ini Diperiksa

Barter Foto Seksi dengan Diskon Baju, Hakim Ini Diperiksa

Global
Suara Ledakan Dahsyat Terdengar di Seluruh Kota Paris, Gedung-gedung Bergetar

Suara Ledakan Dahsyat Terdengar di Seluruh Kota Paris, Gedung-gedung Bergetar

Global
Kesal dengan Istri, Pria Ini Panjat Menara Seluler dan Menolak Turun

Kesal dengan Istri, Pria Ini Panjat Menara Seluler dan Menolak Turun

Global
Azerbaijan Mengaku Bunuh dan Lukai 2.300 Tentara Armenia di Nagorny Karabakh

Azerbaijan Mengaku Bunuh dan Lukai 2.300 Tentara Armenia di Nagorny Karabakh

Global
Perempuan Berdaya: Bagaimana Standar Kecantikan Berevolusi dari Era Primitif hingga Sekarang

Perempuan Berdaya: Bagaimana Standar Kecantikan Berevolusi dari Era Primitif hingga Sekarang

Global
Wali Kota Ini Menang Pilkada 2 Minggu Setelah Meninggal karena Covid-19

Wali Kota Ini Menang Pilkada 2 Minggu Setelah Meninggal karena Covid-19

Global
Gadis Kasta Dalit Tewas Diperkosa, Aktivis yang Berunjuk Rasa Ditangkap Aparat India

Gadis Kasta Dalit Tewas Diperkosa, Aktivis yang Berunjuk Rasa Ditangkap Aparat India

Global
Keterlibatan Jerman dalam Aksi Pembantaian Massal Pasca G30S-1965 di Indonesia

Keterlibatan Jerman dalam Aksi Pembantaian Massal Pasca G30S-1965 di Indonesia

Global
Kesal Diselingkuhi, Wanita Ini Siram Air Mendidih ke Selangkangan Pacarnya

Kesal Diselingkuhi, Wanita Ini Siram Air Mendidih ke Selangkangan Pacarnya

Global
Pencarian Google 'Cara Pindah ke Kanada' Warnai Debat Perdana Pilpres AS

Pencarian Google "Cara Pindah ke Kanada" Warnai Debat Perdana Pilpres AS

Global
Kuwait Angkat Sumpah Jabatan Emir Baru, Syekh Nawaf Al Ahmad Al Sabah

Kuwait Angkat Sumpah Jabatan Emir Baru, Syekh Nawaf Al Ahmad Al Sabah

Global
Muncul di Depat Capres AS, Siapa Sebenarnya Antifa dan Proud Boys?

Muncul di Depat Capres AS, Siapa Sebenarnya Antifa dan Proud Boys?

Global
Vanuatu Tanggapi Komentar Rasis dari Indonesia: Terlihat Terkoordinasi

Vanuatu Tanggapi Komentar Rasis dari Indonesia: Terlihat Terkoordinasi

Global
Dari 'Supremasi Kulit Putih' sampai 'Rasisme', Ini Daftar Kata yang Paling Banyak Dicari Pasca Debat Perdana Capres AS

Dari 'Supremasi Kulit Putih' sampai 'Rasisme', Ini Daftar Kata yang Paling Banyak Dicari Pasca Debat Perdana Capres AS

Global
komentar
Close Ads X