Kompas.com - 13/07/2020, 12:31 WIB
Brenton Tarrant. Teroris yang bertanggung jawab dalam tragedi penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru, ketika berada di Pengadilan Distrik Christchurch pada 16 Maret 2019, atau sehari setelah serangan di dua masjid yang menewaskan 51 jemaah. Mark Mitchell/New Zealand Herald/Pool via REUTERSBrenton Tarrant. Teroris yang bertanggung jawab dalam tragedi penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru, ketika berada di Pengadilan Distrik Christchurch pada 16 Maret 2019, atau sehari setelah serangan di dua masjid yang menewaskan 51 jemaah.

WELLINGTON, KOMPAS.com - Pelaku penembakan massal di masjid Selandia Baru dilaporkan memecat pengacaranya, di mana dia berniat mewakili dirinya sendiri.

Keputusan itu menimbulkan kekhawatiran. Sebab, diyakini dia akan menggunakan sidang putusan untuk mempromosikan supremasi kulit putih.

Brenton Tarrant, seorang warga Australia, akan menghadapi sidang vonis pada 24 Agustus untuk 51 dakwaan pembunuhan, kemudian 40 percobaan pembunuhan, dan satu terorisme.

Baca juga: Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru Dikenai Pasal Terorisme

Dakwaan itu diberikan buntut kejahatannya menembaki jamaah dua masjid di Christchurh, Selandia Baru, yang sedang melaksanakan Shalat Jumat pada 15 Maret 2019.

Dilansir AFP Senin (13/7/2020), dia mengaku bersalah atas perbuatan yang menewaskan 51 orang di Masjid Al Noor dan Linwood itu.

Dalam sidang pra-putusan, Hakim Tinggi Cameron Mander mengizinkan dua pengacara Tarrant, Shane Tait dan Jonathan Hudson, untuk mundur sesuai permintaan klien mereka.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski begitu, Hakim Mander memerintahkan "standby counsel" untuk bersiaga jika saja sang teroris, yang hadir lewat telekonferensi, mengubah pikirannya.

Keputusan teroris yang dipenjara di Auckland itu menuai pertanyaan dari Presiden Asosiasi Muslim Selandia Baru, Ikhlaq Kashkari.

Dia mengatakan jika Tarrant sampai muncul sendiri di depan sidang tanpa didampingi kuasa hukum, korban penembakan bisa kembali trauma.

"Sikap saya setelah membaca kabar ini 'Ya Tuhan, apa maksudnya ini, apa dia bakal menggunakan tempat ini untuk mempromosikan pemikirannya?'," tanya Kashkari.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X