Aktivis Hong Kong Perjuangkan Demokrasi Lewat Suara Internasional

Kompas.com - 03/07/2020, 22:24 WIB
Nathan Law (23), tokoh mahasiswa dalam aksi Occupy Hongkong 2014, kini menjadi salah satu anggota parlemen negeri kota itu. ANTHONY WALLACE / AFPNathan Law (23), tokoh mahasiswa dalam aksi Occupy Hongkong 2014, kini menjadi salah satu anggota parlemen negeri kota itu.

BEIJING, KOMPAS.com - Aktivis pro-demokrasi Nathan Law berjanji untuk terus memperjuangkan masa depan demokrasi Hong Kong. Meskipun saat ini dia tengah melarikan diri dari kota untuk menyelamatkan diri.

Mantan anggota parlemen dan pemimpin Gerakan Payung 2014, meninggalkan Hong Kong setelah pemerintah pusat China memberlakukan UU Keamanan Nasional yang kontroversial di wilayah tersebut.

"Saya pikir dalam masa genting ini kita tidak dapat meninggalkan gerakan internasional, dan kita membutuhkan tokoh publik di level internasional untuk melakukan pekerjaan advokasi internasional," kata Law seperti yang dilansir dari CNN (3/7/2020).

"Saya akan melanjutkan pekerjaan advokasi saya tidak peduli seberapa besar ancaman pemerintah," tegasnya.

Baca juga: Buntut UU Keamanan Nasional, Inggris Panggil Dubes China

Law meninggalkan Hong Kong segera setelah berbicara kepada panel Kongres AS melalui tautan video.

Aktivis itu mengatakan, dia tahu bahwa berbicara dengan anggota parlemen di Washington DC tentang masalah UU itu akan membantu dia mencapai tujuannya.

Berbicara kepada CNN, Law mengatakan telah menolak banyak saran untuk ia meninggalkan rekan-rekan aktivis pro-demokrasinya.

Ia mengatakan bahwa teman-temannya memahami perlunya sosok internasional untuk angkat suara atas nama Hong Kong di panggung global.

Baca juga: UU Keamanan Nasional untuk Hong Kong Dinilai Lebih Kejam dari Dugaan

DPR AS dengan suara bulat ia katakan, telah menjatuhkan sanksi baru kepada Hong Kong dan pejabat China yang bertanggung jawab atas UU Keamanan Nasional, yang nantinya akan segera ditindaklanjuti oleh Senat.

UU Otonomi Hong Kong akan menjatuhkan sanksi pada pelaku usaha dan individu yang membantu China membatasi otonomi Hong Kong.

Halaman:

Sumber CNN
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Krisis Politik Setelah Ledakan di Beirut, Pemerintah Lebanon Berniat Mundur

Krisis Politik Setelah Ledakan di Beirut, Pemerintah Lebanon Berniat Mundur

Global
WHO Prediksi Kasus Covid-19 di Dunia Bakal Tembus 20 Juta Pekan Ini

WHO Prediksi Kasus Covid-19 di Dunia Bakal Tembus 20 Juta Pekan Ini

Global
Akurat sejak 1984, Profesor Sejarah Ini Prediksi Trump Bakal Kalah di Pilpres AS

Akurat sejak 1984, Profesor Sejarah Ini Prediksi Trump Bakal Kalah di Pilpres AS

Global
Beri Pesan kepada Israel, Hamas Tembakkan Roket ke Laut

Beri Pesan kepada Israel, Hamas Tembakkan Roket ke Laut

Global
Korban Tewas Ledakan di Beirut, Lebanon, Diyakini Capai 200 Orang

Korban Tewas Ledakan di Beirut, Lebanon, Diyakini Capai 200 Orang

Global
Mengintip Kekuatan Tersembunyi Militer Taiwan: Jebakan di Pantai dan Dinding Api

Mengintip Kekuatan Tersembunyi Militer Taiwan: Jebakan di Pantai dan Dinding Api

Global
Nekat Gelar Pesta Kala Pandemi Virus Corona, 300 Orang Dibubarkan Polisi

Nekat Gelar Pesta Kala Pandemi Virus Corona, 300 Orang Dibubarkan Polisi

Global
Kunjungi Daerah yang Terdampak Banjir, Kim Jong Un Naik Mobil Mewah

Kunjungi Daerah yang Terdampak Banjir, Kim Jong Un Naik Mobil Mewah

Global
Pengusaha Ini Pesan Masker Termahal di Dunia Seharga Rp 22 Miliar, Bertakhtakan Emas dan Berlian

Pengusaha Ini Pesan Masker Termahal di Dunia Seharga Rp 22 Miliar, Bertakhtakan Emas dan Berlian

Global
Aksi Balasan Terkait Hong Kong, China Beri Sanksi 11 Pejabat AS

Aksi Balasan Terkait Hong Kong, China Beri Sanksi 11 Pejabat AS

Global
Kunjungi Taiwan, Menkes AS Salah Ucap Nama Presiden Tsai Jadi Xi

Kunjungi Taiwan, Menkes AS Salah Ucap Nama Presiden Tsai Jadi Xi

Global
MV Wakashio Retak, Bencana Minyak Tumpah di Mauritius Bisa Makin Parah

MV Wakashio Retak, Bencana Minyak Tumpah di Mauritius Bisa Makin Parah

Global
'Misteri Besar' Melonjaknya Kasus Virus Corona di Vietnam

"Misteri Besar" Melonjaknya Kasus Virus Corona di Vietnam

Global
[Hari Ini dalam Sejarah] Pernikahan Pertama di Luar Angkasa

[Hari Ini dalam Sejarah] Pernikahan Pertama di Luar Angkasa

Global
Palang Merah Internasional Latih 43.000 Relawan untuk Bantu Warga di Korea Utara

Palang Merah Internasional Latih 43.000 Relawan untuk Bantu Warga di Korea Utara

Global
komentar
Close Ads X